Permudah, Jangan Persulit!

2619

Oleh: Dr. KH. Husnan Bey Fananie, MA (Dubes Indonesia untuk Azerbaijan)

Salah satu “penyakit” sosial yang berkembang di masyarakat adalah sulitnya mendapatkan kemudahan. Seringkali kita mendengar seseorang mengeluhkan berbelitnya urusan sepele di masyarakat. Untuk sebuah surat izin tempat usaha, misalnya, seseorang kadang harus mengeluarkan sejumlah uang yang tak kecil jumlahnya. Padahal jika menelisik ketentuan yang benar, biaya yang dikeluarkan tak semestinya sebesar itu.

Urusan yang mudah dibuat menjadi berbelit-belit, sepertinya oknum-oknum itu tak puas jika belum “mengerjai” orang lain karena merasa punya kuasa. Sok kuasa, sok arogan, mungkin begitu istilah yang tepat bagi orang seperti itu. Mungkin saja hal ini dibuat menjadi peluang mendapat uang haram dengan menawarkan sejumlah besaran rupiah agar urusan orang lain menjadi lancar.

Seorang lainnya juga mengeluhkan kondisi anaknya yang tidak bersekolah karena ia tidak cukup mampu membayar uang gedung. Sementara seorang Ibu mengeluhkan tingginya harga bawang putih di pasar. Belakangan diketahui jika bawang putih “dimainkan” oleh orang-orang tidak bertanggungjawab sehingga hilang di pasaran.

Jika melihat kondisi riil, sejatinya, saat ini kita akan banyak menemukan kesulitan-kesulitan yang tidak semestinya. Contoh kecil saja, di kendaraan angkutan umum kita sering melihat orang tua renta harus berdiri tanpa seorangpun memberinya kesempatan untuk duduk.

Di jalan para pengendara mobil atau motor saling berebut tanpa mengindahkan faktor keselamatan untuk dirinya maupun orang lain. Gaya serobot juga kita temukan di banyak tempat, seperti bank maupun loket karcis. Lebih parah, kita kerap mendengar sejumlah korban berjatuhan saat antrean dalam pembagian zakat, daging kurban, maupun sedekah sembako.

Beragam catatan di atas hanyalah bagian kecil peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sosial di sekitar kita. Miris rasanya jika kita melihat semua itu terjadi di tengah sebuah bangsa yang dikenal sangat ramah, santun, dan memiliki tradisi gotong royong dan tepo seliro.

Bahkan dalam sebuah kesempatan, karena bersenggolan pun dapat terjadi tawuran massal. Salah paham langsung disikapi secara reaktif dan berakibat pada terputusnya tali silaturrahim. Jelas sudah, bahwa degradasi moral tengah menghantam masyarakat kita!

Jika ditelisik, sejatinya negeri ini memiliki nilai-nilai luhur dalam masyarakat yang sangat adiluhung. Ditambah lagi datangnya Islam dengan konsep tatanan kehidupan yang menyejukkan dan memberikan kebahagiaan bagi pemeluknya. Dengan adanya dua komponen tersebut, semestinya Indonesia menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghafur, negeri yang gemah ripah, repeh, rapih, negeri yang diridhai Allah ‘Azza wa Jalla karena dihuni masyarakat beradab.

 

Mulai dari diri sendiri

Untuk memutuskan kekangan degradasi moral tentu dibutuhkan komitmen bersama. Paling tidak, mulailah dari diri sendiri. Lakukan saja hal-hal kecil demi kemaslahatan bersama. Misalnya, tanamkan pada diri kita untuk tidak mempersulit urusan orang lain. Tentu saja, urusan-urusan yang dimaksud adalah yang berakitan dengan hal-hal positif.

Jika Anda seorang pejabat, janganlah melakukan pungutan liar dengan alasan yang tidak masuk akal, tetapi mudahkanlah urusan masyarakat agar mereka dapat hidup dan berusaha dengan bahagia. Jika Anda seorang guru, bimbinglah siswa-siswi dengan baik agar mereka mampu mencerna ilmu pengetahuan dengan mudah. Jika Anda seorang atasan, berlakulah bijaksana terhadap bawahan, sehingga tercipta sinergi kuat dalam membangun sebuah relasi. Jika Anda pedagang, janganlah mempersulit urusan dalam jual-beli sehingga keberkahan akan menjadi milik Anda.

Hal-hal positif seperti di atas, sejatinya, dapat kita lakukan oleh siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Apapun profesi dan pekerjaan yang kita lakukan, yakinkan dalam diri kita masing-masing bahwa kita mampu melakukannya. Yakinkan pula dalam diri bahwa memudahkan urusan orang lain adalah bagian dari ibadah kita kepada Allah Swt.

Terkait hal ini, kita dapat mengacu pada sebuah hadits Rasulullah Saw.: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada Hari Kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya,” (HR. Muslim dari Abu Hurairah ra. Lihat juga Kumpulan Hadits Arba’in An-Nawawi hadits ke-36).

Hadits di atas, sesungguhnya menyiratkan kepada kita bahwa mempermudah urusan orang lain sangatlah dianjurkan, bahkan hukumnya sudah menjadi perintah. Pesan ini sesungguhnya tidak saja berlaku bagi sesama muslim, namun juga berlaku bagi manusia secara umum. Islam mengajarkan kepada kita untuk mempermudah urusan setiap orang tanpa membedakan suku, agama, ras atau pun golongan berdasarkan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan.

Mari kita perhatikan potongan kalimat yang berbunyi: “Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya”.

Kalimat ini maksudnya ialah bahwa seseorang apabila punya keinginan kuat untuk menolong saudaranya, maka sepatutnya harus dikerjakan, baik dalam bentuk kata-kata ataupun pembelaan atas kebenaran, didasari rasa iman kepada Allah ketika melaksanakannya.

Jika Allah ‘Azza wa Jalla saja menghargai perilaku terpuji tersebut, tentu saja begitu pula dengan Rasulullah Saw. Dalam sebuah hadits diterangkan, suatu ketika Rasululah Saw. pernah ditanya oleh salah seorang sahabat:

“Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling dicintai Allah dan apakah perbuatan yang paling dicintai oleh Allah?” Rasulullah Saw. menjawab, “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain. Sedangkan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberikan kegembiraan kepada orang lain atau menghapuskan kesusahan orang lain, atau melunasi hutang orang yang tidak mampu untuk membayarnya, atau memberi makan kepada mereka yang sedang kelaparan. Dan jika seseorang itu berjalan untuk menolong orang yang sedang kesusahan itu lebih aku sukai daripada beri’tikaf di masjidku ini selama satu bulan,” (HR. Thabrani).

Nah, kini saatnya giliran kita untuk memperbaiki akhlak pribadi dengan berbuat kebaikan kepada sesama, siapapun orangnya. Kita bantu kesulitan orang lain agar urusannya menjadi mudah. Mari kita mulai dari diri sendiri, untuk membuat perubahan besar dalam masyarakat yang lebih luas.

Wallahu A’lam bish Shawab.

2 KOMENTAR

  1. Allahuakbar
    Apa yg ditulis Dubes Dr Husnan Bey ini betul betul perupakan problem utama bangsa Indonesia.
    Bermula dari rusaknya moral maka rusaklah segala tatanan kehidupan.
    Semoga Allah membimbing bangsa ini utk menuju kehidupan yg jauh lebih baik

  2. Setuju Pak Dubes……tapi terkadang manusia selalu ingin mudahnya saja yang diambil….kesulitannya dihindari. Mudah mengatakan mestinya segala sesuatu itu dipermudah tapi sulit mewujudkannya. Mewujudkannya dihindari, mengatakannya berkali-kali…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here