Ramai Pesan Kiai Ahmad Dahlan Soal Bencana, Begini Klarifikasinya!

856
Masjid Baiturrahman
Bangunan masjid Baiturrahman yang ambruk akibat tsunami di wilayah Talise, Palu Barat, Sulawesi Tengah, Ahad (29/9/2018). (Foto: Alinea.id)

Jakarta, Muslim Obsession – Di berbagai akun media sosial, sempat tersebar pesan berantai yang diklaim berasal dari pendiri Persyarikatan Muhammadiyah Kiai Haji Ahmad Dahlan.

Pesannya berisi kutipan Kiai Ahmad Dahlan yang seolah mengaitkan bencana alam oleh sebab para pemimpin. Sebaran yang diawali tulisan “PESAN KH. AHMAD DAHLAN 1 ABAD YANG LALU” tersebut menyatakan,

“Perhatikanlah alam dan bangsamu, jika di suatu bangsa yang beriman, mereka mengaku sebagai pemimpin yang baik, namun jika terjadi kerusakan akibat bencana alam yang berturut-turut, maka itu pertanda rusak pemimpinmu. Jika rusak pemimpinmu maka rusaklah tatanan masyarakatmu, mereka saling memfitnah, saling menghujat, saling mencela tak bisa terhindarkan, di saat itu Allah memberi peringatan bagimu dengan berupa musibah yang tiada henti.”

Pesan itu kemudian dikaitkan dengan kondisi dan situasi kebangsaan hari ini. Masyarakat yang rusak sebagaimana pesan Kiai Dahlan itu dianggap terjadi pada saat ini karena ada banyak berita hoax yang saling memfitnah, menghujat, mencela.

Saat seperti ini, maka Allah memberi peringatan dengan berbagai bencana alam tiada henti bagi bangsa Indonesia. Sebabnya, karena pemimpin bangsa atau presidennya dianggap telah rusak. Demikian di antara tafsiran yang berusaha disebarluaskan dengan mengatasnamakan pernyataan Kiai Dahlan.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Tarjih dan Tajdid, Prof Yunahar Ilyas menegaskan pernyataan itu belum terverifikasi keluar dari mulut Kiai Ahmad Dahlan.

Yunahar berpendapat, sepanjang pengetahuannya, belum ada tafsiran langsung yang mengaitkan bencana alam seperti tsunami atau gempa bumi dengan seorang pemimpin yang rusak.

Sebuah hadist riwayat Bukhari, dikutip Yunahar, soal kerusakan yang dikaitkan dengan kualitas pemimpin. Dalam hadis tersebut, Nabi Muhammad menyatakan jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi. Tetapi kehancuran yang dimaksud di sini adalah dalam artian luas.

Tidak secara spesifik menyatakan bencana alam. Kerusakan atau kekacauan di semua bidang, menurut sunnatullah, terjadi ketika sesuatu tidak sebagaimana mestinya prinsip keharmonisan semesta.

Sebagaimana beberapa waktu lalu, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengingatkan bahwa bencana alam bisa saja terjadi karena keadaan alam yang mengharuskan terjadinya pergerakan yang tidak seperti biasanya.

Hal itu dapat dijelaskan menurut sains secara objektif. Sesuai jatah bentang alam, Indonesia harus menerima kodrat menjadi negara yang paling rawan terhadap bencana di dunia berdasar data yang dikeluarkan oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Strategi Internasional Pengurangan Risiko Bencana (UN-ISDR). Dalam hal ini, meski manusia tidak bisa menolak musibah, tetapi resiko dari bencana bisa dikurangi dengan mitigasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here