Pesona Imam Syafi’i

1035
Ilustrasi Keutamaan Ilmu

Muslim Obsession – Suatu hari, Imam Malik ibn Anas sedang membacakan hadits-hadits Rasulullah Saw. Para murid duduk menunduk, mencatat dengan khidmat.

Namun, di tengah majelis, seorang pemuda tampan bercambang tipis, yang janggutnya tak melampaui genggaman, tampak mencolok pesonanya.

Ia mengenakan surban merah dan jubah senada, yang bersahaja namun anggun. Dia asyik memainkan telunjuk kanannya seakan menari di telapak tangan kiri.

Melirik sekilas, Imam Malik agaknya terganggu dengan gerak-geriknya itu. Ketika majelis bubar, beliau memanggil sang pemuda. “Maju kesini hai anak muda.”

Bertanyalah Imam Malik akan jatidiri pemuda itu. Beliau temukan betapa keluhuran nasab, kerupawanan jasad dan kecerdasan berhimpun dalam diri pemuda itu.

“Sungguh, betapa sempurna sifat-sifat pribadimu, tapi sayang buruk sekali adabmu!”

Pemuda itu terkejut, “Wahai Imam, hal apakah yang membuat Imam tidak berkenan pada diriku?” wajah pemuda itu memucat.

“Betapa ketika aku sedang meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah Saw. kau tidak menyimak dengan hormat. Engkau justru asyik bermain dengan jari dan telapak tanganmu.”

“Jika itu maksud Imam, Masyaallah sesungguhnya aku maksudkan itu untuk menulis hadits yang kau bacakan.”

“Mana, coba perlihatkan tangamu,” perintah Imam.

Betapa mengejutkan, Imam tidak melihat sedikit pun tulisan di tangannya.

“Yang kumaksud wahai Imam,” ujar pemuda itu terbata-bata dan matanya mulai berkaca-kaca. “Ini adalah caraku agar dapat lebih mudah menghafalnya di benakku.”

“Sungguh, aku belum pernah sekali pun melihat seorang Ahli Ilmu yang berbuat seperti itu.” ujar Imam.

“Iya wahai Imam, tapi sejak kecil aku hidup dalam kemiskinan hingga tidak mampu membeli kertas dan pena. Lalu cara inilah yang membuatku mengingat pelajaran.”

“Baiklah kalau begitu, coba perlihatkan padaku hafalanmu itu!” perintah sang Imam.

“Kemudian pemuda itu berkata, “Yang pertama dari keseluruhan hadits Rasulullah Saw. yang telah kau sampaikan, engkau berkata, “Balaghanii ‘an Nafi’… An Ibni Umar … ‘An Shahibi Hadzal Qabri…”

Demikianlah sang pemuda itu menguntai satu demi satu berpuluh-puluh hadits yang dihafalnya dalam majelis itu, dengan hafalan tanpa cacat. Kefasihan tata bahasa yang sempurna dan suara merdu.

“Engkau bahkan tak keliru satu huruf pun!” Kini, sang Imam yang berkaca-kaca.

“Kau katakan tadi namamu Muhammad ibn Idris Asy-Syafi’i? benarkah?”

Pemuda itu menjawab, “Betul wahai Imam.”

“Jadi, apa tujuanmu meninggalkan Makkah dan datang kemari?”

“Mengunjungi kekasih kita Rasulullah Saw.” Sebutir air matanya menetes di pipi pemuda itu ketika dia menengok ke seberang Raudhah Asy-Syarifah tempat sang Nabi berbaring.

“Dan duduk di hadapanmu untuk menadah ilmu,” lanjutnya sambil menghadapkan wajah pada Imam Malik dengan senyum takzhim. (Vina)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here