Pesan Penting Gus Mus kepada Gus Baha

448

Jakarta, Muslim Obsession – Kiai sepuh Nahdlatul Ulama (NU) KH. Mustofa Bisri atau Gus Mus memberikan pesan penting kepada KH Bahauddin Nur Salim atau Gus Baha. Ia meminta agar Gus Baha dan para ustadz yang lain untuk mengkaji secara mendalam ayat-ayat yang terkandung dalam Surat Al Hujurat.

Pesan tersebut disampaikan Gus Mus melalui rekaman video ceramahnya di kanal Youtube Ngaji Kiaiku berjudul Pesan Syaikhina KH A. Mustofa Bisri untuk Gus Baha dan Kiai-kiai yang ditayangkan 26 November 2020.

Gus menyampaikan pesan itu bukan tanpa alasan. Ia melihat isi yang terkandung dalam Surat Al Hujurat punya makna mendalam. Surat itu membahas banyak hal tentang kehidupan sosial.

“Surat Al Hujurat isinya apa saja, saya itu pengen menganjurkan Surat Al Hujurat dibaca tiap hari, pahami betul di sana ada ayat luar biasa untuk kepentingan kita dalam pergaulan sosial,” katanya Gus Mus.

Dalam surat Al Hujurat terdapat pesan agar manusia berhati-hati menerima kabar dari orang lain. Terlebih jika kabar itu datang dari orang fasik. Hendaknya semua informasi atau berita harus diteliti kebenarnya, karena orang fasik kerap menyebarkan berita bohong. Keterangan itu ada dalam ayat 6.

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”

Lalu ada lagi ayat 13 yang meminta umat manusia, bukan umat beriman, untuk saling mengenali segala macam identitas manusia di dunia.

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”

Belum lagi ayat 11 yang mana melarang kaum beriman mengolok-olok dan mencela orang lain.

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Gus Mus merasakan semakin kesini banyak orang malah senang mengolok-olok orang lain pihak lainnya. Kondisi ini menunjukkan, kaum muslim belum memahami betul kandungan Surat Al Hujurat.

“Buktinya nggak dibaca, sekarang banyak nggak saling memahani dengan orang, sekarang orang saling olok-olok orang, itu biasa,” ujar Gus Mus.

Kemudian Gus Mus melanjutkan petikan ayat 12 Surat Al Hujurat yang memerintahkan kaum beriman untuk menjauhi prasangka dan mencari kesalahan orang lain.

Menurut Gus Mus kalau orang Islam paham dengan ayat ini tapi kok masih melakukan perbuatan yang dilarang Allah itu, artinya orang Islam nggak punya malu.

“Kalau baca itu, kalau masih malu orang Islam mestinya malu dengan dirinya sendiri, Quran pedomannya tapi kelakuannya sama sekali nggak mencerminkan Quran sama sekali. Apa bedanya dengan orang yang nggak memedomani Quran. siapa sekarang umat Islam yang melakukan sesuatu bukan karena kepentingan, bukan politik tapi karena pedomannya Quran ini? Berani nggak bukan hanya katakan pedomanku Quran tapi katakan Quran itu jadi pedoman,” katanya.

Menyinggung pentingnya Surat Al Hujurat, Gus Mus sampai meminta Gus Baha untuk mengaji khusus surat ke-49 tersebut, supaya bisa menjelaskannya kepada orang awam.

“Jangankan yang awam, yang di atasnya awam saja lihat kelakuannya cocok nggak (dengan Quran?). Kyai dan ustaz suruh ngaji soal Hujarat dulu, suruh baca. Gus Baha juga suruh ngaji Hujarat biar viral biar viral Hujarat ini, dimaknai kalau nggak ini kan pedoman,” jelasnya. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here