Prabowo Marah Meninju Meja, Para Ulama Terperangah (Bag-1)

35618
Usamah - PA 212
Tim 11 Ulama Alumni 212 menggelar jumpa pers mengklarifikasi pertemuan dengan Presiden Jokowi.

“Bagi saya ini sangat prinsipil. Bagaimana mungkin setiap hari kita berteriak memperjuangkan penerapan syariat Islam di negeri ini, sementara figur pemimpin yang akan diusung dan diperjuangkan sama sekali tidak mencerminkan figur yang memenuhi standar nilai-nilai syar’i. Mohon kita bahas dulu masalah ini,” pinta saya melanjutkan.

“Karena itu, seharusnya pertimbangan utama kita bukan pada dukungan kendaraan politiknya, bukan pertimbangan kalah menangnya, bukan itu. Tetapi, tetapkan dulu figur pemimpin yang memenuhi standar syariat, umumkan, baru kita kondisikan bersama-sama. Soal kendaraan politik, dan juga soal kalah menang, itu urusan Allah subhanahu wa ta’ala. Bukan urusan kita. Bila kita sudah menentukan figur yang islami, kita sudah berdoa, berjuang, lantas kalah, berarti Allah subhanahu wa ta’ala belum menakdirkan kandidat kita menang. Karena Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman: Allah subhanahu wa ta’ala telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan melaksanakan amal salih, akan diberikan kekuasaan di muka bumi. (QS. 24:55) Jadi, ingat, yang akan diberikan kekuasaan adalah orang yang beriman.”

“Dengan demikian, kita tak boleh menggunakan standar ganda. Satu sisi berteriak syariat Islam, teriak pemimpin harus dipilih melalui ijtima’ ulama, pada sisi lain standar yang digunakan standar ijtima’ politisi, yang diperhitungkan semata-mata kalah menang, dapat gak dukungan partai koalisi. Padahal sesungguhnya PA 212 memiliki bargaining position yang lebih kuat untuk mengendalikan koalisi partai politik, bilamana lebih menyandarkan keyakinannya dengan memohon pertolongan dan ridha Allah subhanahu wa ta’ala.”

Belum sempat masalah tersebut didiskusikan, masuk adzan Maghrib. Pimpinan rapat Amien Rais skorsing pertemuan untuk istirahat, sholat, makan (ishoma). Di sela-sela ishoma, terjadi perbincangan dengan sejumlah ulama. Sama dengan KH Misbachul Anam, saya tetap konsisten hendak memperjuangkan HRS sebagai rekomendasi utama 212 sebagai capres menuju ijtima’ ulama.

Dalam Rakornas PA 212 beberapa pekan sebelumnya, nama HRS telah ditempatkan pada urutan pertama rekomendasi capres PA 212, lantas Prabowo Subianto, Zulkifli Hasan, Yusril Ihza Mahendra, Tuan Guru Bajang. Saya meyakini, bila HRS yang ditetapkan, maka insya Allah dukungan politik umat untuk pemulanggan HRS ke Indonesia semakin besar. Tak ada instansi manapun yang dapat menghambat seorang capres yang diusung oleh parpol untuk mendaftarkan diri.

Berbulan-bulan saya bergerilya ke istana untuk pemulangan HRS ke Tanah Air. Terakhir pada 22 April 2018, saya berhasil meyakinkan Presiden Joko Widodo untuk menerima enam ulama PA 212 di Istana Bogor, yang berdampak terhadap terbitnya dua SP3 HRS beberapa pekan berikutnya.

Tetapi sebagian teman-teman mencurigai saya akan melakukan ‘jebakan Batman’ terhadap HRS. Karena hubungan saya dengan istana yang dianggap mesra. Padahal, tak ada sedikitpun niat saya seperti itu. Saya justru memanfaatkan kedekatan saya dengan Presiden Joko Widodo untuk pemulangan HRS ke Tanah Air.

Mengapa hal itu saya lakukan? Saya tak ingin adak gejolak horisontal akibat ketegangan antara umat dan pemerintah. Karena yang akan dirugikan kita semua, bangsa Indonesia. Saya sudah beberapa kali bertemu HRS. Bicara empat mata, baik tatap muka maupun melalui WhatsApp. HRS adalah pribadi yang baik, santun, cerdas, bersahaja. Ia seorang idealis, yang memiliki cita-cita mulia. Negeri ini harus bebas dari kemungkaran (maksiat, dst). Sebaliknya, bersama-sama menebarkan kebaikan-kebaikan (ma’ruf) agar bangsa ini mendapat ridha Allah subhanahu wa ta’ala. Ini sesuai perintah Al-Quran yang merupakan pedoman hidup umat Islam sesuai QS. 2:02.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here