Prabowo Marah Meninju Meja, Para Ulama Terperangah (Bag-1)

35618
Usamah dan Slamet Maarif
Usamah Hisyam memberikan surat pengunduran dirinya sebagai Anggota Dewan Penasihat Persaudaraan Alumni (PA) 212. Surat diberikan kepada Ketua Umum PA 212 Ustadz Slamet Maarif di Jakarta, Senin malam (12/11/2018). (Foto: Muslim Obsession)

Memang, masih sering teman-teman bertanya, apa sih alasan sesungguhnya saya mundur dari Anggota Penasihat PA212? Maklum, saya pernah diamanatkan menjadi bendahara Reuni Agung 212 tahun 2017 yang berjalan sukses. Saya juga Koordinator Steering Committee Aksi 212 tanggal 21 Februari 2017 di depan Gedung DPR, serta Koordinator Steering Committee Aksi 313 tanggal 31 Maret 2017 di kawasan Patung Kuda Merdeka Barat Monas.

Atas rekomendasi tim kecil politbiro, saya bersama Ustadz Muhammad Al-Khaththath, menemui Habib Rizieq Syihab (HRS) di Markas Syariah Megamendung, Bogor, sekitar pukul 24.50 WIB.

Dalam pertemuan bertiga tersebut, kami menyampaikan kepada HRS pentingnya menggelar kembali aksi 21 Februari, yang kebetulan dapat disingkat juga menjadi 212. Tujuannya, untuk menjaga semangat persaudaraan dan persatuan yang sudah terbukti dalam Aksi 212 tanggal 2 Desember 2016. Selain itu, untuk menindaklanjuti sejumlah tuntutan ke DPR RI dan pemerintah.

Kedua aksi tersebut sesungguhnya merupakan gagasan murni Ustadz Al-Khaththath yang didiskusikan dengan saya, diamini oleh politbiro, dan disampaikan kepada HRS. Kebetulan Ustadz Al-Khaththath meminta dukungan, agar saya turut mendampingi memperkuat argumentasi pentingnya Aksi Bela Islam 212 DPR dan Aksi Bela Islam 313 kepada HRS.

“Alhamdulillah, kebetulan Antum berdua datang ke mari. Cocok sekali. Ana beberapa hari ini berpikir hal yang sama. Tetapi, Ana kan sudah tak boleh terlibat dalam aksi-aksi seperti itu lagi. Jadi, sebaiknya begini. Ana setuju dengan gagasan itu. Ustadz Al-Khaththath dan Pak Usamah harus duet bersama. Ustadz Al-Khaththath Koordinator Organizing Committee, Pak Usamah Koordinator Steering Committee. Segera undang teman-teman korlap. Nanti Ana kondisikan teman-teman FPI,” pinta HRS.

Saat itu, HRS sepakat yang menjadi ruh perjuangan adalah menggalang persatuan umat, dalam semangat Aksi Bela Al-Quran, Al-Maidah ’51. Apapun partai politiknya, ormasnya, stratanya, gak ada masalah, mari kita memenuhi panggilan jihad fi sabilillah, wa jaahidu fillahi haqqa jihadih, meninggikan kalimat tauhid. Menjalin kembali semangat persaudaraan umat, semangat persatuan umat pada Aksi 212 tahun 2016 dengan memprioritaskan sejumlah agenda tuntutan keumatan.

Karena itu saya all out mendukung gerakan ini. Apapun saya pertaruhkan untuk itu. Bukan saja waktu, tenaga, pikiran, privilege, tetapi juga kucuran dana (maaf, tak bermaksud riya’) yang lumayan besar untuk ukuran seorang wartawan, pengusaha pers. Tetapi tak masalah! Karena yang saya bela adalah Al-Quran, Allah subhanahu wa ta’ala, BUKAN MANUSIA.

Sebaliknya, saya harus mengatakan secara terbuka, sesuai pengamatan, hati nurani, ilmu pengetahuan dan keyakinan spritualitas saya, sekitar tiga bulan menjelang Reuni 212 tanggal 2 Desember 2018, PA 212 mulai mengerdilkan dirinya sendiri, dalam konteks ruh perjuangan, misi, dengan sekedar menjadikan dirinya sebagai timses MANUSIA, salah satu paslon presiden. Padahal, ruh perjuangan serta baju yang kemudian digunakan PA 212 yang sejak awal sudah besar menjadi sempit.

Ironinya, logika perjuangan yang dibangun dalam menentukan pilihan capres sudah tidak senafas lagi dengan nilai-nilai yang sesungguhnya terkandung dan menjadi ruh kelahiran PA 212 itu sendiri, yakni Bela Al-Maidah 51. Inilah yang sangat mengganjal di hati dan pikiran saya, karena pilihan itu harus kita pertanggung jawabkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala di Yaumil Akhir.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here