PUASA dan PERGAULAN

69
Persaudaraan sesama muslim. (Foto: orientalreview)

Oleh: Abdullah Mahmud

Manusia makhluk sosial, pergaulan baginya keniscayaan. Ibarat ikan dan air, bila ikan tidak dapat air atau berada di air yang bukan habitatnya maka akan ngap-ngapan dan bisa tidak berkutik. Hanya ada dua miliu pergaulan: Baik atau buruk.

Ada 4 jenis manusia:

Pertama, ibarat seperti makanan pokok. Tidak bisa berpisah, bila nggak dapat akan repot hidupnya. Agama Islam mengajarkan agar sesorang memilih kawan yang bertaqwa karena berimplikasi pada kehidupan yang baik dan akhirat yang selamat,

اَلْاَخِلَّاۤءُ يَوْمَىِٕذٍۢ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الْمُتَّقِيْنَ

“Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa,” (QS. Az-Zukhruf: 67).

Begitu pula Nabi ﷺ menasehati kita agar memilih kawan yang baik dengan memberi permisalan:

«إنَّما مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ، والْجَلِيسِ السَّوْءِ، كَحامِلِ المِسْكِ، ونافِخِ الكِيرِ، فَحامِلُ المِسْكِ: إمَّا أنْ يُحْذِيَكَ، وإمَّا أنْ تَبْتاعَ منه، وإمَّا أنْ تَجِدَ منه رِيحًا طَيِّبَةً، ونافِخُ الكِيرِ: إمَّا أنْ يُحْرِقَ ثِيابَكَ، وإمَّا أنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً »

“Permisalan kawan yang baik dan kawan yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan manusia itu ditentukan oleh kawannya,

« اَلْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ »

“Seseorang itu mengikuti agama kawan dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi kawan dekatnya,” (HR. Abu Dawud dan At-Turmudzi. Shahih).

Jenis kawan ini memang baik, tapi tidak mudah mencarinya.

Kedua, ibarat seperti obat. Bila perlu diminum, kalau tidak ya jangan. Karena kaidah obat, yang bukan untuk fungsinya malah bisa jadi racun. Jenis ini banyak dalam urusan dunia, sebatas keperluan.

Ketiga, ibarat penyakit. Seseorang harus menghindarinya tapi kalau harus bersentuhan posisinya harus seperti dokter. Harus tau tipe dan karakter penyakit itu (dalam ilmu kedokteran disebut patologi) dan bisa mengobatinya.

Pendakwah itu, kata Imam Asy-Syafi’ie, seperti dokter mengobati masyarakat banyak yang berpenyakitan. Kalau dokter mengobati penyakit fisik, sedang da’i mengobati penyakit batin seperti; pelit, dengki, suka adu domba, sombong, dsb. Kewaspadaan agar tidak tertular suatu keniscayaan. Apalagi seperti COVID-19 virusnya bisa membunuh.

Keempat, ibarat seperti racun. Nggak ada manfaatnya sama sekali bahkan mematikan. Jenis ini harus dihindari karena dia seperti lalat kemana saja berada di tempat yang jorok dan menyebarkan penyakitnya kepada pihak lain. Na’udzubillah.

Tidak sedikit yang jenis kedua, ketiga dan keempat. Butuh kewaspadaan apalagi buat anak-anak remaja. Salah bergaul kehancuran akibatnya. Pantas ketika ada preman yang membunuh 99 orang ketika ingin bertaubat bertanya sama ahli ibadah, dijawab nggak bisa. Membunuh satu orang saja seperti membunuh seluruh manusia apalagi 99 orang. Akhirnya si ahli ibadah dibunuh juga oleh sang preman, jadi 100 orang.

Ketika dia bertanya kepada orang yang berilmu diajarkan agar bertaubat dan pergi ke lingkungan orang orang shaleh agar terbawa benar. Pergilah dia ke kampung itu tapi di perjalanan meninggal dunia. Dua malaikat rahmat dan azab berebut, menurut hadits itu, sampai diukur ternyata lebih dekat ke kampung orang baik itu sehingga dia diampuni. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ramadhan seorang mukmin ditempa untuk berpuasa agar mampu mengendalikan diri dari syahwatnya. Pergaulan yang buruk itu hanya mengikuti syahwat, seperti pusaran air dia menyedot. Betapa bahayanya. Karena itu para ulama salaf mewanti-wanti agar jangan bergaul dengan kawan pendusta, pengecut, pelit, bejat dan hipokrit alias plinplan.

Umar bin Khaththab menasehati:

عليك بإخوان الصدق، عش في أكنافهم؛ فإنهم زينة في الرخاء، وعدّة في البلاء

“Hendaklah engkau selalu bersahabat dengan orang-orang yang benar sehingga engkau berada di dalam lingkup budi pekerti yang mereka upayakan, karena mereka itu menjadi perhiasan dalam kekayaan dan menjadi perisai ketika menghadapi bahaya yang besar,” (Raudhatul ‘Uqala, hal. 90).

Mari kita selamatkan generasi muda kita dari pergaulan yang mencelakakan masa depannya. Semoga!!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here