Pesan Pak Natsir: PPP Ubah Jadi Partai Pembangunan Persatuan

997

Jakarta, Muslim Obsession – Bila PPP (Partai Persatuan Pembangunan) ingin menjadi besar, namanya harus diubah menjadi Partai Pembangunan Persatuan. Demikian pesan tokoh legendaris Partai Masjumi, H. Mohammad Natsir, yang pada akhir 1960-an juga menjadi inisiator kelahiran Parmusi (Partai Muslimin Indobesia) sebagai reinkarnasi Masjumi, dan juga pendiri DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia).

Menjelang deklarasi PPP pada 5 Januari 1973, Ketua Umum PBNU KH. Idham Chalid yang kemudian menjadi Presiden PPP menemui Natsir. Ia menyampaikan gagasan rencana fusi politik empat partai politik islam, yakni Partai NU, Parmusi, Partai Islam Perti, dan PSII ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sesuai regulasi politik pemerintah Orde Baru yang hendak melakukan penyederhanaan partai.

Ketika itu Natsir bertanya kepada Idham Chalid, kenapa menggunakan nama Partai Persatuan Pembangunan, dan Idham menjawab karena program prioritas pemerintahan Presiden Soeharto hendak melakukan pembangunan. Karena itu umat Islam diharapkan turut mendukung penuh program pembangunan nasional Orde Baru.

Mendengar penjelasan tersebut, Natsir menyarankan agar namanya diubah menjadi Partai Pembangunan Persatuan (tetap disingkat PPP). Karena yang dibutuhkan untuk jangka panjang adalah membangun persatuan umat (ukhuwah islamiyah).

Bila namanya Partai Persatuan Pembangunan, kata Natsir, PPP tidak akan sampai 50 tahun akan bubar, karena para pengurusnya akan terlibat conflict of interest berebut kue pembangunan.

“Sekarang ini usia PPP sudah 45 tahun, dan sudah ada tanda-tanda partai ini akan hancur ditinggal umat Islam,” ujar anggota DPR RI dari Fraksi PPP Syaifullah Tamliha usai menemui Ketua Umum Parmusi, H. Usamah Hisyam, di ruang Chairman Dharmapena Group, perusahaan milik Usamah yang membawahi Obsession Media Group, di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan, Kamis (18/1/2018).

Seperti diketahui, sejak fusi politik ke dalam tubuh PPP tahun 1973, Parmusi menjadi ormas Muslimin Indonesia (MI), yang pada 26 September 1999 dideklarasikan kembali menjadi Parmusi (Persaudaraan Muslimin Indonesia) di Yogyakarta.

Tamliha mengatakan, ia mengungkapkan dialog antara Idham Chalid dan Natsir kepada Usamah sebagai suatu amanah yang harus disampaikannya. Tamliha mengaku dialog tersebut disampaikan langsung Idham Chalid kepadanya tahun 1997.

Tamliha merupakan anak kandung salah seorang ulama besar Kalimantan Selatan, yakni KH Ismail, pemilik pondok pesantren Norma Islam di Amung Tai, Ulu Sungai Utara. Ismail adalah saudara sepupu Idham Chalid yang juga berasal dari Kalimantan Selatan.

“Sebagai saksi, waktu Pak Idham menyampaikan dialog dengan Pak Natsir itu, ada juga tokoh senior PPP Pak Zain Bajeber. Silakan cek kepada beliau,” tandas Tamliha usai pertemuan dengan Usamah.

Politisi yang berasal dari keluarga Nahdliyin ini mengungkapkan, pihaknya sengaja menemui Usamah untuk melakukan langkah-langkah penyelamatan PPP.

“Saya sudah menemui pimpinan Perti dan Serikat Islam. Nah tadi saya menemui Pak Usamah sebagai ketua umum Parmusi,” ujar Tamliha.

Mantan Wakil Ketua FPP DPR RI ini mengaku sudah menerima berbagai masukan dari ulama-ulama dari berbagai daerah. Hampir semua anggota FPP DPR RI dan para pimpinan PPP di daerah galau, karena PPP mulai ditinggalkan umat.

“Kita paham, umat Islam kecewa dengan kepemimpinan PPP. Kita khawatir dalam Pemilu 2019 PPP tidak memenuhi parliament threshold 4%. Karena itu harus ada langkah-langkah penyelamatan,” ujarnya.

Namun, Tamliha mengakui pihaknya belum berhasil meyakinkan Usamah. Ia memahami kekecewaan Usamah terhadap langkah-langkah politik PPP sebagai partai berazas Islam yang menabrak nilai-nilai ilahiyah dalam sejumlah pilkada, terutama dukungan terhadap Ahok.

“Sementara Pak Usamah dan Parmusinya tokoh aksi 212 yang sangat kencang turut menjatuhkan Ahok dalam pilgub Jakarta lalu,” kata Tamliha.

Selain itu, kata Tamliha, Usamah melihat belum ada desakan yang signifikan dari umat Islam untuk menyelamatkan PPP. Sebaliknya umat sangat muak menyaksikan langkah-langkah politik para pimpinan PPP.

Usamah sendiri mengaku, tidak lagi tertarik berbicara tentang politik PPP bilamana para pelaku pimpinan PPP masih sama seperti sekarang. Apalagi dalam tiga tahun terakhir ia telah mencanangkan Parmusi sebagai connecting muslim yang lebih fokus dengan gerakan dakwah.

“Kalau sekarang kader-kader Parmusi lebih fokus memikirkan dakwah Islamiyah, insya Allah, akan dapat pahala. Kalau fokus politik, pahala belum tentu dapat, yang ada lebih banyak mudharatnya, bila kita tidak mampu mengemban azas islam secara sungguh-sungguh seperti yang dipertontonkan Romy dkk,” ujar Usamah.

Ketika didesak, bukankah Parmusi adalah pendiri PPP dan wajib menyelamatkan PPP, Usamah berkelit bila pimpinan PPP masih dijabat Romahurmuzy, langkah penyelamatan PPP akan sia-sia.

“Penyelamatan PPP hanya bisa dilakukan oleh kader-kader struktural PPP sendiri. Terutama para Ketua DPW dan DPC seluruh Indonesia dengan adakan Muktamar Luar Biasa. Ini butuh dukungan 75% DPC. Lha kalau DPC-nya masih senang dengan kepemimpinan Romy, apa yang mau diselamatkan?” kata Usamah. (Albar)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here