Program Moderasi Agama dan Pendidikan Islam Segera Disebarkan

721
Kemenag - Cirebon
Rapat Pimpinan Pelaksanaan Anggaran tahun 2018 di Cirebon, Senin (22/1/2018).

Cirebon, Muslim Obsession – Program moderasi agama dan pendidikan Islam menjadi agenda penting yang harus segera disebarkan dalam dua tahun ke depan.

Hal itu disampaikan Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) Kementerian Agama, Moh Ishom Yusqi, dalam Rapat Pimpinan Pelaksanaan Anggaran tahun 2018 di Cirebon, Senin (22/1/2018).

“Program moderasi harus menjadi arus utama. Hal ini penting, sebab Kementerian Agama harus menjadi corong untuk menyampaikan Islam wasathiyyah kepada dunia,” ujar Ishom, seperti diberitakan laman Kemenag.

Pada kesempatan itu, Ishom mengatakan bahwa Rapim penting dilaksanakan, khususnya untuk menjalin keakraban antarpejabat di lingkungan Ditjen Pendis. Termasuk mendekatkan pimpinan dengan bawahan.

Saat ini, tema Islam Wasathiyyah menjadi isu sentral yang sering dipublikasikan Kementerian Agama. Dalam sejumlah kesempatan, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin juga kerap membawakan isu tersebut.

“Dunia memerlukan pikiran-pikiran moderasi Islam di tengah kuatnya globalisasi dan teknologi informasi yang dapat mendistorsi pesan utama ajaran Islam. Karenanya, saya mengajak saudara-saudara untuk menebarkan kedamaian,” terang Menag saat melakukan pertemuan dengan mahasiswa Indonesia di Asrama Mahasiswa Indonesia, Komplek Universitas Al Azhar Nasr City Cairo, Selasa (16/1/2018).

Menag juga pernah menyampaikannya saat memberikan sambutan pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Ke-3 MUI, di Bogor, November 2017 lalu. Menurut Menag, kata ‘wasatha’ memiliki makna di antara dua posisi. “seperti sifat keberanian yang ada di antara ceroboh dan takut, dermawan di antara boros dan kikir,” ujarnya.

Menag berharap,  konsep Islam Wasathiyah ini dapat meminimalisir kelompok yang mengklaim pemaknaan tunggal. Sebab menurutnya, setiap kata memiliki kemungkinan banyak makna. Oleh karenanya seorang Muslim wasathi sudah semestinya terbuka dalam menerima kritik yang konstruktif, adil, dan maslahat bagi kehidupan.

“Dunia dakwah Islam dalam beberapa dekade terakhir mengalami turbulensi karena munculnya model dakwah yang mengklaim paling benar, sementara lainnya salah. Hal ini tentu meresahkan dan bisa mengancam keutuhan bangsa,” terangnya. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here