QALBU

285

Oleh: Abdullah Mahmud

Tubuh manusia itu tergantung qalbunya. Ibarat kerajaan, qalbu adalah raja. Seluruh anggota tubuh itu adalah pasukannya. Karena itu, memahami peran qalbu sangat penting dalam ajaran Islam. Ketenangan manusia itu sangat tergantung dengan qalbunya,

اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram,” (QS. Ar-Ra’ad [13]: 28).

Makanya perilaku manusia sangat tergantung dengan qalbunya,

« أَلَا إِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ؛ أَلَا وَهِيَ القَلْبُ»

“Dalam tubuh manusia itu terdapat segumpal darah, bila baik, baguslah tubuh itu tapi bila jelek, buruklah tubuh itu. Itulah qalbu,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Manusia ketika ingin berbuat sesuatu, baik ataupun buruk, pertama kali muncul dari keinginan qalbunya. Begitu pentingnya qalbu itu. Meskipun kenyataannya banyak orang berpendapat justru yang menentukan itu akalnya. Karena itu, akal menjadi fokus untuk diisi dengan ilmu dan pengetahuan.

Profesor B.J. Habibie di akhir hayatnya berpendapat, ketika memberikan ceramah di hadapan para mahasiswa di Mesir, bahwa iman dan takwa lebih penting dari pada ilmu pengetahuan dan tekhnonolgi. Iman dan takwa itu domain qalbu, dan iptek itu domain akal. Di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, qalbu menjadi nomer wahid.

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ

“(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna,”

اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ

“Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (QS. Asy-Syu’araa [26]: 88-89).

Begitu pula sabda Rasulullah ﷺ:

« إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ »

“Sesungguhnya Allah tidak melihat penampilanmu dan hartamu tetapi melihat kepada qalbu dan amalmu,” (HR. Muslim).

Menjaga keutuhan qalbu menjadi prioritas utama dalam menjaga keimanan dan rohaninya melalui pendalaman Al-Quran,

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا

“Maka tidakkah mereka menghayati Al-Quran ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS. Muhammad [47]: 24).

Kekuatan iman itu ada di qalbu,

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهٗ ۗوَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

“Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu,” (QS. At-Taghabun [64]: 11).

Dzikir itu penguat ketenangan qalbu,

اَللّٰهُ نَزَّلَ اَحْسَنَ الْحَدِيْثِ كِتٰبًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَۙ  تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُوْدُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ۚ ثُمَّ تَلِيْنُ جُلُوْدُهُمْ وَقُلُوْبُهُمْ اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ هُدَى اللّٰهِ يَهْدِيْ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَمَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ هَادٍ

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat memberi petunjuk,” (QS. Az-Zumar [39]: 23).

Bila qalbu rusak maka rusaklah keinginan dan perilaku manusia. Pertanyaannya, apakah hal-hal yang dapat merusak qalbu sehingga runtuhlah ruhaninya?

Ada 4 hal yang harus kita jauhi,

Pertama, syirik kepada Allah yaitu menduakan Allah,

سَنُلْقِيْ فِيْ قُلُوْبِ الَّذِيْنَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَٓا اَشْرَكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا ۚ وَمَأْوٰىهُمُ النَّارُ ۗ وَبِئْسَ مَثْوَى الظّٰلِمِيْنَ

“Akan Kami masukkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, karena mereka  mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan keterangan  tentang itu. Dan tempat kembali mereka ialah neraka. Dan (itulah) seburuk-buruk tempat tinggal (bagi) orang-orang zalim,” (QS. Ali ‘Imran [3]: 151).

Kedua, berpaling dari kebenaran yang datang dari Allah,

وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ لِمَ تُؤْذُوْنَنِيْ وَقَدْ تَّعْلَمُوْنَ اَنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْۗ فَلَمَّا زَاغُوْٓا اَزَاغَ اللّٰهُ قُلُوْبَهُمْۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku! Mengapa kamu menyakitiku, padahal kamu sungguh mengetahui bahwa sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu?” Maka ketika mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik,” (QS. Ash-Shaff, 61: 5).

dan

وَاِذَا مَآ اُنْزِلَتْ سُوْرَةٌ نَّظَرَ بَعْضُهُمْ اِلٰى بَعْضٍۗ هَلْ يَرٰىكُمْ مِّنْ اَحَدٍ ثُمَّ انْصَرَفُوْاۗ صَرَفَ اللّٰهُ قُلُوْبَهُمْ بِاَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ

“Dan apabila diturunkan suatu surah, satu sama lain di antara mereka saling berpandangan (sambil berkata), “Adakah seseorang (dari kaum muslimin) yang melihat kamu?”  Setelah itu mereka pun pergi. Allah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak memahami,” (QS. At-Taubah [9]: 127).

Ketiga, kedengkian kepada kaum mukminin,

وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ࣖ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang,” (QS. Al-Hasyr [59]: 10).

Keempat, berbuat dosa apakah meninggalkan perintah Allah atau mengerjakan laranganNya,

كَلَّا بَلْ ۜرَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka,” (QS. Al-Muthaffifin [83]: 14).

“Setiap dosa akan berimplikasi kepada titik hitam ke dalam qalbu. Semakin banyak dosa semakin gelap qalbunya,” (HR. At-Turmudzi).

Banyak orang yang keliru karena menganggap kebahagiannya ada pada harta, villa, perhiasan, dst. Semua itu di luar dirinya. Padahal kebahagian itu ada di qalbunya. Mari kita jaga keutuhan qalbu kita karena di situlah pusat ketenangan dan kebahagiaan kita.

Bila kita ingin mendalami peran qalbu, silahkan membaca analisa imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin tentang, (عجائب القلوب) ‘Keajaiban Qalbu’ dan diringkas oleh imam Ibnu Qudamah dalam kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin hal 161.

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here