Penting Banget Dibaca! Anak Mondok itu Rezeki Orangtua

705
jokowi meresmikan asrama Ponpes Musthafawiyah Purba Baru - Setkab
Presiden Joko Widodo bersama santri Ponpes Musthafawiyah Purba Baru, Sumatera Utara. (Foto: Setkab)

Muslim Obsession – Pondok pesantren (ponpes) merupakan lembaga pendidikan tertua di Tanah Air. Berbasis kurikulum agama, ponpes mengajarkan banyak ilmu dan pengetahuan keislaman yang khas dan nyaris tak ditemui di lembaga pendidikan lainnya.

Nyatanya, ponpes juga tak hanya memberikan ilmu keagamaan kepada para santrinya. Tidak hanya mengajari para santri membaca dan menghafal Al-Quran atau mengajari kitab-kitab berbahasa Arab gundul. Kepada mereka yang mondok (istilah bagi orang yang bermukim di ponpes), ponpes juga mengajarkan ilmu dan pengetahuan umum.

Beberapa di antaranya juga memberikan pelajaran praktis, seperti menjahit, bercocok tanam, menulis, programming, dan bahkan keseharian mereka berbicara dengan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Dengan demikian, setiap anak yang mondok sesungguhnya tengah disiapkan menjadi sosok insan kamil atau manusia paripurna yang ilmunya bermanfaat di dunia dan akhirat.

Kendati demikian, masih banyak orangtua yang ragu-ragu atau enggan memasukkan anak-anaknya ke ponpes dengan beragam pertimbangan.

Nah, pada kesempatan ini kami hadirkan beberapa nasihat dari KH. Hasan Abdullah Sahal (Pimpinan Pondok Pesantren Modern Gontor) untuk para orangtua yang masih ragu atau enggan memasukkan anaknya ke pondok pesantren.

Semoga dapat menjadi inspirasi bagi kita semua.

1. Terlalu memanjakan anak itu akan menghambat masa depannya, sebab nanti mereka tidak bisa mandiri, tidak paham agama, tidak mengerti Al-Quran, tidak punya akhlak, dan ujung-ujungnya tidak bisa jadi amal jariyahmu kelak, ketika kamu telah tiada.

2. Ketika anak mau masuk pondok apalagi menghafal Al-Quran, tidak usah ditangisi. Itu rezeki, kamu harus bersyukur.

3. Coba bayangkan jika anak-anakmu hidup di luar sekarang, apa iya kamu tega setiap jam 4 pagi memaksa mereka untuk bangun Tahajud? Apa iya setiap hari kamu ada waktu menyimak setoran hafalan mereka?

4. Coba kamu lihat dirimu sekarang, sudah yakinkah kira-kira dengan shalatmu, puasamu, bisa membuat kamu masuk surga-Nya Allah?

5. Jika kamu yakin amalmu bisa menjamin kamu masuk surga, yo sak karepmu. Urusen anakmu dengan budaya Barat yang sekarang lagi tren di luar sana.

6. Anak-anak kecil wes podo pinter dolanan hape buka situs apa saja bisa, bangga punya ini itu: baju, sepatu, tas bermerek, lha pas di suruh ngaji blekak blekuk. Ditanya tentang agama prengas-prengep, arep dadi opo?

7. Kamu hanya dititipi mereka, nanti kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Kira-kira kalau anakmu lebih bangga kenal artis, lebih bangga dengan barang ber-merek, lebih seneng menghafal lagu ora genah, gak kenal Gusti Allah, gak kenal kanjeng Nabi, gak bisa baca dan paham Al-Quran, gak ngerti budi pekerti. Lha kamu mau jawab apa kelak di hadapan Gusti Allah?

8. Apa hakmu menghalangi anak-anakmu lebih dekat dengan pemiliknya dengan jalan tholabul ‘ilmi di lingkungan yang mendukung mereka menjadi lebih arif dan berbudi? Ingat! kamu hanya perantara, dipinjami, dititipi, dan diamanahi.

Semoga Allah ﷻ memudahkan para generasi umat Islam untuk menjadi penghafal dan pembela Al-Quran, yang kelak dengannya akan memberikan syafaat kepada kedua orangtuanya. Aamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here