Peradaban Alternatif Berbasis Iqra’ 

432

2) Akibat dari kecepatan arus informasi tadi menjadikan dunia kita mengalami pengecilan yang luar biasa. Dalam dunia global saat ini terjadi penyempitan, yang menjadikan semua batas-batas itu menjadi minum. Akibatnya terasa semua manusia hidup dalam satu rumah bersama (shared home).

Maka di hadapan kita sejatinya hanya ada dua pilihan. Hidup rukun dan damai dalam rumah itu. Atau memilih saling membenci dan berkelahi, bahkan berlomba merusak rumah sendiri.

Islam mengajatkan saling memahami, tenggang rasa, dan kerjasama. Itulah yang tersimpulkan dalam firman Allah: “Dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal”. Kata “ta’aruf” Itulah yang menjadi dasar dialog menuju kepada kehidupan dunia yang harmoni dan damai.

3) Pada saat yang sama dunia global saat ini menumbuhkan sikap “kompetisi” yang sangat tinggi. Inilah karakter ketiga dunia. Masing-masing pihak ingin menjadikan diri/kelompoknya lebih hebat, menang dan dominan. Kompetisi itu terjadi dalam segala aspek kehidupan manusia. Dari perekonomian, pendidikan, budaya, hingga ke militer, bahkan agama.

Islam pada saat yang sama sejatinya mengajarkan umat ini untuk mengambil participasi aktif dalam kompetisi itu. Islam tidak menghendaki umat ini menjadi penonton yang sekedar bisa bertepuk tangan atau mengharap belas kasih orang lain.

Al-Quran penuh dengan ayat-ayat kompetisi itu. “Dan berfastabiqul khaeratlah”. Atau “Dan yang demikian itu (syurga) hendaklah orang-orang beriman saling berlomba”.

Dari ketiga karakter utama dunia global itu jelas bahw Islam tidaklah asing dengan dunia global saat ini. Islam adalah agama yang sejatinya telah mengantisipasi semua dinamika yang terjadi dan akan terjadi dalam hidup manusia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here