Perkembangan Teknologi Jadi Tantangan Dakwah

1178
Teknologi (Foto: Sace)

Jakarta, Muslim Obsession – Menguasai teknologi menjadi tantangan dakwah di era sekarang dan masa mendatang. Demikian dikatakan Plt Sekretaris Jenderal M Nur Kholis Setiawan saat menyampaikan sambutan pada acara Multaqa Du’at Nasional dan Literasi Keuangan Syariah, di Jakarta, Senin (24/9/2018).

M Nur Kholis Setiawan yang mewakili Menteri Agama menyampaikan bahwa zaman sekarang ini perkembangan dakwah semakin pesat seiring dengan perkembangan teknologi.

Untuk itu, dia mengajak pendakwah untuk mampu menyelami perkembangan zaman yang ada.

M Nur Kholis Setiawan (Foto: Kemenag)

Menyitir pandangan sosiolog Karel Hans, M Nur Kholis memandang bahwa generasi Z memiliki sudut pandang unik mengenai karier dan cara meraih kesuksesan.

“Generasi Z melihat fenomena kehidupan sudah tidak ada batas dengan adanya perkembangan tehnologi,” kata M Nur Kholis Setiawan, melalui siaran pers Kemenag RI.

Selain teknologi, tantangan dakwah masa kini terkait paham keagamaan. Kata M Nur Kholis Setiawan, banyak kalangan pendakwah sekarang ini memahami paham keagamaan dengan teks dan meninggalkan konteks. Maka, bagaimana kita mampu mendesiminasikan pemahaman moderasi dalam kehidupan di Indonesia.

Akan hal ini, M Nur Kholis Setiawan, terinspirasi pada pemikiran Abu Hasan Sadzily yang menyebutkan, “Ketahuilah walau thariqah itu banyak, namun akan selalu kembali pada dua sumber, yaitu pengetahuan (teks books) dan amal (ijtihadi).

M Nur Kholis Setiawan mengapresiasi atas kiprah dan peran MUI yang memberi ruang kerjasama kepada segenap umat agar senantiasa dapat berkontribusi dalam pengembangan keumatan untuk pembangunan dan pemberdayaan warga bangsa.

Ketua Komisi Dakwah MUI Cholil Nafis melaporkan bahwa kegiatan ini mengusung tema peningkatan kualitas dai untuk menjawab perubahan sosial dan problematika kebangsaan.

Hadir seluruh pengurus MUI khususnya komisi Dakwah, hadir juga perwakilan dari Bank Syariah Mandiri Edwin Wijayanto.

Cholil Nafis menyampaikan bahwa motivasi kegiatan ini bertujuan untuk melakukan perubahan dan pergerakan termasuk membangun kerja sama produk asuransi melalui Bank Syariah Mandiri. Termasuk dengan memakai AXA asuransi mandiri dalam melakukan peta dakwah.

“Bank syariah mandiri dan AXA merupakan embrio untuk melakukan kerja sama dan sinergi melalui asuransi jiwa serta pendidikan,“ kata Cholil.

Lebih lanjut, Cholil menyampaikan bahwa melalui Konsep tabaruk, tawazun, konsep yang diterapkan Bank Syariah Mandiri dapat disosialisasikan seorang Dai kepada masyarakat agar semakin cinta kepada Bank yang memiliki asset kurang lebih 122 cabang dan sudah mencapai peringkat 17 ini.

“Mari kita sama-sama mendorong perkembangan Bank Syariah Mandiri,” ajak Cholil kepada para Dai yang hadir.

Di mata Cholil, peran serta seorang dai 50 persen menjadi target untuk pemetaan. Selanjutnya pedoman dakwah, pelatihan dakwah serta kerja sama dengan Kementerian Agama.

“Tujuan pelatihan adalah untuk melakukan sertifikat kompetensi dai,” kata Cholil.

Dijelaskan Cholil, di MUI ada tiga komisi (Pendidikan, kebangsaan dan keagamaan), pelatihan menjadi langkah garansi dalam memberikan rumusan sistem, kurikulum, metode, dengan syarat sesuai nilai keindonesiaan. (Vina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here