Puasa Ramadhan (Tulisan 6)

185

Oleh:Imam Shamsi Ali (Presiden Nusantara Foundation)

Pengalaman adalah guru sekaligus pengingat terbaik dalam hidup. Pengalaman adalah ilmu yang tidak sekadar teori. Tapi realita dari sebuah peristiwa yang terjadi dalam perjalanan hidup kita.

Puasa sesungguhnya adalah pengalaman riil dalam membangun solidaritas dan rasa simpati kepada mereka yang terpaksa atau dipaksa untuk mengalami pahit getirnya hidup ini. Salah satunya adalah kemiskinan yang masih menghimpit sebagian saudara-saudara sesama manusia di sekitar kita.

Bayangkan suatu saat anda bangun di pagi hari, dan dalam keadaan lapar anda tidak memiliki sesuap nasi atau segelas air bersih untuk sekadar diminum. Atau di malam hari anda terpaksa tidur di bawah langit, dalam keadaan basah kuyub kehujanan. Bagaimana perasaan ketika itu?

Kita yang mungkin berada di posisi yang menguntungkan (fortunate) belum merasakan itu. Walaupun tahu penderitaan orang lain, tapi karena belum merasakan, kita mungkin tidak membangun rasa simpati dan solidaritas itu. Apalagi bergerak untuk melakukan aksi agar saudara kita itu bisa terlepas dari himpitan kesulitannya.

Puasa yang kita lakukan ini hendaknya melatih rasa kemanusiaan itu, dan menumbuhkan tenggang rasa atau solidaritas terhadap mereka yang kesulitan. Puasa yang tidak melahirkan rasa kasih dan tenggang rasa terhadap sesama boleh jadi puasa yang masih sebatas melakukan kewajiban. Tapi tidak membawa manfaat besar bagi kehidupan kemanusiaan kita.

Puasa dan ibadah yang tidak membawa manfaat secara sosial ini boleh jadi juga tidak bernilai di sisi Allah Yang Maha Rahman.

Dalam sebuah cerita disebutkan bahwa pada zaman dahulu ada seorang ahli ibadah bernama Abu bin Hasyim, yang hebat dalam melakukan sholat tahajud.

Bertahun-tahun Syeikh itu tidak pernah meninggalkan solat tahajud maupun ibadah-ibadah lainnya. Konsisten dalam melakukannya dan sungguh-sungguh.

Hingga pada suatu malam ketika hendak mengambil air wudhu untuk sholat malam atau tahajud, beliau dikejutkan oleh kehadiran satu makhluk yang duduk di tepi telaganya.

Beliau menegur dan bertanya,“Wahai hamba Allah, siapakah Engkau?”

Sambil tersenyum, makhluk itu berkata,“Aku Malaikat utusan Allah”.

Abu Bin Hasyim terkejut sekaligus bangga karena telah didatangi oleh malaikat yang mulia.

Beliau lalu bertanya,“Apa yang sedang kamu lakukan di sini?”

Malaikat itu menjawab, “Aku disuruh mencari hamba pencinta Allah.”

Melihat malaikat itu memegang sebuah kitab tebal, beliau lalu bertanya,“Wahai Malaikat, buku apakah yang engkau bawa?”

Malaikat menjawab,“Di dalamnya terdapat kumpulan nama hamba-hamba pencinta Allah.”

Mendengar jawaban Malaikat itu, Abu bin Hasyim berharap dalam hati semoga namanya ada dalam list nama-nama yang dicatat sebagai pencinta Allah itu.

Maka ditanyalah kepada Malaikat. “Wahai Malaikat, adakah namaku di situ ?”

Sang Syeikh sangat yakin jika namanya namanya ada di dalam buku itu. Tentu karena amalan ibadahnya yang selama ini tidak putus-putus dalam mengerjakan solat tahajud setiap malam, berdoa dan juga bermunajat kepada Allah SWT di sepertiga malam, setiap hari.

“Baiklah, aku carikan namanya,” kata Malaikat sambil membuka kitab besarnya. Dan, ternyata sang Malaikat itu tidak menemukn nama Abu bin Hasyim di buku tersebut.

Tidak percaya, Syeikh meminta Malaikat mencari namanya sekali lagi.

“Betul… namamu tidak ada di dalam buku ini!” kata Malaikat.

Abu bin Hasyim pun gementar dan jatuh tersungkur di depan Malaikat, menangis sekerasnya.

“Rugi sekali diriku yang selalu tegak berdiri di setiap malam dalam tahajud dan munajat, tetapi namaku tidak masuk dalam golongan para hamba pencinta Allah,” ratapnya.

Melihat itu, Malaikat berkata, Wahai Abu bin Hasyim! Bukan aku tidak tahu engkau bangun setiap malam ketika yang lain tidur, engkau mengambil air wudhu dan menahan kedinginan ketika orang lain terlelap dalam kehangatan buaian malam. Tapi tanganku dilarang Allah menuliskan namamu.”

“Apakah gerangan penyebab sehingga engkau dilarang oleh Allah menuliskan namaku?” tanya Abu bin Hasyim.

Malaikat kemudian menatapnya dan berkata,“Engkau memang bermunajat kepada Allah, tapi engkau pamerkan dengan rasa bangga ke mana-mana.

Engkau asyik beribadah memikirkan diri sendiri. Sedang di kanan kirimu ada orang sakit, ada orang lapar, ada orang sedang sedih, tidak engkau tengok dan ziarahi.

Mereka itu mungkin ibumu, mungkin adikmu, mungkin sahabatmu, malah mungkin juga cuma saudara seagama denganmu, atau mungkin cuma sekadar mereka menjadi tetanggamu. Tapi kenapa engkau tak peduli pada mereka, kenapa?

Bagaimana mungkin engkau dapat menjadi hamba pencinta Allah jika engkau sendiri tidak pernah mencintai hamba-hamba yang diciptakan Allah?” kata Malaikat itu.

Mendegar itu Abu bin Hasyim seperti​ disambar petir di siang hari.

Dia tersadar kini jika ibadah manusia tidaklah hanya kepada Allah semata (hablumminallah), tetapi juga kepada sesama manusia (hablumminannas) dan juga kepada alam. (Mukasyafatul Qulub Karya Imam Al Ghazali).

Intinya adalah bahwa puasa yang kita lakukan itu tidak saja mampu membangun relasi vertikal dengan Allah. Tapi juga mampu membangun rasa simpati dan solidaritas dengan sesama, khususnya mereka yang belum beruntung (unfortunate) dan tidak berpunya (the have nots). Semoga!

Baca Juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here