Radikalisme Agama

261

Oleh: Hendrajit (Pengkaji Geopolitik, dan Direktur Eksekutif Global Future Institute)

Kayaknya kelompok yang membesar-besarkan radikalisme dan pro kapitalisme liberal sedang berkongsi dan bermain tiktok. Untuk menutup akar krisis nasional saat ini. Bahwa hulu penyebab pelemahan sistem kenegaraan kita adalah kapitalisme liberal. Bukan radikalisme agama.

Radikalisme agama yang sebenarnya merupakan reaksi putus asa terhadap belenggu kapitalisme global, justru dijadikan kambing hitam sebagai penyebab.

Skema kapitalisme liberal inilah yang justru berakibat krisis multi dimensi di negri kita. Ya ideologi, ya politik ekonomi, ya sosial budaya, ya pertahanan keamanan. Makanya saya nggak setuju kalau dibilang krisis negeri kita saat ini cuma krisis ekpnomi. Melainkan krisis kemanusiaan dan kebudayaan.

Anehnya, di Indonesia, paham radikalisme justru ditonjolkan seakan-akan sebagai penolakan utama terhadap negara. Ppmadahal paham-paham politik klasik dan modern tidak menyertakan radikalisme sebagai salah satu paham yang menentang kapitalisme liberalisme yang dilindungi negara. Atau ketika negara jadi boneka kaum kapitalis liberal.

Yang menarik di sini isu radikalisme selalu ditiupkan pada negara di dunia yang mempunyai kekayaan sumber daya alam (SDA) tinggi, kesenjangan ekonomi tinggi, dan adanya Islam sebagai agama yang dianut jumlah penduduk yang terbanyak.

Seharusnya semuanya, semua paham yang melawan kapitalisme dan liberalisme diberi julukan “Radikalisme”, bukannya kepada suatu golongan tertentu saja.

Makanya saya boleh dong curiga, bahwa para arsitek kapitalisme liberal yang melestarikan ketidakadilan global di seluruh dunia, justru malah mendorong terus menggoreng isu radikalisme. Seakan-akan radikalisme yang melekat pada agama yang dianut jumlah penduduk terbanyak, merupakan satu-satunya ancaman nasional.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here