Pesan Jihad Abdullah bin Mubarok

65

Muslim Obsession – Abdullah bin Mubarok merupakan salah satu tokoh pejuang sekaligus seorang ulama tabiut tabi’in yang menghabiskan hidupnya di jalan Allah.

Abdullah bin Mubarok lahir di Marw pada tahun 118 H. Tumbuh pada masa khilafah Umawiyah, yakni pada masa Hisyam bin ‘Abd al-Malik.

Ia meninggal pada tahun 181 H saat pemerintahan Harun ar-Rasyid yang merupakan khalifah pada pemerintahan ‘Abbasiyah.

Jalan hidup Abdullah bin Mubarok penuh dengan kisah-kisah hikmah. Ia menorehkan karya besar pertama, Kitabul Jihad. Karya ini merupakan buku pertama yang secara khusus membahas jihad.

Abdullah bin Mubarok selalu mengingatkan akan pentingnya jihad kepada kaum muslimin. Berikut salah satu surat yang beliau tulis kepada sahabatnya Fudhail bin Iyadh, dikutip dari Kiblat:

Wahai yang beribadah di duo kota suci, jika kalian melihat kami

Maka kalian akan paham bahwa engkau sedang berain dalam ibadah

Siapa yang lehernya dipenuhi oleh air matanya

Maka leher-leher kami dipenuhi oleh darah-darah kami

Atau siapa yang kudanya lelah dalam kebatilan

Maka kuda kami lelah pada hari bertempur dengan musuh

Wangi parfuam untuk kalian, sedangkan wewangian kami

Adalah debu yang memenuhi kuku sebagai selimut kami

Membaca syair yang dikirimkan oleh Ibnul Mubarok di atas, mata Fudhoail bin Iyadh meneteskan air mata, sembari berkata, “Betul yang disampaikan Abu Abdirrahman (Fudhail bin Iyadh) dan sungguh dia telah memberi nasehat.”

 

Abdullah bin Mubarok mengajak kepada para ahli ibadah di Baghdad untuk terjun ke medan jihad.

Abdullah bin Mubarok berkata:

Wahai ahli ibadah yang memakai kain wol

Dan di waktu dhuha dijuluki sebagai ahli ibadah

Mari terjun ke perbatasan (ribath) dan beribadahlah di sana

Baghdad bukanlah tempat orang zuhud

Baghdad adalah tempat para raja

Dan tempat untuk para pembaca yang mencari ilmu

Abdullah bin Mubarok tidak hanya ahli dalam nasihat, tapi beliau juga lihai dalam berperang.

Kisah ini, setidaknya pernah diceritakan oleh Ubaidullah bin Sinan bahwa dirinya bersama Abdullah bin Mubarok dan Muktamir bin Salman di Tartus, ketika itu ada yang berteriak, pasukan musuh datang, pasukan musuh datang.

Ketika kedua pasukan sudah saling berhaapan, ada seorang pasukan musuh yang keluar dari barisan menantang perang tanding. Ajakan itu disambut oleh seorang pasukan kaum muslimin, kesatria Romawi tadi menang, dia menantang lagi, menang lagi, dia menantang lagi dan menang, begitu terus hingga Kesatria Romawi tadi berhasil mengalahkan 6 orang kaum muslimin dalam perang tanding.

Dia menantang lagi, dan seketika itu Ibnul mubarok berwasiat kepada Ubaidullah bin Sinan, “Jika aku terbunuh maka lakukan ini dan itu..” Abdullah bin Mubarok keluar menerima tantangan dari kesatria Romawi yang telah membunuh 6 pasukan kaum muslimin, setelah betempur cukup sengit Abdullah bin Mubarok mampu mengalahkannya. Hingga beliau mengalahkan 6 orang pasukan Romawi.

Setelah berhasil mengalahkan 6 orang pasukan Romawi Abdullah bin Mubarok hilang dalam kerumunan dan kembali ke tempat semula.

Di dalam kancah peperangan Abdullah bin Mubarok adalah seorang yang mati-matian dalam berperang, namun ketika datang waktu pembagian ghanimah dirinya menghilang, beliau berkata, “Amalanku dilihat oleh Dzat yang aku berperang karena-Nya.” (*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here