Rasmu Tidak Menentukan Islammu!

384

Oleh: Imam Shamsi Ali (Presiden Nusantara Foundation)

Di sebuah tulisan lamanya Goenawan Mohamad menggambarkan sebuah paradox aneh yang terjadi dalam dunia Arab saat ini.

Di satu sisi kebangkitan Saudi sebagai contoh membawa masalah, bahkan ancaman. Tapi di sisi lain melihat keterbelakangan masa lalu juga adalah masalah dan juga ancaman.

Kedua hal yang paradoksial itu menyatu dalam sebuah rasa ketidakamanan (sense of insecurity). Maju berbahaya. Tidak maju juga berbahaya.

Apa yang dimaksud dengan hal itu? Terbelakang menimbulkan masalah sosial dalam segala ragamnya. Salah satunya Saudi selama ini dikenal sebagai eksporter teroris di berbagai belahan dunia. Mayoritas yang dituduh sebagai pelaku 9/11 adalah warga negara Saudi.

Tapi di sisi lain kemajuan itu juga menjadi masalah karena dikontrol oleh kekuatan lain. Maka nilai-nilai sosial yang terjadi diwarnai oleh ridho atau murka orang lain. Bukan karena identitas diri sendiri.

Itulah yang disebutkan Goenawan sebagai “surprises” atau kejutan-kejutan di tanah Arab. Kemajuan Tapi keterbelakangan. Kekayaan tapi miskin. Beragama tapi jahil. Paradoks demi paradoks tumbuh silih berganti di tanah leluhur baginda Rasul itu.

Walaupun saya dalam banyak hal beda pendapat dengannya, kali ini saya cenderung setuju dengan Goenawan Mohamad. Bahwa memang apa yang sedang kita saksikan saat ini di dunia yang kerap dianggap pusat Islam itu adalah “kejutan-kejutan” (surprises).

Surprises yang mungkin saja sebagian besar umat ini “take for granted”. Tanpa pernah menyadari apa sesungguhnya yang sedang terjadi. Mereka telan mentah-mentah tanpa melihat kepada implikasi negatif dan destruktif yang ditimbulkan, baik secara politik, ekonomi, sosial budaya bahkan agama itu sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here