Prabowo Marah Meninju Meja, Para Ulama Terperangah (Bag-1)

35401
UH dan API Bersatu MOB
Ketua API Bersatu Ustadz Asep Syaripudin didampingi Ketua Umum Parmusi H. Usamah Hisyam, Ketua Persaudaraan Alumni 212 Ustadz Selamat Maarif, dan Ustadz Buchori Abdul Somad menyerahkan surat kepada Presiden RI melalui Kantor Layanan Persuratan Kementerian Sekretariat Negara, Kamis (1/2/2018). (Foto: MOB/istimewa).

Sekitar satu pekan sebelum Ijtima Ulama 1 digelar oleh GNPF Ulama, sekitar 28 anggota Dewan Penasihat PA 212 diundang berembuk di Hotel Sultan, Jakarta, dipimpin langsung oleh Prof DR H. Amien Rais selaku Ketua Dewan Penasihat. Pada pertemuan sore hari itu Amien Rais didampingi langsung oleh para tokoh Penasehat PA 212 seperti KH Maksoem (alm), KH Cholil Ridwan, KH Abah Raud Bahar, KH Misbachul Anam, Letjen TNI Syarwan Hamid, dan lain-lain.

Dalam mukadimah, Amien Rais menjelaskan, tak ada pilihan lain, arah dukungan PA 212 kepada Prabowo Subianto, yang malam harinya akan dihadirkan di forum penasehat tersebut, bersama para Sekjen partai-partai Koalisi. Alasannya, Prabowo pemilik kursi terbesar rencana parpol koalisi, Prabowo dapat mempersatukan parpol koalisi, dan Prabowo memiliki modal 60 juta suara Pilpres 2014, sehingga diyakini dapat mengalahkan incumbant.

Menjelang sesi pertama berakhir, setelah para anggota wanhat memberikan masukan, saya pun ikut menyampaikan pandangan. “Mohon maaf, saya bukan kiai, saya bukan ulama, tetapi saya tokoh aktivis pergerakan Islam. Insya Allah saya berusaha mengamalkan setiap ayat yang saya pahami,” ujar saya.

Suasana hening. Seluruh tokoh dan ulama mencermati dengan seksama, kata demi kata yang saya sampaikan.

“Karena itu, sebelum kita menyampaikan rekomendasi PA 212 ke forum ijtima ulama pekan depan, saya mohon para kiai membahas dulu tafsir terhadap ‘pemimpin muslim’ yang harus diperjuangkan di dalam tafsir Al-Maidah 51, apakah pemimpin muslim minimalis atau pemimpin muslim kaffah? Kalau pemimpin muslim kaffah, setidaknya kita harus tahu persis bahwa calon pemimpin harus bisa menjadi imam shalat, dia harus fasih membaca Al-Fatihah serta surat-surat pendek dalam Juz ’Amma, dia harus bisa mengaji. Karena negara kita mayoritas penduduknya muslim, jadi seorang Presiden harus bisa menjadi imam.”

Seluruh Dewan Penasihat PA 212 tercengang, terdiam menyimak kata demi kata yang saya sampaikan.

“Mohon maaf para ulama, saya pertanyakan ini, karena pekan depan yang kita hadapi adalah ijtima’ ulama, bukan ijtima’ politisi. Ijtima’ ulama ini sangat sakral. Pendekatannya harus sungguh-sungguh mengacu pada nilai-nilai syariat. Karena ijtima’ ulama ini akan menjadi benchmark sampai 500 tahun ke depan dan seterusnya, bagi generasi muslim. Akan menjadi acuan dalam membangun kesepakatan untuk memilih figur pemimpin yang memenuhi standar Al-Quran dan As-Sunnah. Dalam menentukan figur pemimpin yang islami.”

Semua terdiam. Sejumlah ulama saling menatap. Seakan memberikan isyarat agar pembicaraan saya di setop. Tetapi saya tak peduli.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here