Quraish Shihab: Koruptor Lebih Pantas Disebut Maling, Harus Dipermalukan

152
Prof. Quraish Shihab dan Najwa Shihab dalam Shihab & Shihab.

Jakarta, Muslim Obsession – Ulama terkemuka Quraish Shihab, tak setuju jika para pejabat yang mencuri uang rakyat disebut koruptor. Mereka lebih pantas disebut maling.

“(Sebutan) koruptor itu terlalu halus. Mereka lebih pantas disebut pencuri, (maling)” ujar Quraish dalam tayangan shihab and shihab, Ahad (29/8/2021). 

Quraish mengaku heran bila orang miskin yang mengambil yang bukan haknya malah disebut pencuri. “Kenapa kalau pejabat atau pegawai kita namai koruptor? Padahal, dia itu pencuri,” kata dia. 

Ia menambahkan koruptor sering tidak memiliki rasa malu meski sudah mengenakan rompi oranye Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Selain itu, banyak fakta membuktikan koruptor justru masih melenggang dan tertawa saat menjalani masa hukumannya. 

“Jadi, intinya koruptor harus dipermalukan, karena mereka tidak punya malu,” tutur dia. 
Lalu, cukupkah koruptor bila sekadar dijatuhi hukuman bui?

Menurut Quraish, para pelaku korupsi baru sadar bila hartanya dirampas oleh negara. Ia pun mendukung konsep koruptor harus dimiskinkan, tidak cukup hanya mengembalikan apa yang sudah dicuri. 

Bila mereka tak dimiskinkan, maka dipastikan terpidana kasus korupsi tetap dapat merasakan keuntungan dari hartanya yang diinvestaskan.

“Katakanlah (harta hasil korupsi) masuk ke bank diinvestasikan, kan ada untungnya,” ujar penulis Tafsir Al-Misbah itu.

“Jadi keuntungan yang diperoleh, walaupun bukan korupsi, harusnya diambil juga sehingga ia jadi miskin,” tutur dia lagi. 

Quraish mewanti-wanti harta yang dikumpulkan dari perbuatan korupsi sifatnya haram dan buruk. Sehingga, bila diberikan kepada anak atau keluarga, bisa berdampak buruk pada karakternya. 

Ia pun mengisahkan ada seorang ibu yang dianugerahi anak-anak sukses. Ketika ditanya apa rahasianya, ibu itu menjawab tidak pernah sekali pun memberi makan haram pada anaknya.

“Kata Nabi, setiap daging yang tumbuh dari makanan haram maka neraka tempatnya,” kata Quraish.

Ia memandang, salah satu faktor yang penting digalakkan dalam masyarakat adalah peranan istri dan anak. Keluarga bukan sekadar mendorong suami agar tidak korupsi.

Lebih jauh, anggota keluarga itu harus menghalangi anggota keluarga lainnya untuk tidak melakukan perbuatan haram tersebut. 

Menurut Quraish, anggota keluarga lainnya yang tidak tahu bahwa mereka hidup dari hasil korupsi tidak akan dibebani oleh Tuhan.

“Tetapi, orang tua berkewajiban mencari tahu setiap penghasilan lebih dari yang didapatkan anaknya. Ayah atau ibu kalau melihat anaknya mempunyai kelebihan, dia harus bertanya dari mana sumbernya ini. Istri juga begitu, kalau dia tahu gaji suaminya hanya terbatas sekian,” ujarnya lagi. 

Menurut Quraish, dengan diketahui sumber penghasilan yang jelas, anggota keluarga akan lebih nyaman. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here