Penjelasan tentang Ahlul Bait Rasulullah ﷺ

Penjelasan tentang Ahlul Bait Rasulullah ﷺ
Oleh: Drs. H. Tb. Syamsuri Halim, M. Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender) Secara bahasa, kata الأَهْل berasal dari أَهْلاً وَ أُهُوْلاً أَهِلَ – يَأهَلُ=seperti أَهْلُ المْكَاَن berarti menghuni di suatu tempat. Kata أَهْلُ jamaknya adalah أَهْلُوْنَ وَ أَهْلاَتُ وَ أَهَاِلي misal أَهْلُ الإِسْلاَم artinya pemeluk Islam, أَهْلُ مَكَّة artinya penduduk Makkah. Maka أَهْلُ الْبَيْت berarti penghuni rumah dan أَهْلُ بَيْتِ النَّبي artinya keluarga Nabi, yaitu para istri, anak perempuan Nabi serta kerabatnya, yaitu Ali dan istrinya. Sedangkan menurut istilah, para ulama Ahlus Sunnah telah sepakat tentang Ahlul Bait bahwa mereka adalah keluarga Nabi ﷺ yang diharamkan memakan shadaqah. Mereka terdiri dari: keluarga Ali, keluarga Ja’far, keluarga Aqil, keluarga Abbas, keluarga Bani Harits bin Abdul Muthalib, serta para istri beliau dan anak-anak mereka. Memang ada perselisihan, apakah para istri Nabi termasuk Ahlul Bait atau bukan. Dan yang jelas bahwa arti Ahlu menurut bahasa (etimologi) tidak mengeluarkan para istri Nabi untuk masuk ke Ahlul Bait, demikian juga penggunaan kata Ahlu di dalam Al-Quran dan hadits tidak mengeluarkan mereka dari lingkup istilah tersebut, yaitu Ahlul Bait. Ahlul Bait dalam Al-Quran Di dalam Al-Quran, penyebutan Ahlul Bait terdapat dalam Surat Al-Ahzab ayat 33. Allah Ta’ala berfirman:

وَأَطِعْنَ اللهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Dan taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya,sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan rijs dari kalian wahai Ahlul Bait dan memberbersihkan kalian sebersih-bersihnya,” (QS. Al-Ahzab: 33). Ayat ini menunjukan para istri Nabi ﷺ termasuk Ahlul Bait. Jika tidak, maka tak ada faidahnya mereka disebutkan dalam ucapan itu (ayat ini) dan karena semua istri Nabi adalah termasuk Ahlul Bait sesuai dengan nash Al-Quran, maka mereka mempunyai hak yang sama dengan hak-hak Ahlul Bait yang lain. Imam Ja’far Al-Shadiq ditanya mengenai al-rijs yang terdapat pada ayat di atas, beliau menjawab: “Al-Rijsu itu adalah al-syak (keraguan),” (Ma’ani l’Akhbar). SELANJUTNYAAhlul Bait dalam Hadits Rasulullah ﷺ bersabda,

أَحِبُّوا اللَّهَ لِمَا يَغْذُوكُمْ مِنْ نِعَمِهِ وَأَحِبُّونِي بِحُبِّ اللَّهِ وَأَحِبُّوا أَهْلَ بَيْتِي بِحُبِّي

“Cintailah Allah karena nikmat yang diberikan kepada kalian, cintailah aku karena kecintaan (kalian) kepada Allah, dan cintailah Ahlul Baitku karena kecintaan (kalian) kepadaku.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Segala sesuatu ada asasnya, dan asas Islam adalah mencintai Rasulullah dan Ahli Baitnya.” Allah Subhanahu Wata’ala mensyariatkan untuk mendoakan Ahlul Bait dalam tasyahud akhir setiap kali shalat, menurut Madzhab Syafi’iyah. Itu sudah cukup menunjukkan kemuliaan mereka. Ahlul Bait tidak boleh menerima sedekah Apakah Ahlul Bait tidak boleh menerima sedekah? Jawabannya adalah ya! Ahlul Bait tidak boleh menerima sedekah. Dalam sebuah hadits disebutkan:

عن عبد المطلب بن ربيعة بن الحارث , قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ان الصدقة لا تنبغي لأل محمد, إنما هي أوساح الناس (رواه مسلم)

“Dari Abdul Mutholib bin Rabi’ah bin Harits berkata, bersabda Rasulullah ﷺ: Sesungguhnya sedekah tidak pantas (tidak halal) bagi keluarga Muhammad, karena sedekah itu adalah daki (kotoran) manusia”. Dalam suatu riwayat Muslim dari Abdul Mutholib, Rasulullah ﷺ bersabda:

وانها لا تحل لمحمد ولا لأل محمد (رواه مسلم)

“Sesungguhnya sedekah itu tidak halal bagi Nabi Muhammad dan bagi keluarga Muhammad ﷺ”. Hadits tersebut memberikan pengertian bahwa lafadz لا تنبغي itu beliau maksudkan “tidak halal” yang berarti memberikan pengertian haram. Hadits tersebut sebagai dalil yang menunjukkan haram sedekah bagi Nabi Muhammad dan keluarganya. SELANJUTNYAApakah Ahlul Bait dijamin masuk surga? Jawabannya adalah tidak. Kenapa tidak? Dijamin tidaknya masuk surga itu tergantung dengan amalannya. Maka, nasab tak ada guna, walau engkau keturunan Nabi. Siapa yang lamban amalnya, maka itu tidak bisa mengejar kedudukan mulia di sisi Allah walau ia memiliki nasab (keturunan) yang mulia. Nasabnya itu tidak bisa mengejar derajat mulia di sisi Allah. Karena kedudukan mulia di sisi Allah adalah timbal balik dari amalan yang baik, bukan dari nasab. Sebagaimana yang Allah Ta’ala sebutkan dalam ayat lainnya,

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ

“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya,” (QS. Al-Mu’minun: 101). [Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 308] Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Siapa saja yang amalnya itu kurang, maka kedudukan mulianya tidak bisa menolong dirinya. Oleh karenanya, jangan terlalu berharap dari nasab atau silsilah keturunan dan keutamaan nenek moyang, akhirnya sedikit dalam beramal,” (Syarh Shahih Muslim, 17: 21). Berlombalah dalam Kebaikan Meraih Ampunan dan Rahmat Allah dengan Amalan Berlomba di sini bukan karena engkau keturunan Nabi atau orang shalih, namun yang dipandang adalah siapa yang paling baik amalnya. Karena demikianlah yang Allah perintahkan dalam berbagai ayat,

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan,” (QS. Ali Imran: 133-134). Jadi berlomba-lombalah dengan beramal. Beramal pun bukan asal-asalan. Beramal itu harus sesuai tuntunan. Seandainya seorang habib merekayasa suatu amalan yang tidak pernah ada dasarnya dari nenek moyangnya, maka jelas amalan habib seperti ini tertolak. Karena nasab tidak ada arti saat ini, namun siapakah yang paling baik amalnya yang sesuai tuntunan, itulah yang paling mulia. SELANJUTNYAFatimah (Puteri Muhammad) Saja Tidak Bisa Ditolong Ayahnya Dalam shahihain disebutkan hadits dari Abu Hurairah, dimana ia berkata,

قَامَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – حِينَ أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ (وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ) قَالَ « يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ – أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا – اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ، لاَ أُغْنِى عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، يَا بَنِى عَبْدِ مَنَافٍ لاَ أُغْنِى عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لاَ أُغْنِى عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، وَيَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ لاَ أُغْنِى عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِى مَا شِئْتِ مِنْ مَالِى لاَ أُغْنِى عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

“Rasulullah ﷺ berdiri ketika turun ayat: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat (QS. Asy Syu’ara: 214)”, lalu beliau berkata, “Wahai orang Quraisy -atau kalimat semacam itu-, selamatkanlah diri kalian sesungguhnya aku tidak dapat menolong kalian sedikit pun dari Allah. Wahai Bani ‘Abdi Manaf, sesungguhnya aku tidak dapat menolong kalian sedikit pun dari Allah. Wahai ‘Abbas bin ‘Abdul Muthollib, sesungguhnya aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah. Wahai Shofiyah bibi Rasulullah, sesungguhnya aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah. Wahai Fatimah puteri Muhammad, mintalah padaku apa yang engkau mau dari hartaku, sesungguhnya aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah,” (HR. Bukhari no. 2753 dan Muslim no. 206). Jika Fatimah yang seorang putri Nabi saja tidak bisa ditolong oleh ayahnya sendiri, bagaimanakah dengan keturunan di bawahnya? Jadi kesimpulannya begini: 1. Setiap orang akan diminta pertanggungjawaban amalnya;2. Ahlul Bait Rasulullah ﷺ yang ‘alim bi ilmihi maka wajib kita hormati dan kita cintai 3. Ahlul Bait Rasulullah ﷺ yang tidak ‘alim cukup kita hormati. Ciri-Ciri Ahlul Bait Rasulullah Singkatnya, beberapa ciri seseorang adalah Ahlul Bait Rasulullah ﷺ adalah sebagai berikut: 1. Tidak mengambil sedekah, zakat, dan infak. Bila ada Ahlul Bait Rasulullah yang tukang minta-minta sedekah, maka sudah dipastikan dia adalah palsu. 2. Menjaga iffah, yakni harga diri seorang keturunan Rasulullah ﷺ. 3. Sangat mencintai kaum Muslimin, termasuk juga tidak membanggakan keturunan Rasulullah ﷺ. 4. Pernyataan Imam Ja'far As-Shadiq yang menyatakan bahwa Ahlul Bait bisa memberi syafa’at adalah karena saat itu keadaan dunia Islam sedang kacau, banyak pembunuhan terhadap Ahlul Bait Rasulullah ﷺ karena politik perebutan kekuasaan para Khalifah Umayah. Ketika itu keturunan Rasulullah ﷺ dijadikan tameng politik, karena itu beliau menyatakan bahwa Ahlul Bait Rasulullah ﷺ bisa memberi syafa’at, karena keluarga Nabi ﷺ dalam keadaan terzhalimi. Nukankah orang yang terzhalimi DOANYA MAKBUL?. Demikian penjelasan tentang Ahlul Bait Rasulullah ﷺ. Wallahu a’lamu bish shawab.

Dapatkan update muslimobsession.com melalui whatsapp dengan mengikuti channel kami di Obsession Media Group