Politik ‘Mudzabdzabiin’

396

Ambillah sebagai misal partai-partai yang mengaku mengusung visi kebenaran, keadilan dan kesejahteraan bersama, serta dengan misi perjuangan untuk penerapan nilai-nilai agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta mengedepankan pengabdian kepada rakyat di atas kepentingan kelompok. Wajarkah jika partai-partai dengan visi demikian bergandengan tangan dengan partai-partai yang jelas dalam derap langkahnya mendukung sekularisme, hedonisme bahkan boleh jadi komunisme? Partai yang dalam sejarahnya kerap menjarah aset-aset negara untuk kepentingan kelompok tertentu? Bahkan hingga saat ini pun langkah kebijakan partai itu jelas-jelas mendukung pihak-pihak yang merugikan kepentingan rakyat mayoritas negara ini.

Apalagi jika partai-partai yang menumpang di atas kebesaran nama Islam sebagai dasarnya apakah masih dianggap wajar-wajar saja berangkulan dengan partai-partai yang demikian?

Terlepas dari strategi politik apapun yang akan dipakai sebagai pembenaran koalisi itu, common sense saya menolaknya. Saya yakin sekali jika mayoritas konstituen partai-partai politik itu sejalan dengan sikap saya ini.

Saya lebih jauh bahkan curiga, dan mudah-mudahan salah, jika partai-partai yang selama ini mendeklarasikan diri sebagai partai bersih, berintegritas, mendukung keadilan, menegakkan nahi munkar, dan mengedepankan pelayanan rakyat di atas kerakusan kekuasaan semata mulai kehilangan jati dirinya. Di saat partai-partai itu berangkulan dengan partai-partai yang jelas anti nilai-nilai keadilan serta tidak berpihak kepada rakyat banyak maka itu adalah pelecehan terhadap nilai-nilai yang diusungnya.

Atau mungkin lebih tepat jika saya memberikan nama kepada partai-partai itu dengan partai mudzabdzabiin atau partai yang terombang-ambing oleh kepentingan sesaat, apapun manifestasinya.

Saya sebagai orang yang tidak berpolitik, tapi peduli politik, punya harapan besar kiranya partai-partai harapan umat dan rakyat yang termarjinalkan itu selalu punya posisi yang jelas dan tegas berdasarkan prinsip dan visi yang diusungnya. Apalah arti sebuah prinsip jika hanya ada di atas kertas atau retorika kampanye semata. Tapi ketika bersentuhan dengan kepentingan sesaat dengan enteng nilai-nilai dan visi mulia itu dengan enteng dikesampingkan, bahkan dilecehkan dengan beribu justifikasi yang dibuat.

Dan semakin memuakkan pula ketika uang menjadi “maha” tunggal dalam proses itu. Permainan uang dalam politik memang jahat. Selain merendahkan nilai-nilai mulia yang diperjuangkan, begitu mudah menjual idealisme, juga menunjukkan imoralitas sebagian politisi yang mengaku memperjuangkan al-haq (kebenaran) dan al-adl (keadilan).

Maafkan saya kalau kembali mempertanyakan, di mana pernyataan selama ini bahwa politik Islam itu adalah politik keteladanan?

“Bingung,bingung kumemikirkan”, kata nyanyian kasidahan klasik. []

1
2
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here