Prof. Khairudin: Marbot Masjid yang Kini Jadi Profesor

2401
Prof. Moh. Khairudin, M.T., Ph.D. ketika membacakan pidato Pengukuhan Guru Besar digelar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sabtu (8/8/2020).

Muslim Obsession – Sumringah langsung terlihat di wajah Prof. Moh. Khairudin, M.T., Ph.D. ketika membacakan pidato Pengukuhan Guru Besar yang digelar di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Pagi ini, Sabtu (8/8/2020), Prof. Khairudin dikukuhkan sebagai Guru Besar di Bidang Ilmu Sistem Otomasi pada Fakultas Teknik oleh Rektor UNY Prof. Dr. Sutrisna Wibawa M.Pd.

Pria kelahiran Tegal tahun 1979 ini tak sendiri, karena gelaran itu juga mengukuhkan Prof. Dr. Sri Wening, M.Pd sebagai Guru Besar di Bidang Ilmu Penilaian Pendidikan Konsumen pada Fakultas Teknik, UNY.

Nama Mohammad Khairudin, mungkin cukup asing di telinga sebagian besar masyarakat Tanah Air. Tapi rasanya mungkin tidak oleh sebagian warga Balapulang Wetan, Tegal, ataupun mahasiswa jurusan teknik di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Prof. Khairudin, ternyata memiliki perjalanan hidup yang unik sebelum sampai pada predikat tertinggi di sebuah perguruan tinggi. Dulu, kabarnya sang profesor adalah marbot masjid atau ‘tukang bersih-bersih’ masjid.

Kabar ini tersiar dalam tulisan ringkas berjudul “UDIN dari MARBOT MASJID jadi PROFESOR” yang ditulis Falasifah Ani Yuniarti di laman Facebook miliknya, Selasa (4/8/2020).

Prof. Khairudin saat menjadi marbot masjid di tahun 2004. (Foto: FB Falasifah)

Udin, demikian Prof. Khairudin dulu disapa. Tahun 1998, dia ke Jogja, sebagai mahasiswa baru UNY, jurusan elektro. Kehidupannya yang tidak berkecukupan membuatnya prihatin.

Semasa kuliah, Udin tinggal dan mengurus Masjid Al-Amin, menjadi marbot dan jualan tempe.

Setiap pagi setelah subuh, Udin kayuh sepeda bututnya, mengambil tempe Mochlar dan mengantar ke langganannya.

Setelah itu, kembali ke masjid untuk membersihkan masjid, kemudian mengayuh sepedanya di kampus yang jaraknya sekitar 5 kilometer. Kadang malam hari selepas Isya dia mengantar tempe ke langganannya yang lain.

Tak jarang dia pulang ke masjid di sela-sela jam kuliahnya untuk melantunkan adzan Zhuhur atau Ashar. Kemudian balik lagi ke kampus untuk meneruskan kuliahnya.

Sepulang kuliah, dia mengajar anak-anak mengaji di TPA masjid. Berpuluh anak belajar “a-ba-ta” darinya. Tepuk anak shalih dan lagu anak TPA pun diajarkannya.

Setiap malam Kamis, pengajian rutin disiapkannya. Sebagai marbot masjid, dia mengangkat minum dan snack, membagikan ke jamaah yang hadir mengaji. Setelahnya, dia merapikan lagi tikar gelaran tadi, menyapu dan mengepelnya.

“Alhamdulillah, Udin, begitu kami memanggilnya, lulus dengan cumlaude. Meneruskan sekolah S2 di ITS, dan kemudian menikah. Setelah menikah, dia tidak lagi tinggal di kampung kami. Menurut kabar dia tinggal di daerah Bantul, dekat suatu makam di sana,” tegas Falasifah dalam postingannya.

Selang berapa tahun, dia kembali. Dia membeli rumah di kampung kami, dekat dengan masjid yang dulu dia rawat. Kali ini, dia sudah menjadi dosen di UNY dan sudah Ph,D. Sudah memiliki anak tiga.

Bertahun berlalu, Udin yang dulu mengayuh sepeda butut, sekarang sudah mengendarai mobil. Sesekali sepeda dikayuhnya untuk berolah raga. Tak lama lagi, dia akan menjadi Profesor. Profesor Khairudin, di usia sangat muda.

Barakallah Prof Khairudin. Maafkan kami, tak bisa mengubah panggilan itu, Udin. Meskipun sudah Profesor, engkau tetaplah Udin, yang bagai anak bagi mama dan bapak, adik, kakak, bagi keluarga kami. Dan menjadi teladan bagi kami,” tandas Falasifah lagi.

Udin lulus dengan cumlaude dan meneruskan S2-nya di ITS. Dan kini di usia 41 tahun beliau mendapat gelar profesor di usia yang tergolong muda. Keahliannya di dunia robotik juga sudah tidak diragukan lagi dengan banyaknya penelitian dibidang robotik.

“Semoga kisah hidup dan perjuangan beliau bisa menjadi inspirasi bagi kita semua,” tutup Falasifah. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here