Pentingkah Mempunyai Sanad Ilmu?

155

Oleh: Drs H. Tb Syamsuri Halim, M.Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

Sanad Ilmu adalah mata rantai ilmu agama, sehingga mencari ilmu bersanad itu penting. Artinya, dalam mengaji kitab maka carilah guru yang memiliki sanad hingga ke Rasulullah ﷺ. Seseorang bisa keliru pikiran dan keyakinannya disebabkan ilmu yang diperolehnya salah, sehingga posisi ilmu ini sangat penting.

Beliau ﷺ bersabda,

تَسْمَعُونَ وَيُسْمَعُ مِنْكُمْ، وَيُسْمَعُ مِمَّنْ سَمِعَ مِنْكُمْ

“Kalian mendengar dan didengar dari kalian. Dan orang-orang yang mendegar dari kalian akan didengarkan,” (HR. Abu Dawud, Bab Fadhl Nasyrul Ilmi 3659).

Adapun kerusakan dalam bidang ilmu bisa disebabkan beberapa hal. Antara lain mempelajari ilmu tanpa guru, meremehkan otoritas ulama, dan guru yang keliru.

Dengan adanya sanad, setiap orang yang mencatut nama Rasulullah ﷺ atau para sahabatnya dalam suatu nukilan, tidak serta-merta diterima ucapannya. Ucapannya diteliti, dari siapa dia mendengar dan apakah ucapan tersebut memiliki periwayat yang bersambung hingga ke Rasulullah atau tidak.

Oleh karena itu ulama telah menjelaskan tentang urgensi sanad. Mereka menjelaskan pentingnya ilmu ini dengan pemisalan yang tinggi.

Seperti ucapan ulama tabi’in, Al-Imam Muhammad bin Sirrin rahimahullah,

إِنَّ هَذَا العِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Karena itu, perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Riwayat Muslim).

Al-Imam Sufyan Ats-Tsaury (ulama tabi’ at-tabi’in) rahimahullah mengatakan:

اَلإِسْنَادُ هُوَ سِلَاحُ المُؤْمِنِ. فَإِذَا لَمْ يَكُنْ مَعَهُ سِلَاحٌ فَبِأَيِّ شَيْءٍ يُقَاتِلُ؟

“Sanad adalah senjatanya orang-orang beriman. Kalau bukan dengan senjata itu, lalu dengan apa mereka berperang?” (Al-Majruhin oleh Ibnu Hibban).

Berperang di sini maksudnya adalah perang argumentasi. Mengkritik orang yang menyampaikan kabar bohong dan membela agama ini dari kepalsuan.

Al-Imam Abdullah bin Al-Mubarak (ulama tabi’ at-tabi’in) rahimahullah mengatakan,

اَلإِسْنَادُ مِنَ الدِّيْنِ وَلَوْلَا الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

“Sanad itu bagian dari agama. Kalau bukan karena Isnad, pasti siapaun bisa berkata apa yang dia kehendaki.” (Riwayat Muslim).

Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim menjelaskan salah satu adab seorang pelajar adalah jangan sekali-kali mengambil ilmu dari buku tanpa guru. Sebab, lembaran kertas tidak bisa membimbing, sementara guru akan membimbing jika bacaan pelajar yang keliru.

Sanad ilmu menunjukkan pentingnya otoritas dalam ilmu agama. Lebih-lebih Muslim yang masih awam dan tidak memiliki kemampuan, menggali dan meneliti suatu persoalan dalam ilmu agama, wajib memiliki guru yang membimbingnya.

Belajar agama tanpa guru sangat rawan gagal paham dalil agama, dan mudah ditipu aliran sesat. Seseorang ingin mengetahui makna Al-Quran tanpa belajar dan tanpa bimbingan guru, akan menemui kesulitan.

Syaikh Zarnuji dalam Ta’lim Muta’allim menjelaskan, seseorang jangan sembarangan memilih guru. Dalam memilih guru sebaiknya guru yang lebih pandai, wira’i, lebih tua. Ilmu dapat diperoleh dengan enam hal, yaitu cerdas, tekun, sabar, punya biaya, memperoleh petunjuk guru, dan waktu yang lama.

Oleh karena siapa saja yang menyampaikan agama, walaupun dia meng-share tanpa meneliti lagi apakah dia mengerti tentang ilmu-ilmu Sanad atau tidak, maka ia akan diminta pertanggungjawabannya di akherat.

Rasulullah ﷺ bersabda tentang ilmu tanpa sanad ini atau dalam konteks sekarang melakukan share tanpa Ilmu:

كفى بالمرء كذبا أن يحدث بكل ما سمع رواه مسلم

“Seseorang bisa dikatakan pembohong  jika membicarakan setiap apa yang didengarnya tanpa mencari kebenarannya,” (HR. Muslim).

Ini artinya, orang-orang yang melakukan share tanpa ilmu yang dimilikinya, itu sama dengan berdusta atas nama Nabi ﷺ.

عن المغيرة بن شعبة رضي الله عنه ان رسول الله ﷺ قال: إنَّ كذبًا عليَّ ليسَ كَكذبٍ على أحدٍ، فمن كذَبَ عليَّ متعمِّدًا فليتبوَّأ مقعدَه منَ النَّار

Dari Al-Mughiroh bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta atas seseorang (selainku). Siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka,” (HR. Bukhari No.1291 dan Muslim No. 4).

‏قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله تعالى: من تكلم في الدين بلا علم كان كاذباً، وإن كان لا يتعمد الكذب

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah rahimahullahu ta’ala: “Barangsiapa berbicara dalam agama ini tanpa ilmu maka ia adalah seorang pendusta, meskipun ia tidak berniat berdusta,” (Majmu’ al-Fatawa (10/449).

Kesimpulan

Berhati-hatilah dalam meng-share suatu ilmu agama karena apa yang di-share pasti akan dimintakan pertanggungjawabannya.

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here