Ramadhan itu Bulan Hidayah

317

Oleh: Imam Shamsi Ali (Presiden Nusantara Foundation)

Pada bagian sebelumnya telah disebutkan bahwa Ramadan itu memang adalah bulan berbagai kemukjizatan. Berbagai peristiwa yang pernah terjadi dalam sejarah di bulan suci ini, justeru di luar pertimbangan akal manusia biasa.

Kali ini secara khusus akan dibahas tentang mu’jizat di atas segala kemukjizatan (miracle of all miracles). Kekuatan yang telah menaklukkan berbagai kekuatan yang pernah dan masih diakui oleh manusia. Menaklukkan kehebatan sejarah, kehebatan akal, ilmu dan teknologi. Menaklukkan kehebatan ideologi apapun yang pernah timbul dipermukaan bumi ini.

Itulah Al-Quran al-Karim. Kitab yang didalamnya tiada kekurangan, tiada kesalahan, bahkan tak akan menimbulkan keraguan kecuali pada hati-hati yang tidak memilki cahaya. “Inilah Kitab yang tiada keraguan padanya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa” (Al-Quran).

Kitab yang mengandung Kalam Ilahi, yang bersifat azali (tiada awal dan tiada akhir). Kalam yang tak mengalami perubahan (tabdiil) dan bersifat sempurna (tammat).

Al-Quran sebagai mukjizat terbesar dalam sejarah peradaban itu turun di bulan Ramadan untuk membwa pula berbagai kemukjizatan. “Bulan Ramadan diturunkan di dalamnya Al-Quran sebagia petunjuk bagi manusia, dan penjelasan tentang petunjuk dan pembeda (furqan)” (Al-Quran).

Kemukjizatan Al-Quran itu meliputi segala aspeknya. Dari tata kata, kalimat hingga kepada kandungan (ajaran) semuanya bersifat “mu’jiz” atau mengalahkan semua yang lainnya.

Realita inilah yang kemudian dikuatkan sendiri oleh Al-Quran dengan tantangan terbuka. “Datangkan sebuah kitab yang sama jika kamu berada dalam kebenaran”.

Mereka gagal, Al-Quran menguranginya menjadi “sepuluh surah” saja (biasyri shuwar). Tapi sang pembangkang yang mengingkari kebenaran itu masih terus mengingkarinya. Berusaha menandingi Al-Quran dan gagal walau hanya sepuluh surah.

Al-Quran kemudian menurunkan tantangan itu: “Dan jika kamu ragu dengan apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) maka datangkan satu surah saja yang sama. Bahkan hadirkan semua yang bisa menolongmu jika kamu benar” (Al-Quran).

Tapi satu surah pun mereka gagal. Namun mereka terus dalam pembangkangan dan pengingkaran.

Pengingkaran dan pembangkangan itu akan terus berlanjut. Bahkan upaya memadamkan cahaya itu akan selalu ada. Tapi pada akhirnya cahaya tak akan pernah hilang. Justeru Dia yang yang menjadi Sumber cahaya itu mengambil tanggung jawab itu untuk meneruskan cahayanya. Walaupun pastinya ada pihak-pihak yang tidak senang.

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah. Tapi Allah terus menyempurnakan cahaya itu, walau mereka tidak senang” (Al-Quran).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here