Perjalanan Islam ke Negeri Tirai Bambu

270

Kedatangan kedua Abi Waqqas berlayar melalui Samudera Hindia ke Laut Cina menuju pelabuhan laut Guangzhou. Kedatangan Abi Waqqas diterima oleh Kaisar Kao Tsung dari Dinasti Tang. Ada perbedaan nama kaisar yang menerima Abi Waqqas dalam catatan masuknya Islam ke China.

Dalam buku Hamka yang berjudul Sejarah Umat Islam, dijelaskan bahwa kunjungan Abi Waqqas diterima oleh Kaisar Yong Hui pada 651 M. Sumber lain yakni BBC menyebutkan kaisar yang menerima Abi Waqqas adalah Yung Wei pada 650 M. Meski ada perbedaan nama kaisar, namun semuanya sama-sama menyebutkan kaisar dari Dinasti Tang.

Abi Waqqas memang diterima oleh Kaisar China, namun ajaran Islam tidak begitu saja diterima oleh sang kaisar. Setelah melalui proses penyelidikan dan dirasanya sesuai dengan ajaran Konfusius, barulah kaisar memberi izin untuk menyebarkan Islam.

Sang kaisar sendiri tidak memeluk Islam karena merasa bahwa kewajiban shalat lima kali sehari dan puasa sebulan penuh terlalu berat baginya. Namun, Abi Waqqas dan sahabat-sahabatnya tetap diizinkan menyebarkan agama Islam di Guangzho.

Kaisar juga memberi izin untuk membangun masjid di wilayahnya. Masjid itu dikenal dengan Masjid Huaisheng atau dikenal dengan Lighthouse Mosque atau the Great Mosque of Canton. Masjid itu juga disebut sebagai Masjid Memorial yang merupakan masjid pertama di daratan China.

Di China, Abi Waqqas tidak hanya menyebarkan agama Islam. Ia juga memperkenalkan kondisi Arab dan perkembangan Islam di Arab pada masa itu. Mereka juga mendapat pengetahuan soal kondisi China dan perkembangan ekonomi, agama dan kebudayaan yang disebut menjadi salah satu perhatian nabi Muhammad Saw saat hidup.

Memasuki usia 80 tahun, Abi Waqqas tutup usia. Catatan kematian Abi Waqqas memiliki dua versi. Menurut sejarawan Muslim China, Abi Waqqas meninggal di Guangzhou dan dikuburkan di daerah tersebut. Namun, ulama Arab mengungkapkan jika Abi Waqqas meninggal dan dimakamkan di pemakaman Jannatul Baqi’ yang merupakan pemakaman utama di Madinah, Arab Saudi.

Dalam perkembangan berikutnya, ada dua jalur utama penyebaran Islam di China. Melalui penyebaran langsung ajaran agama Islam dengan dakwah dan adanya asimilasi pedagang Arab dengan penduduk China. Kong Yuan Zhi dalam tulisannya Muslim Tionghoa Cheng Ho mengungkapkan bahwa para pedagang Arab yang datang ke China umumnya kaum lelaki.

Dalam kebudayaan China, kaum perempuan menempati tempat kedua dari laki-laki yang juga sama dengan kebudayaan Arab yang menganut sistem patrilinial, di mana perempuan harus mengikuti suaminya setelah menikah. Atas dasar itulah perempuan-perempuan China yang menikah dengan pedagang Arab mengikuti agama suaminya. Ini menjadi salah satu cara yang ampuh dalam penyebaran agama Islam di China. Tidak hanya pedagang Arab, sejarah mencatat pedagang Persia juga turut andil dalam penyebaran Islam di China.

Dari waktu ke waktu, Islam terus berkembang di negeri Tirai Bambu tersebut. Hingga saat ini ada 10 etnis minoritas di China yang memeluk agama Islam, sebagian besar etnis Hui dan Uygur. Berdasarkan riset Pew Forum on Religion & Public Life, pemeluk agama Islam di China mencapai 23,3 juta pada 2010. Xinjiang adalah wilayah dengan jumlah penganut Islam terbesar di China. (Bal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here