Profil 4 Pahlawan Baru yang Diberikan Gelar oleh Presiden Jokowi

56

Jakarta, Muslim Obsession – Bertepatan pada peringatan Hari Pahlawan, Presiden Joko Widodo memberikan gelar pahlawan kepada empat tokoh bangsa yang dinilai punya kontribusi besar terhadap pembangunan negara ini pada masa hidupnya.

Lantas, siapa saja nama-nama pahlawan nasional 2021? Berikut nama dan profil singkatnya.

1. Sultan Aji Muhammad Idris

Sultan Aji Muhammad Idris masuk dalam daftar nama-nama pahlawan nasional yang ditetapkan tahun ini. Dia merupakan sultan ke-14 di Kerajaan Kutai Kartanegara dan Sultan Kerajaan Kutai Kartanegara yang pertama kali menggunakan nama islami.

Mengutip buku yang berjudul ‘Kerajaan-kerajaan nusantara’ karya Woro Miswati, berikut profil Sultan Aji Muhammad Idris, ia merupakan menantu dari Sultan Wajo, Lamaddukelleng

Ia hidup pada masa kepemimpinan Sultan Aji Muhammad Idris. Nama kerajaannya sempat diganti menjadi sebutan kesultanan, yaitu Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura

Ibu kota Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura yang awalnya di Kutai Lama dipindahkan ke Pemarangan pada 1732
Memerintah dari 1735-1778. Sultan Aji Muhammad Idris masuk dalam nama-nama pahlawan nasional karena berhasil melawan VOC hingga gugur.

Dilansir dari laman Kabupaten Kutai Kartanegara, dia membantu mertuanya Lamaddukelleng untuk melawan VOC di Wajo, Sulawesi Selatan. Saat itu pula, pemerintahan dipegang oleh Dewan Perwakilan.

2. Usmar Ismail

Usmar Ismail juga diabadikan dalam nama-nama pahlawan nasional. Lahir di Bukittinggi, 20 Maret 1921, dia merupakan anak kandung dari Datuk Tumenggung Ismail yang merupakan guru sekolah kedokteran di Padang. Sementara ibunya bernama Siti Fatimah.

Mengacu situs Kementerian dan Kebudayaan RI, berikut pendidikan Usmar Ismail:

HIS (Sekolah Dasar) di Batusangkar
MULO B (SMP) di Simpang Haru, Padang
AMS-A (SMA) di Yogyakarta sampai tahun 1941
Sarjana Muda Jurusan Film di University of California, Los Angeles (1953) dari beasiswa Yayasan Rockefeller.

Dia aktif dalam kegiatan drama dan mengirim karyanya ke berbagai majalah. Bakatnya terus terasah saat bekerja di Keimin Bunka Sidosho, yakni Kantor Besar Pusat Kebudayaan Jepang.

Dia terlibat dalam proyek pementasan drama bersama Arjimin Pane yang merupakan budayawan lain. Bersama kakanya, El Hakim beserta Rosihin Anwar, Cornel Simanjuntak serta H.B Jassin, dia mendirikan kelompok sandiwara ‘Maya’ pada tahun 1943. Kelompok ini menyajikan sandiwara dengan teknik teater ala Barat, sehingga dianggap sebagai tonggak lahirnya teater modern di Indonesia.

Kini, namanya diabadikan untuk sebuah gedung perfilman, yaitu Pusat Perfilman Usmar Ismail yang terletak di daerah Kuningan, Jakarta. Hal ini sesuai dengan Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor D.III-4835/7/75 tanggal 24 Agustus 1975.

3. Raden Aria Wangsakara.l

Dia lahir sekitar 1024 H atay 1615 M. Tanggal kelahirannya diperkirakan dari naskah Perimbon Keariaan Tangerang yang menyebut dirinya meninggal pada malam Jumat Manis tanggal 2 Syaban tahun 1092 H atau 1681 M pada usia 68 tahun dalam hitungan kalender hijriah, atau usia 66 tahun dalam hitungan masehi.

Dia menentang politik keluarga yang menyerahkan kedaulatan Sumedang Larang ke penjajah Belanda. Kala itu, Ratu Mataram mengancam orang-orang Sumedang dan menjatuhi hukuman. Atas insiden itu, Aria pindah ke Banten.

Di sana, dia dan beberapa saudaranya disambut baik oleh Gustin Sinuhun Sultan Abdul Mafakhir. Pangeran Ratu juga mengharapkan kehadiran Raden Aria Wangsakara dan dua saudaranya bisa menjadi mediator rekonsiliasi Tata SUnda pasca penyerangan Banten terhadap Pajajaran.

Di usia 18 atau 19 tahun, dia ke Makkah sebagai utusan Banten. Dia pergi bersama Labe Panji dan Demang Tisnajaya. Dia menetap di Makkah sembari mempelajari ilmu dengan ulama-ulama di Makkah. Berkat kecakapan Raden Aria Wangsakara, Kemaulanaaan Banten diakui oleh Syarif Makkah.

Raden Aria Wangsakara juga mendapat kepercayaan untuk menjaga wilayah Kerajaan Mataram, yaitu di dekat Sungai Cisadane. Kehadiran Raden Aria Wangsakara memicu kekhawatiran dari VOC. VOC pun mendirikan benteng untuk mengawasi gerak-geriknya.

4. Tombolutu

Tombolutu merupakan sosok keempat yang masuk ke dalam nama-nama pahlawan nasional 2021. Dia berasal dari Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Merujuk situs Pemkab Parigi Moutong, Tombolutu punya dua gelar Pua Darawati. Dia juga pernah menerima tahta kerajaan Moutong pada tahun 1877. Padahal, saat itu usianya masih 20 tahun.

Tombolutu masuk ke dalam jajaran nama-nama pahlawan bukan tanpa alasan. Dia berjasa karena perjuangannya melawan Belanda, salah sayunya ketika Pemerintah Belanda menurunkan Pasukan Marsoses guna menumpas perlawanan Tambolutu.

Untuk diketahui, Marsose adalah pasukan khusus atau pasukan elit Belanda yang pernah diturunkan saat perang Diponegoro juga perang Aceh. Saat itu, jumlah pasukan Marsose yang diturunkan kurang lebih 170 pasukan.

Mereka bertugas untuk menumpas perlawanan Tambolutu. Sayangnya, mereka tak pernah berhasil menumpas Tambolutu. Hal ini yang meyakinkan Tambolutu layak masuk ke dalam jajaran nama-nama pahlawan. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here