Pernah Buta, Imam Al-Bukhari Bisa Sembuh Berkat Hal Ini

497

Muslim Obsession – Sebagian besar umat Islam hampir pasti mengenal perawi hadits masyhur, Imam Al-Bukhari rahimahullah.

Al-Jami’us Shahih Al-Musnad min Haditsi Rasulillah wa Sunanihi wa Ayyamihi yang kemudian terkenal dengan nama kitab Shahih Al-Bukhari merupakan salah satu karya fenomenal Imam Al-Bukhari.

Untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadits shahih, ia menghabiskan waktu selama 16 tahun dengan mengunjungi berbagai kota. Menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi haditsnya.

Di antara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Di Baghdad, Bukhari sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar Imam Ahmad bin Hanbali.

Dari sejumlah kota-kota itu, ia bertemu dengan 80.000 perawi. Dari merekalah beliau mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits.

Namun, jarang orang ketahui tentang Imam Al-Bukhari adalah bahwa ia pernah mengalami kebutaan.

Imam al-Lalika`iy meriwayatkan di dalam kitabnya Syarh as-Sunnah dan Ghanjar di dalam kitabnya Taariikh Bukhaara mengisahkan sebagai berikut:

“Sejak kecil Imam Al-Bukhari kehilangan penglihatan pada kedua matanya alis buta. Suatu malam di dalam mimpi, ibunya melihat Nabi Allah Ibrahim ‘alaihissalam yang berkata kepadanya, ‘Wahai wanita, Allah telah mengembalikan penglihatan anakmu karena begitu banyaknya kamu berdoa.”

Pada pagi harinya, ia melihat anaknya dan ternyata benar, Allah telah mengembalikan penglihatannya. (Asy-Syifa` Ba’da Al-Maradh karya Ibrahim bin ‘Abdullah al-Hazimy sebagai yang dinukilnya dari kitab Hadyu as-Saary Fi Muqaddimah Shahih al-Buukhary karya al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalany)

Peristiwa yang dialami Imam Al-Bukhari menegaskan sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dahsyatnya doa orangtua.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orangtua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang dizholimi.” (HR. Abu Daud).

Kisah Imam Al-Bukhari dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seyogianya menjadi catatan penting bagi orangtua dan seorang anak. Tentunya agar kedua orangtua dan anak berhati-hati dalam membangun hubungan baik di antara mereka.

Seorang anak harus benar-benar berbakti kepada kedua orangtua agar mereka ridha. Karena hanya keridhaan dari kedua orangtua sajalah Allah subhanahu wa ta’ala pun akan ridha kepada anak tersebut.

Begitu pula sebaliknya, bahwa murka kedua orang tua bisa menjadikan Allah Ta’ala murka kepada anak tersebut.

“Dari Abdullah bin ’Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orangtua,” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad).

Wallahu A’lam bish Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here