Penuhi Kebutuhan Air Bersih, Global Wakaf-ACT Resmikan Lumbung Air Wakaf

344
(Dari kiri ke kanan) Ibnu Khajar, Presiden ACT; Sanusi, Bupati Malang; Ahyudin, Ketua Dewan Pembina ACT; perwakilan masyarakat penerima air minum wakaf; Sri Eddy Kuncoro, Direktur ACT dan N. Imam. (Foto: ACT/istimewa)

Malang, Muslim Obsession – Tingginya kebutuhan air bersih, khususnya untuk konsumsi, mendorong Global Wakaf-ACT meluncurkan program Lumbung Air Wakaf, Rabu (18/12/2019). Peluncuran Lumbung Air Wakaf dilaksanakan di Waqaf Distribution Center, Kecamatan Singosari, Malang, Jawa Timur.

Data pada November 2018 menunjukkan sebanyak 33,4 juta penduduk Indonesia kekurangan air bersih dan 99,7 juta jiwa kekurangan akses untuk ke fasilitas sanitasi yang baik.

Ahyudin, Ketua Dewan Pembina Aksi Cepat Tanggap (ACT) menyatakan bahwa Lumbung Air Wakaf (LAW) merupakan diversifikasi dari program Lumbung Pangan Wakaf (LPW) yang berusaha memenuhi kebutuhan dasar masyarakat melalui wakaf.

Ketua Dewan Pembina ACT (Ahyudin), sedang mempraktikan pengisian beras wakaf melalui armada Humanity Rice Truck yang juga hadir dalam launching Lumbung Air Wakaf.

Sebelumnya, Global Wakaf-ACT telah membuat program berupa Lumbung Beras Wakaf (LBW) dan Lumbung Ternak Wakaf (LTW) untuk pemenuhan pangan. Sedangkan, untuk memenuhi kebutuhan air dibangun Lumbung Air Wakaf sebagai solusi.

“Kami ingin, Global Wakaf – ACT sebagai lembaga wakaf produktif yang mengelola semua produk wakaf dari hulu ke hilir. Insyaallah kami akan terus memberikan kontribusi kepada masyarakat secara luas tidak hanya untuk kebutuhan pangan, namun juga konsumsi air bersih yang sangat layak minum,” kata Ahyudin.

Ia melanjutkan, ingin semua program ACT dapat menjadi solusi kemiskinan di Indonesia tidak hanya siaga dalam kebencanaan dan emergency response. Hal ini karena, permasalahan umat yang paling besar dan laten adalah kemiskinan.

“Selain karena urgensi kemiskinan yang ada, landasan spirit dari program ini salah satunya hadir dari Sa’ad bin Ubadah radhiallahu‘anhu, ketika bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?” Beliau menjawab, “Memberi air (sedekah air). Landasan itulah yang membuat kami semakin bersemangat menyebarkan ebaikan,” ungkapnya.

Suasana para petugas sedang melakukan pengepakan “Air Minum Wakaf” untuk didistribusikan ke masyarakat prasejahtera di berbagai wilayah Indonesia.

Direktur Program ACT Wahyu Novyan menambahkan, Lumbung Air Wakaf memproduksi air minum dengan nama Air Minum Wakaf.

“Nantinya, air minum ini akan dibagikan secara gratis kepada para penerima manfaat yang ada di pesantren, sekolah, masjid, masyarakat miskin yang ada di penjuru negeri, bernama “Air Minum Wakaf”. Dengan rencana awal distribusi 20 ribu air minum wakaf dalam bentuk cup 220 ml dan botol 600ml. Lokasi distribusi 10 ribu di Jawa Timur dan Jawa Tengah, 10 ribu lainnya di Jawa Barat, Banten dan DKI,” jelas Wahyu.

Selain menjadi solusi atas kebutuhan air minum masyarakat, Lumbung Air Wakaf akan berperan mengedukasi dan mengenalkan masyarakat secara luas tentang wakaf. Masyarakat akan melihat dan merasakan langsung bagaimana program yang dihasilkan dari dana wakaf dengan cara mudah.

“Untuk kebutuhan minum, dan segala aktivitas-aktivitas penerima manfaat lainnya yang membutuhkan air. Selain wilayah kesulitan air, sasaran yang kita tuju adalah pondok pesantren yang memiliki keterbatasan kondisi tempat belajar, tidak tersedianya sanitasi yang baik dan para santri yatim piatu yang tidak mampu untuk membayar biaya bulanan. Selain itu juga, masjid-masjid yang kondisinya serupa, sekolah-sekolah yang masuk dalam kategori prasejahtera, hingga masyarakat kurang mampu lainnya yang membutuhkan air minum layak juga menjadi target kami,” jelas Wahyu.

Sebanyak 1.250 paket makanan dibagikan kepada warga sekitar lokasi, paket makanan ini merupakan produk dari armada Humanity Food Truck yang juga hadir dalam peresmian Lumbung Air Wakaf.

Hingga saat ini, Global Wakaf-ACT telah memiliki armada Humanity Water Truck untuk memenuhi kebutuhan air bersih dari masyarakat. Dengan target 250 ribu karton air bersih layak minum disebarkan setiap bulannya, kehadiran Lumbung Air Wakaf diharapkan dapat memaksimalkan kebutuhan air bersih di Indonesia.

“Besar harapan kami bahwa Lumbung Air Wakaf dapat berjalan dengan lancar sejak peresmian hari ini hingga implementasi ke depannya. Sehingga, dapat memaksimalkan program air dari ACT yang sebelumnya telah berjalan,” ungkap Wahyu.

Bupati Malang Sanusi mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kehadiran program Lumbung Air Wakaf dan produk Air Minum Wakaf.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Global Wakaf-ACTatas bantuan yang diberikan. Semoga semakin banyak masyarakat yang dapat dibantu ke depannya. Insyaallah, Allah akan membantu setiap orang yang mau membantu sesamanya dan sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk sesamanya,” jelas Sanusi.

Prosesi pelepasan ribuan “Air Minum Wakaf” melalui truk-truk pengangkut Global Wakaf-ACT dalam acara launching Lumbung Air Wakaf.

Ia juga berharap, semua anak-anak muda yang hadir bisa menjadi pemimpin di kemudian hari, dan dapat bermanfaat untuk sekitarnya. Seperti yang kita tahu, Indonesia memiliki permasalahan stunting untuk anak usia dini yang disebabkan oleh kebutuhan air yang kurang.

“Insya Allah kebutuhan air menjadi salah satu concern kami. Semoga kita bersama-sama dapat menghadapi permasalahan ini. Selain itu, kita juga bisa bersama-sama berkolaborasi untuk swasembada beras, kita maksimalkan teknologi-teknologi inovatif yang sudah ada,” ujar Sanusi.

Seperti dilansir berbagai sumber data, Indonesia diprediksi di ambang tiga krisis, yakni krisis pangan pada 2045 (dilansir dari IPB 2018), Krisis Energi importir energi pada 2027 (dilansir dari BPPT 2018), Krisis Air 2025 (dilansir dari World Water Forum).

Sementara berdasarkan buku The Uninhabitable Earth: Life After Warming (2019), empat miliar manusia atau dua per tiga populasi saat ini sudah hidup di wilayah yang mengalami kekeringan setidaknya satu bulan tiap tahunnya.

Selain itu, mengutip penelitian Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyatakan di tahun 2050, satu miliar orang di Asia akan hidup dalam kekeringan air, dilansir dari KOMPAS,2019. UN Water (2019) pun merilis data bahwa 2,1 miliar manusia hidup tanpa air bersih di rumah.

Lebih dari 700 anak di bawah usia lima tahun meninggal setiap tahun karena diare akibat kesulitan akses air bersih dan sanitasi yang buruk. Hingga kini, secara global 80% orang terpaksa menggunakan air tercemar di pedesaan. (Way)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here