Ramadhan Goreskan Kerinduan Mendalam Bagi Pengungsi Suriah

1044
Kondisi pengungsi Suriah di kamp pengungsian (Photo: Istimewa)

Suriah, Muslim Obsession – “Selama bulan suci, kerinduan kami untuk kembali ke rumah dan bertemu keluarga, lebih kuat dari sebelumnya,” ungkap para pengungsi Suriah yang terpaksa harus menjalankan ibadah Ramadhan di kamp-kamp pengungsian.

Jutaan pengungsi Suriah menghadapi bulan suci Ramadhan di kamp-kamp pengungsi di seluruh negeri. Sebagian besar keluarga pengungsi Suriah menceritakan kisah yang sama; pengusiran, kehilangan dan kecemasan atas masa depan yang tidak pasti.

Sejak awal tahun, terjadi evakuasi besar-besaran penduduk sipil dari empat daerah yang sebelumnya dikuasai pemberontak, yakni Ghouta Timur, Damaskus selatan, Qalamoun Timur, dan desa Homs utara.

Ini artinya, puluhan ribu orang akan sahur dan berbuka puasa untuk pertama kalinya di lingkungan yang tidak mereka kenal sama sekali.

Kondisi pengungsi Suriah di kamp pengungsian (Photo: Istimewa)

Di antaranya ialah Nour a-Sham, yang berasal dari kota Hiran Al-Awameed, Ghouta Timur. Pria berusia 24 tahun tersebut, telah mengungsi selama tujuh tahun. Dia seorang tukang kayu yang pertama kali melarikan diri ke Saqba pada tahun 2011.

Tahun ini, ia pindah lagi, dan melarikan diri ke Zamalka sebelum akhirnya dievakuasi ke Idlib di daerah Maarat a-Numan. Di sana, a-Sham tinggal bersama keluarganya di sebuah kamar tidur gratis dari penduduk setempat.

Sejenak, dia mengenang bagaimana dulu ia merayakan Ramadhan di Ghouta Timur. Bersama teman dan tetangga yang selalu membanjiri rumahnya. Dia dan keluarganya akan menyiapkan dan menyajikan berbagai makanan tradisional untuk berbuka puasa bersama saat matahari terbenam.

Sekarang, sebagai pengungsi baru di Idlib, a-Sham merasa semuanya berubah drastis. Dia hanya bisa berdoa, bahwa ini akan menjadi Ramadhan terakhir keluarganya di tempat pengungsian.

“Kami berharap bisa kembali ke kota kami. Agar kami dapat berkumpul dengan keluarga. Karena hidup sangat sulit di sini,” harapnya, seperti dilansir Syria Direct, Jumat (18/5/2018).

Selain a-Sham, ialah Malik Bardan, pria berusia 31 tahun tersebut berasal dari provinsi Daraa dan dievakuasi ke pedesaan Aleppo. Dia terpaksa meninggalkan istrinya yang sedang hamil dan putra berusia 18 bulan.

Bardan sangat merasa seperti orang asing sejak tiba satu minggu lalu di pedesaan Aleppo utara. Yakni sekitar 350 kilometer di utara rumahnya di distrik selatan ibu kota Suriah. Mantan aktivis itu naik bus yang dioperasikan pemerintah untuk berangkat dari Damaskus selatan yang terkepung.

“Istri dan putraku tetap tinggal di ibu kota di rumah mertuanya. Agar mereka tidak kelelahan karena evakuasi,” kata Bardan.

Hari ini, saat Ramadhan baru saja dimulai, Bardan mengingat saat di mana ia berbuka puasa bersama keluarganya. Kemudian berkunjung ke rumah kerabat dan berkumpul bersama teman-temannya hingga larut malam.

Kondisi pengungsi Suriah di kamp pengungsian (Photo: Istimewa) 

Senada dengan Faris Al-Munajid, pria berusia 35 tahun ini mengungsi bersama istri dan putrinya di Qalamoun Timur beberapa waktu lalu. Saat ini mereka tinggal di kota Afrin yang mayoritas penduduknya Kurdi. Yaitu di wilayah barat laut Suriah yang dikuasai oleh pemberontak pro-Turki.

Di Qalamoun Timur, Ramadhan datang dengan perasaan khusus. Karena dia kehilangan pekerjaan dan masih menganggur. Meskipun kehidupannya sekarang baru dan keras, dia tetap bersyukur.

“Allah telah memberkahi kita dengan kesehatan yang baik dan kehidupan yang bermartabat. Hari ini, kami hanya memikirkan bagaimana memanfaatkan waktu Ramadhan dengan sebaik-baiknya,” kata Faris, sembari terus bersyukur.

Baginya, bulan Ramadhan adalah salah satu ibadah yang bisa mendekatkan umat Muslim kepada Tuhan.

“Jadi, tidak masalah di mana kita beribadah,” tandasnya.

Sementara itu, para pengungsi lainnya mengatakan bahwa Ramadhan tahun ini adalah ujian kesabaran. Kesabaran karena dipisahkan dari kerabat, karena jauh dari rumah, dan kesabaran untuk kesulitan yang mereka derita di kamp-kamp pengungsian yang penuh sesak. (Vina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here