Rahasia Kenapa Kitab Kuning Melegenda

65
Santri Nurani
Para santri di Pondok Pesantren Nurani sedang mengaji kitab kuning. (Foto: Edwin B/OMG)

Oleh: M. Ishom el-Saha (Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten)

Santri memuliakan kitab kuning seringkali dianggap berlebihan. Padahal ada rahasia yang tak banyak dipahami orang tentang melegendanya kitab kuning.

Kalau tak percaya, dari abad 1 Hijriyah sudah lahir dari rahim intelektual Muslim banyak karya tulis. Tetapi kenapa ada yang “tenggelam” dan ada yang tetap masyhur dibaca generasi sekarang.

Untuk memahami rahasianya, di bawah ini disebutkan testimoni dalam kitab Ayqadh Al-Himam fi Syarh Al-Hikam, halaman 258:

“Kalau ingin pesan dan karyamu tetap dikaji oleh lintas generasi, maka jauhkan apa yang ada dalam otakmu dari susunan bahasa ibumu!” Pesan Al-Arabi kepada muridnya Al-Arif Ahmad Al-Hasani.

“Jika ternyata dengan cara ini kamu tidak bisa menorehkan gagasanmu maka jangan mimpi pesanku dan karyamu dapat sampai dan dibaca lintas generasi seperti karya-karya agung Al-Ghazali, As-Syasytiri, As-Syazdili dan sebagainya,” kata Al-Arabi.

“Karya-karya mereka tetap dikaji sampai sekarang sekalipun orangnya sudah wafat sebab gagasan mereka disampaikan tak terikat dengan struktur bahasa keseharian mereka.”

“Inilah yang disebut “Kamalul Kamal” yaitu pesan orang-orang yang telah mencapai spiritualitas sempurna. Mereka menyampaikan isi otaknya bukan dengan lisan: tetapi yang terpenting lewat daya intuitif-spiritualnya.” Demikian dijelaskan Al-Arif billah Ahmad al-Hasani.

Pengaruh kuat daya intuitif-spiritual di balik ketenaran kitab kuning dapat dipelajari melalui cerita-cerita yang mutawatir, seperti legenda kitab Al-Ajrumiyyah karya Imam As-Shanhaji, Alfiyah Ibnu Malik, dan Aqidatul Awwam karya Sayyid Ahmad Al-Marzuki.

Konon setelah menyelesaikan mengarang kitab Al-Ajrumiyyah, Imam As-Shanhaji membuang karangannya ke dasar laut. Beliau berkata: “Jika kitab ini membawa manfaat, sekalipun sudah dibuang di dasar laut, pasti akan kembali dan dibaca orang.” Perkataan itu terbukti sebab nyatanya kitab Al-Ajrumiyyah masih diterbitkan dan dibaca oleh jutaan santri di dunia.

Pengalaman berbeda terjadi pada Ibnu Malik saat telah menyelesaikan menyusun bait-bait Alfiyah. Tiba-tiba yang sudah tersusun rapi itu hilang dari ingatan sebab dalam hatinya ada rasa membanggakan diri.

Beliau ingin mengalahkan kepopuleran Alfiyah Ibnu Mu’thi. Beliau pun bertaubat dan ziarah ke makam Ibnu Mu’thi, maka barulah Alfiah Ibnu Malik seketika hadir dalam ingatan kembali sampai melegenda menjadi ilmu alat bagi santri kelas tinggi.

Begitu juga kitab Aqidatul Awwam, konon sudah pernah diselesaikan belasan tahun lamanya. Selama masa itu pula karangan ini ditinggalkan dan tidak diperhatikan oleh pengarangnya.

Hingga suatu saat ketika Sayyid Ahmad Al-Marzuki pergi haji, beliau bermimpi ketemu Rasulullah yang berpesan agar Aqidatul Awwam yang belasan tahun terpendam diajarkan kepada jamaah haji.

Dikarenakan kitab ini disusun dengan kekuatan daya intuitif-spiritual, maka yang seharusnya tak diingat Sayyid Ahmad Al-Marzuki mampu menyampaikan 100% materi kitab itu sama persis dengan yang pernah beliau susun belasan tahun sebelumnya.

Itulah rahasia legendarisnya kitab kuning yang sekarang masih dikaji di pesantren.

Wallahu A’lam bish Shawab…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here