Peristiwa Penting dalam Sejarah Nishfu Sya’ban

Pembahasan tentang Nishfu Sya’ban bagian 2.

156

Oleh: Drs H. Tb Syamsuri Halim, M.Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

Pada malam tanggal 15 Sya’ban (Nishfu Sya’ban) telah terjadi peristiwa penting dalam sejarah perjuangan umat Islam yang tidak boleh kita lupakan sepanjang masa. Di antaranya adalah perintah memindahkan kiblat shalat dari Baitul Muqoddas yang berada di Palestina ke Ka’bah yang berada di Masjidil Haram, Makkah pada tahun ke delapan Hijriyah.

Sebagaimana kita ketahui, sebelum Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah yang menjadi kiblat shalat adalah Ka’bah. Kemudian setelah beliau hijrah ke Madinah, beliau memindahkan kiblat shalat dari Ka’bah ke Baitul Muqoddas yang digunakan orang Yahudi sesuai dengan izin Allah untuk kiblat shalat mereka.

Perpindahan tersebut dimaksudkan untuk menjinakkan hati orang-orang Yahudi dan untuk menarik mereka kepada syariat Al-Quran dan agama yang baru yaitu agama tauhid.

Baca juga: Fadhilah Nishfu Sya’ban

Tetapi setelah Rasulullah ﷺ menghadap Baitul Muqoddas selama 16-17 bulan, ternyata harapan Rasulullah tidak terpenuhi. Orang-orang Yahudi di Madinah berpaling dari ajakan beliau, bahkan mereka merintangi Islamisasi yang dilakukan Nabi dan mereka telah bersepakat untuk menyakitinya. Mereka menentang Nabi dan tetap berada pada kesesatan.

Karena itu Rasulullah ﷺ berulang kali berdoa memohon kepada Allah Ta’ala agar diperkenankan pindah kiblat shalat dari Baitul Muqoddas ke Ka’bah lagi, setelah Rasul mendengar ejekan orang-orang Yahudi yang mengatakan, “Muhammad menyalahi kita dan mengikuti kiblat kita. Apakah yang memalingkan Muhammad dan para pengikutnya dari kiblat (Ka’bah) yang selama ini mereka gunakan?”

Ejekan mereka ini dijawab oleh Allah Ta’ala dalam QS. Al-Baqarah ayat 143:

وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِى كُنْتَ عَلَيْهَا إلاَّ لِيَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ

“Dan kami tidak menjadikan kiblat yang menjadi kiblatmu, melainkan agar kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot…”

Baca juga: Bukan Shalat dan Puasa, Lalu Amalan Apa yang Membuat Allah Senang?

Dan pada akhirnya Allah memperkenankan Rasulullah ﷺ memindahkan kiblat shalat dari Baitul Muqoddas ke Ka’bah sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 144:

Di antara kebiasaan yang dilakukan oleh umat Islam pada malam Nishfu Sya’ban adalah membaca surat Yasin tiga kali yang setiap kali diikuti doa yang antara lain isinya adalah:

“Ya Allah jika Engkau telah menetapkan aku di sisi-Mu dalam Ummul Kitab (buku induk) sebagai orang celaka atau orang-orang yang tercegah atau orang yang disempitkan rizkinya maka hapuskanlah ya Allah demi anugerah-Mu, kecelakaanku, ketercegahanku, dan kesempitan rizkiku..”

Bacaan Yasin tersebut dilakukan di masjid-masjid, surau-surau atau di rumah-rumah sesudah shalat Maghrib.

Sebagian dari orang-orang yang mengaku ahli ilmu telah menganggap ingkar perbuatan tersebut, menuduh orang-orang yang melakukannya telah berbuat bid’ah dan melakukan penyimpangan terhadap agama karena doa dianggap ada kesalahan ilmiyah yaitu meminta penghapusan dan penetapan dari Ummul Kitab. Padahal kedua hal tersebut tidak ada tempat bagi penggantian dan perubahan.

Tanggapan mereka ini kurang tepat, sebab dalam syarah kitab hadits Arbain Nawawi diterangkan bahwa takdir Allah Ta’ala itu ada empat macam:

SELANJUTNYA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here