Penuhi Harapan Rakyat

341
Mohammad Natsir (Foto: Istimewa)

Pengantar Redaksi: Artikel ini ditulis oleh Ketua Umum Masyumi Mohammad Natsir menyongsong Muktamar VII Masyumi di Surabaya, 23 Desember 1954. Tulisan ini sudah berumur 65 tahun. Cukup lawas! Meskipun begitu, pesan tulisan ini masih relevan untuk para aktivis organisasi sosial dan politik Islam. Insya Allah.

MASYUMI akan mengadakan Muktamar VII, setelahnya melalui bermacam-macam ujian berat selama dua tahun berturut-turut.

Di saat-saat Masyumi diuji dengan kepungan dan ancaman ramai-ramai oleh lawan-lawan politiknya, keluarga Masyumi sudah mampu mengambil sikap:”hasbunallah wa ni’mal wakil“. Cukuplah Allah melindungi kami.

Dengan dasar itu Masyumi mengembangkan potensinya di dalam masyarakat, dan memperdengarkan suaranya pembawa kalimah hak, melakukan amar ma’ruf nahi munkar dalam semua saluran dan lapangan yang dapat dipergunakan.

Jauh daripada berkecil hati dan surut semangat, Masyumi memperlihatkan perkembangan yang lebih pesat dari yang sudah-sudah.

Dari Ujian dan Bersyukur

MUKTAMAR yang akan datang ini melihat pertumbuhan cabang dan anggota berlipat ganda. Rapat-rapat umum Masyumi di mana-mana dibanjiri oleh umat Muslimin dalam lapangan yang lebar. Iring-iringan Masyumi diikuti oleh umat Muslimin dalam barisan yang panjang.

Alhamdulillah!

Melebar dan meluasnya kekeluargaan Masyumi itu hendaknya jangan sampai membawa kita takjub akan kebesaran jumlah. Dijauhkan Allah jualah hendaknya Masyumi dan para pemimpinnya dari godaan ujub, dan kehilangan pedoman diri. Sebab, kalau sampai demikian, maka yang “banyak tak akan menambah yang kurang, yang luas tak akan melapangkan yang sempit”, malah keadaan mungkin akan berpaling membalik mengakibatkan kemunduran.

Di samping rasa syukur ke hadirat Ilahi akan hasil yang dapat dicapai sampai sekarang, akan bertambah terasalah hendaknya, besarnya kewajiban dan bertambah beratnya tanggung jawab yang kita pikul.

Tiap-tiap hasil yang baru, membawa kewajiban yang baru. Yakni: kewajiban dan tanggung jawab untuk mempergunakan hasil yang sudah tercapai sebagai modal untuk melanjutkan perjuangan dengan cara yang teratur dan rapi.

Di samping syukur sebenar-benar syukur, tidaklah akan mungkin bisa tumbuh ujub dan takabur.

Tanda orang yang bersyukur sebenar-benar syukur ialah apabila ia, tatkala mendapat hasil perjuangannya, lebih banyak memuju kebesaran Tuhan. Merasakan kekecilan diri berhadapan dengan Allah Yang Akbar. Lebih banyak istighfar memohonkan keampunan Ilahi dari kesalahan-kesalahan yang mungkin terperbuat yang sengaja dan tak sengaja. Lebih banyak bertaubat kembali kepada hidayah-Nya, kepada Allah yang maha penerima orang-orang yang taubat.

Begitu khittah perjuangan junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berikan Bimbingan

MASYUMI hendak membawa mereka (pendukungnya) kepada pelaksanaan ajaran Islam dalam hidup perseorangan, masyarakat dan negara di dalam Republik Indonesia dengan mengharapkan keridhaan Ilahi.

Perhatikan mata ribuan, ratusan ribu umat yang hadir itu! Dengarkan suara hati dari miliunan yang tidak hadir!

Jangan salah tampa (terima). Mereka bukan memuja! Tetapi semuanya menyatakan pengharapan. Pengharapan akan bimbingan. Bimbingan dari Masyumi.

Dalam masa satu setengah tahun, Masyumi telah berhasil memperdengarkan kalimah hak dalam melakukan tugas amar ma’ruf nahi munkar. Ia telah berhasil menggerakkan dhamir, hati nurani sebagian besar dari bangsa Indonesia untuk bersama-sama menghadapi yang batil dan menegakkan yang hak.

Dalam pada itu, rupanya Tuhan belum menakdirkan Masyumi di waktu sekarang ini untuk bertanggung jawab dalam pemerintahan negara. Kita terima itu sebagai isyarah bahwa Masyumi harus melakukan tugas yang sangat diperlukan bagi kelanjutan perjuangan umat Islam seterusnya.

Maka, kita pakailah waktu yang tersenggang itu untuk menyusun tenaga umat dengan arti yang sebaik-baiknya, dengan mempergunakan pengalaman-pengalaman yang telah sudah dan memperbaiki kekeliruan-kekeliruan yang mungkin ada.

Akar Masyumi

MASYUMI sebagai alat perjuangan tidak cukup dengan ukuran “panjang” dan “lebar”. Ia perlu kepada ukuran yang ketiga: ukuran “dalam”.

Masyumi perlu diakarkan dengan arti yang sebenar-benarnya. Diakarkan dengan:
1. Menggiatkan dan merapikan susunan pendidikan kadernya.

  1. Mempergiatkan perjuangan SBII-nya, STII-nya, SNII-nya, Muslimat-nya, pemuda dan pemudinya, dan semua organisasi yang masuk kekeluargaan Masyumi.
  2. Membukakan jalan bagi usaha anggota istimewanya.
  3. Membawa umat Muslimin dengan tertib dan teratur kepada pemilihan umum yang pertama kali di Tanah Air kita yang mudah-mudahan akan membukakan pintu bagi tingkat perjuangan yang lebih tinggi untuk mencapai cita-cita kita.

Inilah Kewajiban Masyumi

AGAR Masyumi jangan ibarat kiambang menghijau menutup permukaan air, sedangkan uratnya tergantung-gantung tidak sampai ke bawah; marilah bersama-sama memberi sifat kepada Masyumi yang sesuai dengan sifat kalimah yang ditegakkannya. Yakni: ashluha tsabitun wafar’uha fissamaai!

Urat tunggangnya (Masyumi) menghunjam dalam ke bumi, cabang dan carangnya melambai menjulang ke langit.

Inilah kewajiban Masyumi, para pemimpin dan keluarganya, agar harapan puluhan juta umat Muhammad dapat dipenuhi.[]

Sumber: Mingguan Islam Popular Hikmah No. 51 Tahun VII, 12 Rabi’ul Akhir 1374/18 Desember 1954.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here