Penjelasan tentang Ahlul Bait Rasulullah ﷺ

116

Oleh: Drs. H. Tb. Syamsuri Halim, M. Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

Secara bahasa, kata الأَهْل berasal dari أَهْلاً وَ أُهُوْلاً أَهِلَ – يَأهَلُ = seperti أَهْلُ المْكَاَن berarti menghuni di suatu tempat. Kata أَهْلُ jamaknya adalah أَهْلُوْنَ وَ أَهْلاَتُ وَ أَهَاِلي misal أَهْلُ الإِسْلاَم artinya pemeluk Islam, أَهْلُ مَكَّة artinya penduduk Makkah.

Maka أَهْلُ الْبَيْت berarti penghuni rumah dan أَهْلُ بَيْتِ النَّبي artinya keluarga Nabi, yaitu para istri, anak perempuan Nabi serta kerabatnya, yaitu Ali dan istrinya.

Sedangkan menurut istilah, para ulama Ahlus Sunnah telah sepakat tentang Ahlul Bait bahwa mereka adalah keluarga Nabi ﷺ yang diharamkan memakan shadaqah. Mereka terdiri dari: keluarga Ali, keluarga Ja’far, keluarga Aqil, keluarga Abbas, keluarga Bani Harits bin Abdul Muthalib, serta para istri beliau dan anak-anak mereka.

Memang ada perselisihan, apakah para istri Nabi termasuk Ahlul Bait atau bukan. Dan yang jelas bahwa arti Ahlu menurut bahasa (etimologi) tidak mengeluarkan para istri Nabi untuk masuk ke Ahlul Bait, demikian juga penggunaan kata Ahlu di dalam Al-Quran dan hadits tidak mengeluarkan mereka dari lingkup istilah tersebut, yaitu Ahlul Bait.

Ahlul Bait dalam Al-Quran

Di dalam Al-Quran, penyebutan Ahlul Bait terdapat dalam Surat Al-Ahzab ayat 33. Allah Ta’ala berfirman:

وَأَطِعْنَ اللهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Dan taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya,sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan rijs dari kalian wahai Ahlul Bait dan memberbersihkan kalian sebersih-bersihnya,” (QS. Al-Ahzab: 33).

Ayat ini menunjukan para istri Nabi ﷺ termasuk Ahlul Bait. Jika tidak, maka tak ada faidahnya mereka disebutkan dalam ucapan itu (ayat ini) dan karena semua istri Nabi adalah termasuk Ahlul Bait sesuai dengan nash Al-Quran, maka mereka mempunyai hak yang sama dengan hak-hak Ahlul Bait yang lain.

Imam Ja’far Al-Shadiq ditanya mengenai al-rijs yang terdapat pada ayat di atas, beliau menjawab: “Al-Rijsu itu adalah al-syak (keraguan),” (Ma’ani l’Akhbar).

SELANJUTNYA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here