Raih Gelar Profesor Kehormatan di Azerbaijan, Ini Profil Cucu Pendiri Pondok Modern Gontor

2110
Husnan Bey Fananie
Duta Besar RI untuk Azerbaijan, Prof. Dr. H. Husnan Bey Fananie, MA. (Foto: Istimewa)

Baku, Muslim Obsession – Dubes RI untuk Azerbaijan, Dr. H. Husnan Bey Fannaie, MA, mendapat anugerah Profesor Kehormatan dari Azerbaijan University of Languages (AUL). Gelar yang disematkan langsung Rektor AUL, Prof. Kamal Abdullayev, itu berlangsung di Kampus AUL Baku-Azerbaijan, Rabu (4/7/2018).

Penganugerahan gelar kepada cucu KH. Zainuddin Fananie, salah seorang Trimurti (pendiri Pondok Modern Gontor), itu turut disaksikan civitas akademika AUL dan para undangan. Termasuk di antaranya lima anggota MPR/DPR RI, yang terdiri dari anggota DPR-RI Komisi X bidang pendidikan dan kebudayaan dan Komisi III bidang hukum dan HAM yang pada saat bersamaan tengah melakukan kunjungan kerja ke Baku, Azerbaijan.

Kiprah Anggota Komisi I DPR RI periode 2009-2014 ini menjembatani hubungan bilateral di bidang pendidikan menjadi alasan kuat bagi Dewan Permusyawaratan Ilmiah AUL untuk menganugerahinya gelar prestisus tersebut. Husnan menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) pertama yang meraihnya di Azerbaijan.

Setahun lalu, anugerah prestisius lainnya juga diraih mantan Asisten Pribadi Wapres RI di era Hamzah Haz tersebut. Kinerja yang positif dengan sikapnya yang low profile karena mampu bekerja sama dengan banyak kalangan, menempatkan sosok yang menguasai 5 bahasa asing ini sebagai Ambassador of the Year 2017.

 

Husnan jadi Dubes
Husnan saat dilantik menjadi Dubes RI oleh Presiden RI Joko Widodo di Istana Negara, Rabu (13/1/2016).

Santri, Abdi Bangsa

Menjadi Duta Besar RI untuk Azerbaijan adalah kebanggaan. Demikian lelaki kelahiran Jakarta, 13 November 1967 ini memaknai tugas yang diampunya sejak ditetapkan Presiden RI Joko Widodo pada 13 Januari 2016 silam.

Bukan soal prestisius, tapi tentang pengabdian seorang ‘santri’ kepada bangsa dan negaranya. Kepercayaan yang dinilainya sebagai ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla karena membawa misi sebuah negara dengan mayoritas Muslim dan terbesar di dunia.

Karier politik alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo ini terbilang spesial. Usai menamatkan studi S2 di Rijks Universiteit Leiden, Belanda, pria murah senyum ini bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Di partai berlambang Ka’bah Husnan menapaki karier spesialnya sebagai Asisten Pribadi Ketua Umum PPP dan Majelis Pakar. Tak lama, ia pun ‘dibajak’ sebagai Asisten Pribadi Wakil Presiden RI Hamzah Haz bidang pendidikan, sosial, politik, budaya, agama dan hubungan internasional (2001–2004).

Dari buku biografinya bertajuk “Menapaki Kaki-Kaki Langit” yang ditulis Imam Fathurrohman, rekam jejak Husnan terpampang gamblang. Generasi ketiga keluarga kyai Pondok Modern Gontor ini selalu merasa bangga menunjukkan jati dirinya sebagai santri. Tepatnya, santri yang berkontribusi untuk umat, bangsa, dan negara di jalur politik.

Panggung parlemen sempat dicicipi Husnan melalui proses Pergantian Antar Waktu di pertengahan periode 2009-2014. Gagal di putaran Pileg berikutnya, tak menjadi soal baginya. Ia pahami politik sebagai sebuah proses, strategi, metode, sekaligus media baginya untuk berdakwah dan beribadah secara ikhlas. Toh, di fase berikutnya, usai melalui fit and proper test, Husnan dilantik menjadi Duta Besar RI untuk Azerbaijan.

“Bagi saya, politik menjadi suatu cara penyampaian ideologi, asas, pemahaman, ide-ide keislaman. Namun demikian, harus diingat bahwa politik praktis bukan satu-satunya cara. Saya memahami bahwa politik itu sangat luas, salah satunya sebagai sarana untuk beribadah,” tandas peraih doktor di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut.

 

Husnan 3
Rektor Azerbaijan University of Languages (AUL) Prof. Kamal Abdullayev saat memberikan gelar Profesor Kehormatan kepada Dubes RI untuk Azerbaijan, Dr. H. Husnan Bey Fananie, MA di Kampus AUL Baku, Azerbaijan, Rabu (4/7/2018). (Foto: Istimewa)

Budaya Indonesia di Azerbaijan

Mengetahui Azerbaijan sebagai destinasi pengabdiannya, disambut sumringah ayah dua anak ini. Politikus PPP ini mengaku tertantang ditunjuk menjadi representasi Indonesia di negeri tepian Laut Kaspia itu. Menurutnya, salah satu negara Eropa ini punya nilai lebih dan bisa memberi keuntungan bagi Indonesia jika hubungan bilateral terjalin baik.

“Azerbaijan, sebuah negara di Asia Barat Daya. Seperti Indonesia, mayoritas masyarakat Azerbaijan adalah muslim. Untuk itu, kita seperti saudara yang jauh secara geografis tapi dekat secara kultur,” terangnya.

Kedekatan secara kultur inilah yang menjadi salah satu modal utama Husnan dalam memainkan perannya sebagai duta besar. Secara perlahan, kultur Islam khas Indonesia dikenalkannya kepada masyarakat Azerbaijan yang mayoritas adalah Muslim Syiah.

Perkenalan budaya dan produk asli Indonesia yang dilakukannya mendapat sambutan hangat. Terlebih lagi Husnan memiliki cara ampuh untuk menarik minat masyarakat Azerbaijan. Di antaranya dengan menggelar Indonesia Culture Festival (ICF) setiap tahunnya. Gelaran ini menampilkan berbagai produk, seni, dan budaya tanah air yang dilangsungkan dengan melibatkan masyarakat setempat.

Cara lainnya, Husnan rajin menyambangi perguruan-perguruan tinggi untuk memberikan kuliah umum tentang Indonesia. Termasuk juga menyambangi 35 perguruan pencak silat yang rupanya sudah menjamur di Negeri Api tersebut.

Singkatnya, kontribusi Husnan sudah sangat terasa betul di Azerbaijan. Testimoni original pun langsung diutarakan Rektor AUL, Prof. Kamal Abdullayev, saat menyematkan gelar Profesor Kehormatan kepada Husnan.

“Bapak Husnan Bey Fananie, adalah seorang Duta Besar yang memiliki kepedulian tinggi dan terus berkontribusi khususnya pada bidang pendidikan. Ia juga telah menulis banyak judul buku dan selama masa tugasnya, Duta Besar Indonesia di Baku ini telah berperan aktif dalam mendorong peningkatan kerja sama di bidang pendidikan antar dua negara,” tutur Prof. Kamal Abdullayev.

Selamat, Pak Dubes. Mabruk alfu mabruk!

(Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here