Peradaban Cinta

122

Oleh: Yons Achmad (Kolumnis, tinggal di Depok)

Agamaku adalah agama yang mengajarkan cinta,

yang senantiasa kuikuti ke mana pun langkahnya;

itulah agama dan keimananku.

(Ibnu Arabi 1165-1240 M)

Peradaban cinta, dari keluarga muslim, akan melahirkan sesuatu yang dahsyat. Apa itu peradaban? Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikannya sebagai sebuah kemajuan serta hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa.

Secara harfiah, peradaban berasal dari kata “adab”. Ibnu Qoyim dalam kitabnya yang berjudul “Madarijus Salikin” beliau mengatakan: Adab adalah berkumpulnya kebiasaan-kebiasaan baik dalam diri seseorang hamba.

Dalam pengertian umum, peradaban merupakan tahapan kebudayaan tertentu yang bercirikan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.

BACA JUGA: Media Sosial Tak Sekadar Medan Perang

Terkait dengan peradaban Islam, Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), Hamid Fahmy Zarkasyi dalam satu ceramahnya pernah mengatakan bahwa peradaban Islam adalah peradaban ilmu.

Dikatakan pula, substansi peradaban Islam itu ibarat pohon (syajarah) yang akarnya tertanam kuat di bumi, sedangkan dahan-dahannya menjulang tinggi ke langit dan memberi rahmat bagi alam semesta. Akar itu adalah teologi Islam (tauhid) yang berdimensi epistemologis.

Lalu, berkembang menjadi tradisi pemahaman terhadap Alquran sehingga lahir intelektual Islam. Dari tradisi ini, kemudian terbentuklah komunitas sehingga melahirkan konsep keilmuan dan disiplin keilmuan Islam. Dari sini, lalu lahir sistem sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan Islam.

Maka, peradaban cinta dalam keluarga muslim, tak lain dan tak bukan adalah peradaban ilmu. Ia bukan semata peradaban sebuah keluarga yang ayahnya sibuk bekerja mencari nafkah untuk bisa menghidupi keluarganya dengan materi (uang) saja. Tak cukup semacam itu.

BACA JUGA: Etika Seorang Youtuber

Betul, memang itulah tugas seorang ayah. Semua keluarga melakukannya, biasa saja, tak ada yang istimewa. Tapi, dalam sebuah keluarga muslim, mendidik anak, memastikan pendidikan anak bisa gemilang di usia belia dengan khazanah adab dan keilmuwan adalah tugas utama.

Di sinilah peran kepemimpinan (qowamah) seorang ayah. Ia tak hanya memberikan nafkah lahir saja. Tapi juga nafkah batin. Dalam soal ini sering salah dipahami. Banyak orang masih berpandangan nafkah batin itu sekadar misalnya “kebutuhan biologis”, tidak.

Nafkah batin artinya seorang ayah memberikan, salah satunya adalah asupan ilmu bagi istri. Yang kelak bakal berdampak positif bagi anak-anaknya.

Secercah pencerahan, khazanah keilmuwan, juga ilmu kekinian untuk bisa menyelesaikan problem-probem kontemporer. Maka hadir dalam majelis ilmu dengan guru-guru terbaik.

BACA JUGA: Ada Pasangan Ilmuwan Muslim di Balik Vaksin Covid-19

Juga rumah dipenuhi dengan buku-buku keIslaman dan kekinian terbaik, menjadi sesuatu yang mutlak harus ada dan dijalankan. Sebuah peradaban cinta, peradan ilmu, memerlukan semua itu.

Kelak, peradaban cinta bakal melahirkan karya-karya hebat dari sepasang kekasih itu. Begitu juga, bakal melahirkan anak-anak hebat dengan adab yang baik, juga ilmu yang cukup.

Sehingga melahirkan generasi-generasi yang militan dengan pemahaman Islam yang lurus, terdidik (well educated) dengan keilmuwan yang cukup, juga punya spesifikasi ilmu dan keterampilan yang bisa diandalkan.

Hasilnya, bisa berkiprah dalam masyarakat sekitar maupun global dengan kemampuan terbaiknya. Menjadi rahmat bagi alam semesta. Begitulah peradaban cinta menemukan bentuknya. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here