Perjuangan Dakwah Ahmad Dahlan, Melawan Penjajah Sampai Disebut Kiai Kafir

10050
Ahmad Dahlan
Ilustrasi: Pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan.

Jakarta, Muslim Obsession – Muhammadiyah telah memasuki usia ke 106 tahun pada 18 November 2018. Perjalanan yang panjang itu telah mengantarkan Muhammadiyah menjadi organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan semangat Islam berkemajuan. Perjuangan kader-kader Muhammadiyah kini mewarisi pendirinya KH Ahmad Dahlan.

Tentunya saja perayaan Milad tahun ini, warga Muhammadiyah harus bisa merefleksikan kembali semangat perjuangan KH Ahmad Dahlan di awal-awal pendiriannya. Bukan hal yang mudah bagi Sang Kiai untuk bisa mendirikan Muhammadiyah dan mewariskannya kepada umat sehingga manfaatnya bisa dirasakan sampai saat ini.

Berbagai tantangan dan cobaan selalu mengiringi perjuangan Kiai. Tak hanya tantangan dari pemerintah Belanda, bahkan ia harus menghadapi masyarakat dan umat Islam yang menolak Muhammadiyah. Sebab, ide-ide pembaharuan KH Ahmad Dahlan dianggap aneh dan menyeleweng dari Islam.

Penolakan kepada Muhammadiyah karena sejumlah hal. Misalnya Kiai Dahlan dengan mendirikan sekolah yang mengajarkan ilmu agama juga ilmu umum, hingga mengajarkan seni bermusik kepada siswanya.

Pada masa itu ajaran KH Ahmad Dahlan dianggap aneh. Tak heran, Kiai Dahlan pada saat itu sempat dituduh sebagai kiai kafir. Ajaran-ajaranya tak begitu saja diterima oleh masyarakat yang ada di sekitar keraton Yogyakarta yang kental dengan nilai budaya adat istiadat.

Kendati demikian, perjuangan Ahmad Dahlan tak berhenti. Bahkan gagasannya disebarkan melalui tabligh ke berbagai kota melalui relasi-realsi dagang yang dimilikinya. Pada akhirnya gagasannya pun diterima masyarkat di berbagai wilayah.

Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk menyatakan dukungannya terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah pun makin lama makin berkembang hampir di seluruh Indonesia.

Pada 7 Mei 1921, Kiai Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah. Permohonan itu pun dikabulkan pada 2 September 1921. Muhammadiyah pun berkembang pesat hingga saat ini.

Sepak terjang KH Ahmad Dahlan hingga akhirnya mendirikan Muhammadiyah pada 18 November 1912 menimbulkan kekhawatiran di kalangan pemerintah Hindia Belanda. Pemerintah Hindia Belanda membatasi setiap kegiatan-kegiatan yang dilakukan Muhammadiyah.

Belanda hanya mengizinkan Muhammadiyah melakukan kegiatannya di Yogyakarta saja sesuai dengan surat ketetapan pemerintah Hindia Belanda nomor 81 tanggal 22 Agustus 1914. Namun, gerakan dakwah Muhammadiyah tak terbendung.

Tokoh dan masyarakat di beberapa wilayah kemudian mendirikan cabang Muhammadiyah. Kedati demikian mereka menggunakan nama samaran. Tujuannya untuk mengelabui pemerintah Belanda agar tidak terdeteksi.

“KH Ahmad Dahlan menyiasatinya dengan menganjurkan agar cabang Muhammadiyah di luar Yogyakarta memakai nama lain. Misalnya Nurul Islam di Pekalongan, Al Munir di Ujung Pandang, Ahmadiyah di Garut. Sedangkan di Solo berdiri perkumpulan Sidiq Amanah Tabligh Fatonah (SATF) yang mendapat pimpinan dari cabang Muhammadyah,” dalam buku KH Ahmad Dahlan yang diterbitkan Museum Kebangkitan Nasional.

Sementara di dalam kota Yogyakarta, KH Ahmad Dahlan juga menganjurkan adanya jamaah dan perkumpulan untuk menyelenggarakan pengajian dan kegiatan dakwah Islam lainnya.

Di antara perkumpulan-perkumpulan yang mendapat bimibingan dari Muhammadiyah pada waktu itu yakni Ikhwanul-Muslimin, Taqwimuddin, Cahaya Muda, Hambudi-Suci, Khayatul Qulub, Priya Utama, Dewan Islam, Thaharatul Qulub, Thaharatul-Aba, Jamiyatul Muslimin, Syaharatul Mubtadi dan beberapa lainnya.

Seiring perjalanan waktu, Muhammadiyah tumbuh menjadi kekuatan besar yang ikut dalam perang kemerdekaan melawan penjajah. Melalui Hizbul Wathan (HW), tepatnya pada tahun 1918. Saat itu Kepanduan HW menjadi salah satu pasukan Tanah Air milik Muhammadiyah yang gigih membantu negara melawan penjajah.

“Kehadiran HW tersebut telah membuktikan bahwa Muhammadiyah telah cukup lama menjadi pelopor pergerakan progresif dan berkemajuan,” ujar Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir ketika memberikan tausyiah di depan Kader HW dalam rangka Muktamar HW Juli 2016 di Gedung Dakwah Muhammadiyah Kota Solo. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here