Pondok Modern Gontor, Wali Sanga, dan Kiai Syukri

524

Oleh: KH. Abdi Kurnia Djohan

Banyak yang tidak tahu bahwa Pondok Pesantren Moderen Gontor mempunyai silsilah dari Wali Sanga. Pada Desember 1998, saya diajak Gus Husnan Bey, cucu KH Zainuddin Fanani, salah satu pendiri Gontor, sowan ke ndalem Gus Dur di Warung Silah.

Rombongan kami diterima di salah satu tempat istirahat Gus Dur. Gus Dur membuka pembicaraan dengan menyebut silsilah Gontor. “Kakeknya Gus Husnan ini, Kiai Imam Hasan Besari merupakan guru dari Kakek saya. Kalau dilihat dari silsilahnya, Gontor merupakan keturunan dari dua wali, Sunan Gunung Jati dan Sunan Ampel.”

Penjelasan Gus Dur itu seperti menegaskan penjelasan Gus Husnan sebelumnya kepada saya tentang silsilah Gontor. Beliau mengatakan jika dilihat dari nasab, kakek dan nenek buyut beliau merupakan pertemuan dari Sunan Gunung Jati dan Sunan Ampel.

Kiai Santoso, yang merupakan ayah dari tiga pendiri Gontor, merupakan cicit dari Raden Sulaiman Djamaluddin yang merupakan keturunan ke-4 dari Sunan Gunung Jati. Sedangkan istri dari Raden Sulaiman Djamaluddin, yang merupakan cicit dari Kiai Imam Hasan Besari, mempunyai garis keturunan dari Sunan Ampel.

Keterkaitan antara Gontor dengan Wali Sanga ini yang di antaranya menjadi daya tarik bagi sebagian warga Nahdliyyin untuk mengirimkan anak-anak mereka belajar di Gontor. Yang menarik, Gontor selalu berpegang pada prinsip, “tidak mengikuti satu golongan dan berada di atas semua golongan”.

Sehingga karena slogan itu, Gontor pernah melahirkan dua ketua umum ormas Islam besar di Indonesia, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyyah. Kiai Hasyim Muzadi, Ketua Tanfidziyyah PBNU (1999-2009) diketahui merupakan alumnus Pesantren Gontor dan Dr. Din Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammadiyyah (2010-2015) juga alumnus Pesantren Gontor.

Kenangan bersama Kiai Syukri

Sebelum tahun 1998, saya mendapat info lebih banyak tentang KH. Abdullah Syukri Zarkasyi dari media massa. Pertemuan saya secara fisik dengan beliau, baru benar-benar terjadi pada bulan Maret 1998. Pertemuan itu berlangsung di kediaman sepupu beliau, Pak Rusydi Zainuddin Fanany di Kawasan Cawang.

Pada masa itu, saya dan 4 orang kawan dari UI memang sering berkumpul di kediaman Pak Zainuddin Fanani. Adalah cucu beliau, Gus Husnan Bey Fanani yang mengajak kami, para mahasiswa UI untuk mengadakan kegiatan diskusi malam sabtu di kediamannya.

Pertemuan pertama dengan Kiai Abdullah Syukri terjadi di tengah serunya perdebatan tentang kontribusi pemikiran modernis Nurcholish Madjid terhadap politik Islam di Indonesia. Rupanya Pak Syukri–sapaan Kiai Abdullah Syukri–mendengarkan dari jauh keseruan diskusi itu.

Mengetahui keberadaan paklik-nya yang tidak jauh dari lokasi diskusi, Mas Husnan mengajak kami untuk berkenalan. Pak Syukri pun tampak senang menyambut kami para mahasiswa yang kelihatan semangat berdiskusi.

Tanpa pikir panjang lagi, semua yang hadir mendaulat Pak Syukri untuk berbicara. Beliau langsung merespon permintaan itu. Bahasa yang disampaikan Pak Syukri simpel namun berbobot. Secara runtut beliau menyampaikan penjelasan tentang politik Islam mulai dari masa Nabi hingga pertarungan antarfaksi umat Islam kontemporer.

Terkadang di tengah penjelasan, beliau menyisipkan cerita tentang kenangan beliau berteman dengan Syaikh Muhammad Al-Ghazali, ulama terkenal al-Azhar, yang pernah berpolemik dengan Syaikh Al-Albani. Beliau juga menyelipkan pengalaman pribadi dengan Gus Dur, yang ternyata pernah sama-sama belajar di Al-Azhar University.

Dengan suara yang pelan, namun memuat pemikiran yang runtut, malam itu Pak Syukri memuaskan dahaga kuriusitas kami untuk memahami peta pemikiran Islam. Dari situ, kami baru menyadari bahwa kami didatangi seorang pakar kaliber internasional.

Pertemuan kedua dengan Kiai Syukri terjadi di Hotel Marcopolo, Cikini. Mas Husnan meminta kami ikut menjemput Pak Syukri yang ingin menginap di Cawang. Menurut kabar, Kiai Syukri tidak kerasan menginap di hotel.

Setelah melihat suasana tamu yang datang di situ, kami bisa memahami alasan beliau tidak betah. Pertemuan kedua dengan beliau, diisi dengan obrolan seputar politik pasca lengsernya Jend. Soeharto dari kursi kepresidenan. Pak Syukri memberi info bahwa Gus Dur akan memberi kejutan di tengah riuhnya atmosfer politik ketika itu. Dan satu tahun kemudian, prediksi Kiai Syukri itu terbukti.

Setelah 1998, kontak saya dengan Kiai Syukri terputus. Kawan-kawan anggota diskusi terpencar dalam aktivitas masing-masing. Kelompok Diskusi Cawang pun otomatis bubar. Di antara penyesalan dari bubarnya Diskusi itu adalah tidak menyimpan nomor Kiai Syukri. Padahal, saya berharap dapat menyambung silaturahmi dengan beliau.

Lama tidak terdengar, saya mendapat kabar Kiai Syukri wafat bersamaan dengan peringatan hari santri. Tokoh intelektual pesantren yang bersahaja itu memenuhi panggilan Rabb-nya. Umat Islam kembali kehilangan salah satu putera terbaiknya.

Kiai Abdullah Syukri bukanlah semata-mata kiai Gontor. Beliau adalah kiai lintas pesantren. Kedekatannya dengan Gus Dur menggambarkan kedekatan antara madzhab tradisionalis dan modernis di dalam khasanah pendidikan Islam. Entah kapan lagi, umat Islam akan mendapatkan tokoh seperti Kiai Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A. Bisa jadi, umat ini tidak akan mendapatkannya lagi.

Saya bersaksi bahwa beliau adalah min ahlil khair

رحم الله الشيخ كياهي عبدالله شكري زركشي رحمة الابرار وأسكنه فسيح جناته….له الفاتحة

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here