Perang Saudara di Afghanistan dan Sejarah Taliban

179

Jakarta, Muslim Obsession – Kelompok oposisi Taliban kini ramai diperbincangkan karena berhasil melakukan kudeta terhadap Presiden Afghanistan Ashraf Ghani. Mereka bahkan sudah mampu menguasai seluruh wilayah Afghanistan.

Mengutip Al Jazeera, Taliban berhasil menguasai Istana Kepresidenan setelah Presiden Ashraf Ghani melarikan diri dan menyerahkan Istana Kepresidenan demi menghindari pertumpahan darah di negaranya.

Sejarah Taliban di Afghanistan sendiri telah dimulai sejak lama. Taliban digulingkan dari kekuasaannya di Afghanistan oleh pasukan yang dipimpin Amerika Serikat (AS) pada tahun 2001 silam.

Praktis, sejak saat itu, perang saudara berkepanjangan mewarnai hari-hari di Afghanistan. Taliban kian kuat dan kini telah mencapai puncaknya hingga menduduki ibu kota Kabul.

Setelah 20 tahun perang, pasukan AS perlahan menarik diri dari Afghanistan. Itu dilakukan sesuai kesepakatan antara AS dan Taliban.

Namun, setelah perjanjian, Taliban justru melancarkan serangan untuk merebut wilayah-wilayah yang dikuasai tentara Afghanistan.

Sejarah Taliban di Afghanistan dan perang berkepanjangan ini dipicu oleh tragedi 9/11 di AS. Petinggi Al Qaeda, Osama bin Laden, dituduh sebagai biang kerok peristiwa tersebut.

Kala itu, Osama bin Laden berada di Afghanistan di bawah perlindungan Taliban.

Tak menyerah, Taliban menolak menyerahkan Osama bin Laden. Hal itu kemudian memicu invasi pasukan militer AS ke Afghanistan sejak 2003 untuk menyingkirkan Taliban.

Tahun 2014 menjadi tahun paling berdarah sejak perang dimulai pada 2001 silam. Pasukan NATO, yang membantu tentara AS di Afghanistan, mengakhiri misi mereka dan menyerahkan tanggung jawab keamanan kepada tentara Afghanistan.

Gayung bersambut, Taliban pun meresponsnya dengan merebut sejumlah wilayah di Afghanistan.

Mengapa Taliban begitu berpengaruh di Afghanistan? Bagaimana sejarah kelahiran kelompok ini? Berikut rangkuman sejarah Taliban di Afghanistan.

Taliban, dalam bahasa Pashto, berarti ‘pelajar’. Kelompok ini mengambil nama ‘taliban’ karena memang pada awalnya sebagian besar anggotanya merupakan siswa pesantren yang didirikan oleh para pengungsi Afghanistan di Pakistan pada tahun 1980-an.

Gerakan ini mulanya didominasi oleh orang-orang Pashtun dan muncul di sejumlah pesantren yang dibiayai Arab Saudi dengan menganut aliran Sunni garis keras.

Akibat ketidakstabilan situasi politik dan runtuhnya rezim Soviet, kelompok ultrakonservatif ini berkembang dan eksis pada medio 1990-an.

Pada September 1995, mereka berhasil merebut Provinsi Herat, di perbatasan Iran. Tepat setahun kemudian, sejak 1996, Taliban menguasai sebagian besar wilayah Afghanistan, termasuk di antaranya Kabul.

Di bawah kekuasaannya, Taliban memberlakukan hukum Islam yang ketat.

Mengutip News Sky, Taliban kemudian dituduh menegakkan hukum Islam yang brutal dan represif dengan eksekusi publik sebagai hukumannya. Perempuan diharuskan berpakaian tertutup dan pria harus menumbuhkan janggut.

Mengutip BBC, Taliban juga melarang kebebasan berekspresi. Masyarakat dilarang mendengarkan televisi, musik, dan menikmati film di bioskop. Perempuan di atas 10 tahun juga dilarang mengenyam pendidikan formal di sekolah.

Berbagai penerapan aturan itu membuat Taliban kerap dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia. (Albar)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here