Peringkat Indonesia Naik, Bank Syariah Harus Gerak Cepat Dukung Pengembangan Sektor Halal

166

Jakarta, Muslim Obsession – Peneliti Ekonomi Syariah dari Centre of Islamic Banking, Economics, and Finance (CIBEF), Fauziah Rizki Yuniarti menegaskan, kenaikan  peringkat Indonesia dalam The State of Global Islamic Indicator Report (SGIER) 2020 – 2021 harus segera direspon pelaku industri keuangan syariah di dalam negeri.

Menurutnya, gerak cepat dibutuhkan agar Indonesia tidak kehilangan momentum untuk mendorong pertumbuhan industri keuangan berasaskan syariah. Pasalnya, di saat yang sama peringkat industri keuangan syariah Indonesia turun dari posisi kelima menjadi keenam.

“Penurunan sektor keuangan syariah ini kombinasi dari 2 kemungkinan, karena keuangan syariah Indonesia memburuk, atau Jordan yang membaik. Bank syariah harus cepat merespon. KNEKS sudah berupaya maksimal dalam pengembangan sektor riil halal dan berhasil,” tutur Fauziah di Jakarta, Selasa (24/11/2020).

Sebelumnya SGIER merilis bahwa ekonomi syariah Indonesia ada di posisi keempat atau naik satu peringkat dari tahun 2019 lalu. Peningkatan ini dipicu pertumbuhan signifikan industri syariah Indonesia, yang ditunjukkan dengan masuknya seluruh sektor usaha seperti makanan, media, pariwisata, serta obat-obatan dan kosmetik halal ke deretan 10 besar dunia.

Fauziah mengatakan, selama ini pertumbuhan dan posisi industri halal Indonesia sudah sangat kuat. Keunggulan ini harus disokong dengan kehadiran produk keuangan syariah yang bagus dan relevan dengan kebutuhan terkait layanan keuangan syariah.

Kesempatan inilah yang bisa dimanfaatkan oleh perbankan syariah hasil merger yang belum lama ini dicanangkan pemerintah.

Setelah resmi bergabung nanti, bank syariah BUMN memiliki modal kuat untuk memperbesar kemampuannya demi menjawab kebutuhan sektor halal tersebut. Secara spesifik Fauziah menyarankan agar bank syariah hasil penggabungan nanti harus memiliki fokus memenuhi kebutuhan sektor industri halal di Indonesia

“Pasca merger, Bank Syariah BUMN akan memiliki modal yang kuat untuk investasi IT infrastruktur dan pengembangan produk yang lebih murah, kompetitif dan memenuhi apa yang dibutuhkan oleh pasar, khususnya sektor riil, seperti industri makanan, wisata, obat-obatan halal,” ujarnya. (Has)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here