PUASA dan GERBONG

219
Ilustrasi: Kereta Api.

Oleh: Abdullah Mahmud

Manusia berjalan dengan dua kakinya ke depan tidak jalan mundur. Setiap detik, menit dan harinya dia lewati menuju masa depannya, ke mana? Menuju kematian, menuju akhirat, menuju Allah.

Karena itu orang muslim kalau ada yang meninggal dia berucap ‘inna lillahi wa inna ilaihi rajiun’ kembali kepada Allah Sang Penciptanya. Artinya manusia itu sedang perjalanan safar. Karena itu Allah mengingatkan pergilah kepada Allah,

فَفِرُّوْٓا اِلَى اللّٰهِ ۗاِنِّيْ لَكُمْ مِّنْهُ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ

“Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sungguh, aku seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untukmu,” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 50).

Ikutilah aturan Allah agar tidak tersesat,

فَذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّۚ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ اِلَّا الضَّلٰلُ ۖفَاَنّٰى تُصْرَفُوْنَ

“Maka itulah Allah, Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka mengapa kamu berpaling (dari kebenaran)?” (QS. Yunus [10]: 32).

Nabi ﷺ menasehati kita:

« كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّك غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ »

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir,” (HR. Bukhari).

Perjalanan manusia ini ada dua gerbong:

Pertama gerbong orang-orang beriman disebut “Sabilul Mukminin”

وَمَنْ يُّشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدٰى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهٖ مَا تَوَلّٰى وَنُصْلِهٖ جَهَنَّمَۗ وَسَاۤءَتْ مَصِيْرًا

“Dan barangsiapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali,” (QS. An-Nisa’ [4]: 115).

Kedua gerbong kaum kafir disebut dengan “Sabilul Mujrimin”

وَكَذٰلِكَ نُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ وَلِتَسْتَبِيْنَ سَبِيْلُ الْمُجْرِمِيْنَ

“Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran, (agar terlihat jelas jalan orang-orang yang saleh) dan agar terlihat jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa,” (QS. Al-An’aam [6]: 55).

Gerbong pertama masinis dan para kru serta penumpangnya akan melewati stasiun-stasiun kebaikan sampai ke tujuan masuk surga. Adapun gerbong kedua seluruh masinis dan para kru serta penumpangnya dalam satu rangkaian melewati stasiun-stasiun keburukan sampai tujuannya masuk neraka.

Itulah yang diungkap oleh Allah dalam (QS. Al-Bayyinah, 98: 6-8),

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ وَالْمُشْرِكِيْنَ فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk”.

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk”.

جَزَاۤؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۗرَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ ۗ ذٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهٗ

“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ’Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya”.

Tentunya tidak sama dua gerbong itu,

لَا يَسْتَوِيْٓ اَصْحٰبُ النَّارِ وَاَصْحٰبُ الْجَنَّةِۗ اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَاۤىِٕزُوْنَ

“Tidak sama para penghuni neraka dengan para penghuni surga; para penghuni surga itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan,” (QS. Al-Hasyr [59]: 20).

Masalahnya adalah ada sebagian orang muslim yang tidak mau bergabung dengan gerbong orang beriman tapi justru bergabung dengan gerbong kaum kafir, kalau tidak bertaubat maka akibatnya,

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِى الْكِتٰبِ اَنْ اِذَا سَمِعْتُمْ اٰيٰتِ اللّٰهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَاُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوْا مَعَهُمْ حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهٖٓ ۖ اِنَّكُمْ اِذًا مِّثْلُهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ جَامِعُ الْمُنٰفِقِيْنَ وَالْكٰفِرِيْنَ فِيْ جَهَنَّمَ جَمِيْعًاۙ

“Dan sungguh, Allah telah menurunkan (ketentuan) bagimu di dalam Kitab (Al-Quran) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena (kalau tetap duduk dengan mereka), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sungguh, Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di neraka Jahanam,” (QS. An-Nisa [4]: 140).

Ramadhan adalah bukti seseorang mau ikut gerbong yang mana. Kalau dia ingin perjalanan safarnya aman, ya harus berada di gerbong orang beriman dan melewati stasiun syahadatain, shalat, puasa, zakat, haji, amar ma’ruf, nahi mungkar, dan jihad fie sabilillah sampai masuk surga dari 8 pintu.

Sedang gerbong kaum kafir melewati stasiun syirik, kufur, korupsi, kezaliman, zina, riba dan dosa-dosa besar lain.

Oleh karena itu umat Islam terbagi 4 sikap:

Pertama, menyadari adanya dua gorbong itu sehingga dia bergabung dengan gerbong kaum beriman dan menghindari gerbong kaum kafir bahkan memperingatkan orang lain agar jangan tergabung dengan gerbong kedua yang akan membawa kepada kesengsaraan dunia-akhirat.

Kedua, orang yang sadar dan bergabung dengan gerbong pertama dan tidak mau tau urusan dengan gerbong kedua.

Ketiga, orang muslim justru dengan sadar bergabung menjadi penumpang gerbong kedua. Kalaupun tidak setuju, dia hanya bisa mengubah kursi tapi masinis tetap mengarahkan gerbongnya ke neraka. Tidak ada jalan baginya kalau ingin selamat ya bertaubat dan turun di stasiun depan dan pindah ke gerbong pertama.

Keempat, orang awam nggak penting baginya kedua gerbong itu yang penting sandang, pangan dan papan. Kalau mereka bergabung ke gerbong pertama selamat. Tapi kalau justru tergabung dengan gerbong kedua ya binasa. Terkadang hanya karena beras, gula, mi instan atau duit yang sedikit dia korbankan agamanya. Na’udzu billahi min dzalik.

وَسِيْقَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِلٰى جَهَنَّمَ زُمَرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءُوْهَا فُتِحَتْ اَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَآ اَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنْكُمْ يَتْلُوْنَ عَلَيْكُمْ اٰيٰتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُوْنَكُمْ لِقَاۤءَ يَوْمِكُمْ هٰذَا ۗقَالُوْا بَلٰى وَلٰكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ (71) قِيْلَ ادْخُلُوْٓا اَبْوَابَ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۚفَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِيْنَ (72)

“Orang-orang yang kafir digiring ke neraka Jahanam secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (neraka) pintu-pintunya dibukakan dan penjaga-penjaga berkata kepada mereka, “Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul dari kalangan kamu yang membacakan ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan (dengan) harimu ini?” Mereka menjawab, “Benar, ada,” tetapi ketetapan azab pasti berlaku terhadap orang-orang kafir. Dikatakan (kepada mereka), “Masukilah pintu-pintu neraka Jahanam itu, (kamu) kekal di dalamnya.” Maka (neraka Jahanam) itulah seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang yang menyombongkan diri,” (QS. Az-Zumar [39]: 71-72).

Semoga kita dan keluarga diselamatkan Allah dan tergabung dengan rombongan orang yang bertaqwa agar masuk surga,

وَسِيْقَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ اِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءُوْهَا وَفُتِحَتْ اَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوْهَا خٰلِدِيْنَ (73) وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ صَدَقَنَا وَعْدَهٗ وَاَوْرَثَنَا الْاَرْضَ نَتَبَوَّاُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَاۤءُ ۚفَنِعْمَ اَجْرُ الْعٰمِلِيْنَ (74)

“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (surga) dan pintu-pintunya telah dibukakan, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! Maka masuklah, kamu kekal di dalamnya.” Dan mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah memberikan tempat ini kepada kami sedang kami (diperkenankan) menempati surga di mana saja yang kami kehendaki.” Maka (surga itulah) sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal,” (QS. Az-Zumar [39]: 73-74).

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here