Persatuan Adalah Soal Hati

51
Mohammad Natsir (Foto RDS FM)

Muslim Obsession – Soal persatuan yang sebenar-benar persatuan bukan soal ilmu, bukan sekadar pengetahuan bahwa persatuan baik, dan bahwa perpecahan itu tidak baik. Persatuan sebenar-benar persatuan tidak bisa dibeli dengan harta dan materi.

Soal persatuan ialah soal qalbu, soal hati. Soal wijhah, yakni tujuan hidup yang diniatkan oleh hati hendak dicapai. Dan soal kebersihan amal untuk mencapai tujuan itu dengan keikhlasan hati.
Wijhah, tujuan hidup dan tujuan mati setiap mukmin (orang beriman) hanyalah satu, yaitu keridhaan Allah semata-mata. Keridhaan Allah! Bukan keridhaan manusia. Dan bukan “asal aku senang” atau “asal golonganku senang”.

Wijhah mencari keridhaan Allah yang telah dipegang oleh orang-orang yang beriman inilah, ikatan pemersatu umat mukminin.
“Carilah keridhaan Allah Yang Satu, agar dapat kita bersatu. Jangan cari benda-benda yang bertebaran, nanti kita akan bertebaran lantarannya,” demikian amanat seorang pemimpin Islam Indonesia, Ki Bagus Hadikusumo.

Tafarruq dan tanazu, sikut menyikut timbul oleh karena di tengah-tengah perjalanan wijhah yang diniatkan dan dirumuskan semula jadi samar-samar dan kabur.
Yang tadinya hendak ditanam hubbullah dan muhafatullah, yakni cinta dan takut kepada Allah; yang tumbuh di tengah perjalanan ialah hubbuljah wa hubbul maal wa karahiyatul maut, yani senang kedudukan, senang harta, dan takut mati.
Yang dimaksud tadinya ialah da’watun ilallah, memanggil umat kepada Allah; yang tumbuh di tengah perjalanan ialah da’watun ilayya, jual tampang untuk aku.
Yang tumbuh ialah ananiyah, akuisme dalam berbagai bentuk dan coraknya.
Inilah yang menyebabkan tafarruq, perpecahan.

Tafarruq timbul apabila perbedaan pendapat ditunggangi oleh hawa nafsu. Dan pihak-pihak yang bersangkutan sama-sama tidak tahu ke mana “tempat pulang”, yaitu tempat memulangkan persoalan bila tidak diperoleh persetujuan.

Di kalangan mereka yang kehilangan wijhah itu, bila ada perbedaan pendapat, yang terjadi bukanlah musyawarah, bukan pertukaran hujjah billati hiya ahsan (dengan cara yang terbaik) untuk mencari kebenaran. Yang timbul ialah pertengkaran, saling cap mencap, tanabuz bil alqab, saling ejek mengejek, untuk mencari kemenangan “pengaruh” pribadi atau golongan.

Yang menyebabkan perpecahan, bukanlah perbedaan pendapat! Yang perlu dijaga, dan di mana perlu diperbaiki, ialah “nawaitu” para pemimpin dan anggota-anggota organisasi Islam agar tetap bersih. Wijhah mereka tetap: keridhaan Ilahi semata-mata. Dan mutu ibadah, mu’amalah, dan akhlak mereka bertambah tinggi. Jangan malah merosot.
Agar dengan demikian terbangunlah suatu rumah seperti dilukiskan al-Quran surat al-Fath ayat 29.

Umat yang demikian itu tidak ditegakkan secara dadakan, tetapi dengan melalui proses didikan, latihan, ujian, lahir dan batin, setaraf demi setaraf.
Menebar benih, menanam, memupuk, bersiang, melindungi dari gangguan kedinginan atau kepanasan, itulah tugas organisasi dan para pemimpinnya.

(Dikutip dari M. Natsir, Mempersatukan Umat, Jakarta, CV Samudera, 1983)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here