Penuhi Kebutuhan Jamaah Haji, Arab Saudi Sediakan Translater

469
Jamaah Haji (Foto: Istimewa)

Jakarta, Muslim Obsession – Untuk membantu jemaah dalam berkomunikasi saat melaksanakan ibadah haji, Arab Saudi menurunkan pasukan penerjemah yang akan memberi panduan. Mereka dapat berkomunikasi dalam puluhan bahasa untuk membantu jamaah memenuhi kebutuhannya.

Selama enam hari pelaksanakan puncak haji yang dimulai pada Ahad (19/8/2018), jamaah berbondong-bondong memadati Makkah. Sebagian besar adalah jamaah internasional yang tidak bisa berbahasa Arab. Puluhan juta bahkan menggunakan bahasa Urdu.

Menurut pejabat biro translasi haji Mazen al-Saadi, sebanyak 80 persen jamaah tidak bisa bahasa Arab. Ia memiliki tim yang menyediakan layanan penerjemah 24 jam sehari untuk bahasa Inggris, Prancis, Farsi, Melayu, Hausa, Turki, Cina, dan Urdu.

Seorang jamaah asal Reunion Island, Prancis, Samir Varatchia mengaku layanan ini tentu dirasakan sangat bermanfaat bagi jemaah. Tim penerjemah yang berseragam rompi abu-abu sangat dinantikan.

“Saya tidak tahu banyak bahasa Arab, penerjemahan ke bahasa Prancis membantu kami memahami banyak hal, termasuk isi ceramah,” tutur Samir seperti yang dilansir New Straits Times, Selasa (21/8/2018).

Penerjemah Tunisia, Abdulmumen al-Saket menyebut ia sangat senang bisa membantu. Ia mendapat banyak permintaan penerjemahan melalui telepon. Mereka berusaha membantu sebisa mungkin.

“Beberapa orang meminta nomor ponsel kami agar bisa bertanya di kemudian waktu,” katanya.

Kebanyakan jamaah yang datang dari India, Pakistan, Nepal dan Bangladesh terkadang hanya bisa bicara Urdu. Sebagian besar tanda pun menggunakan bahasa Inggris, Urdu dan Prancis. Masjid al-Haram menyediakan lebih banyak jangkauan bahasa.

Awalnya, departemen penerjemahan itu hanya mengurusi ceramah dan peraturan. Ada hotline yang tersedia dalam puluhan bahasa untuk menjawab berbagai pertanyaan keagamaan. Namun dalam aktivitas sehari-hari, tidak banyak penerjemahan.

Padahal jamaah menilai pada saat itulah yang paling dibutuhkan. Departemen tersebut telah berdiri selama empat tahun namun baru bisa mengembangkan layanan baru-baru ini.

“Sebagian besar jemaah tidak bicara bahasa Arab dan takut bertanya saat ada insiden,” kata penerjemah India Sanaullah Ghuri.

Bahkan, saat insiden Mina pada 2015, lebih dari 2.000 orang meninggal karena terinjak-injak. Saat itu, banyak jamaah tidak mengerti instruksi darurat dari otoritas yang diberikan dalam bahasa Arab. (Bal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here