Politik dan Masjid

459

Masjid dan penyadaran politik umat

Perlu diingat kembali bahwa bagi seorang Muslim yang sadar agama, masjid bukan sekedar tempat sujud dalam arti ritual. Masjid justru pusat sujud dalam arti menyeluruh. Sujud dalam arti menyeluruh bagi seorang Muslim adalah pengabdian totalitas seorang hamba kepada Rabbnya.

Dan karenanya masjid harus menjadi pusat pembangunan kehidupan umat. Itulah yang dicontohkan oleh baginda Rasulullah SAW ketika berpindah ke Madinah. Membangun masjid adalah fondasi awal dari pembangunan kehidupan keumatan (komunitas).

Oleh karena Islam bukan sekadar agama dalam arti sempit (kumpulan aturan-aturan ritual semata) maka sayogyanya politik menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keagamaan.

Memang diakui atau tidak pandangan ini dapat membawa kepada pemahaman kaku dan sempit yang akhirnya melahirkan sikap-sikap politik yang ekslusif dan sempit. Pandangan seperti ini boleh saja melahirkan perpecahan dan keresahan.

Oleh karenanya diperlukan pemahaman yang imbang, inklusif dan rasional. Pemahaman seperti ini akan melahirkan penahaman dan prilaku politik yang wajar, imbang dan inklusif.

Memisahkan politik dari agama (tentu juga rumah ibadah) memang menjadi keharusan bagi negara-negara yang menganut paham sekuler. Karena memang agama sama sekali tidak ada kaitannya dengan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tapi di sinilah keunikan Indonesia. Bahwa Indonesia memang bukan negara agama. Tapi agama menjadi bagian mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karenanya politik dan agama tidak wajar dipisahkan. Atau sangatlah tidak sesuai jika parlemen atau istana negara dipisahkan dari masjid atau rumah ibadah.

Setuju atau tidak setuju kenyataannya memang demikian. Agama dan kehidupan publik di negara Indonesia tidak bisa dipisahkan. Keputusan publik yang tidak menghiraukan nilai-nilai agama justeru dapat dianggap sebagai kebijakan yang secara inheren (mendasar) bertentangan dengan dasar negara, Pancasila.

Oleh karenanya jangan secara simplistik mengambil kesimpulan bahwa politik harus dijauhkan dari masjid. Sebaliknya masjid harus dijadikan sebagai salah satu pusat penyadaran atau pendidikan politik bagi umat. Alangkah ruginya secara politik umat ini jika masjid hanya dijadikan tempat ibadah ritual.

Selain tidak sejalan dengan pemaknaan masjid yang sesungguhnya, juga dicurigai jangan-jangan hal ini adalah bagian dari pembodohan agar umat selalu alergi, bahkan melihat politik sebagai racun agama.

Hal lain yang perlu dikritisi adalah jangan sampai pelarangan ini identik dengan masjid-masjid semata. Karena kenyataannya bukan sesuatu yang baru jika di rumah-rumah ibadah lainnya juga kerap kali disampaikan isu-isu politik. Bukti-bukti itu dapat ditemukan di berbagai media sosial, termasuk YouTube, ditemukan banyak ceramah-ceramah politik di rumah-rumah ibadah non Islam.

Kesimpulannya saya setuju denganp pelarangan politisasi masjid. Tapi saya tidak setuju dengan pelarangan politik di masjid. Semoga bisa dipahami dan tidak gagal paham. Insya Allah!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here