Prabowo Marah Meninju Meja, Para Ulama Terperangah (Bag-1)

35401
Parmusi dan Jokowi
H. Usamah Hisyam memimpin rombongan pengurus pusat Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) bertemu dengan Presiden Joko Widodo, beberapa waktu lalu. (Foto: Muslim Obsession)

Karena itu dalam Mukernas I Parmusi akhir November 2016, saya mengarahkan keputusan agar Parmusi mengusulkan kepada seluruh ormas Islam dan majelis taklim untuk menetapkan HRS sebagai Imam Besar Umat Islam. Meskipun sampai sekarang hal itu belum terwujud.

Sebagai seorang ulama, HRS konsisten dan konsekuen akan pertaruhkan segalanya demi tegaknya kalimat tauhid. Karena itu beliau marah besar bila ada pihak manapun yang coba-coba mengganggu akidah islamiyah. Ini wajar sebagai seorang pemimpin pergerakan Islam, Front Pembela Islam (FPI). Siapapun akan marah bila ada yang mengganggu agamanya.

Secara personal, HRS beberapa kali mengaku kepada saya, tidak memiliki persoalan pribadi apapun dengan Presiden Joko Widodo. Saya diizinkan bahkan didorong untuk terus melobi istana. Hampir setiap bulan sepanjang 2017 saya bertemu empat mata, satu sampai dua kali dengan Presiden. Bahkan HRS meyakinkan saya, bila beliau mendapat kesempatan kembali ke Tanah Air, berniat akan lebih fokus berdakwah membesarkan pondok pesantren Markas Syariah Mega Mendung, Bogor.

Dalam pertemuan saya dengan Presiden, 7 Desember 2017 selama 1,5 jam di Istana Bogor, saya berupaya meyakinkan Presiden agar berangkat umrah pada libur Natal akhir Desember 2017. Sesuai hasil rembukan saya dengan Ketua Umum FPI KH Sobri Lubis dan Ketua Dewan Syariah FPI KH Misbachul Anam, saya menyampaikan skenario, usai Presiden menunaikan ibadah umrah, HRS diperkenankan dapat bersilaturahim dengan Presiden Joko Widodo di sebuah ruang lantai 28 Fairmont Hotel Makkah. Agar keduanya bisa langsung berkomunikasi, bertabayyun, berbicara empat mata, membahas persoalan umat dan bangsa ke depan, saling membangun komitmen tanpa ada yang mengetahui.

Apalagi Presiden Jokowi beberapa kali juga meyakinkan saya bahwa beliau tak memiliki persoalan pribadi apapun dengan HRS. Karena itu, saya berpikir, bagaimanapun juga sebagai warga anak bangsa, saya sangat menginginkan Indonesia yang damai, Indonesia yang aman, tenteram, dan para pemimpinnya saling menyapa, berkomunikasi, meskipun memiliki perbedaan pandangan politik yang tajam.

Presiden Joko Widodo terperangah mendengarkan skenario tersebut. Tiba-tiba Presiden bangkit mengangkat tubuhnya dari sandaran kursi. Dalam nada suara agak meninggi, Presiden seperti menegur saya.

“Ada apa kok Pak Usamah mendesak saya terus bertemu Pak Habib? Dia kan masih ada urusan hukum dengan aparat? Saya sudah tiga kali panggil tim aparat di sini, gara-gara Pak Usamah terus menerus mendesak saya. Mereka ekspose persoalan hukum Pak Habib. Sebagai Presiden, saya tidak akan intervensi hukum. Sama seperti waktu kasus Ahok, saya tidak intervensi apapun,” tandas Presiden, dengan nada suara agak meninggi.

“Mohon maaf Bapak Presiden,” sahut saya spontan untuk meredakan situasi perbincangan empat mata yang mulai memanas. “Mungkin pandangan saya kurang tepat. Tetapi, Bapak Presiden harus percaya, tidak ada maksud apapun saya menyampaikan pandangan ini. Bapak harus ingat, saya orang yang memimpin perjalanan umrah keluarga Bapak ke Tanah Suci Makkah pada 16 sampai 18 Juli 2014, yang turut mendoakan Bapak di Baitullah agar terpilih menjadi Presiden. Harapan saya cuma satu, agar situasi dan kondisi sosial politik di negeri ini kondusif. Izinkan saya menyampaikan pandangan pribadi saya apa adanya, sebagai salah seorang pemimpin pergerakan Islam di negeri ini,” ujar saya memohon.

“Silakan…silakan Pak Usamah,” kata Presiden dengan nada suara yang sudah landai.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here