Penganut Khonghucu Sumbang Mushaf Al-Quran Sulaman Raksasa

768
Mushaf Al-Quran Sulaman Raksasa (Foto: Istimewa)

Jakarta, Muslim Obsession – Tan Sri Lee Kim Yew, seorang penganut Khonghucu yang bersimpati pada Islam, menyumbangkan Mushaf Al-Quran Sulaman Raksasa kepada dunia Islam melalui Presiden RI.

Tan Sri adalah seorang konglomerat dan warga negara Malaysia. Ia juga memimpin lembaga sosial yang berbasis di Malaysia, Cheng Ho Multicuture Education Trust.

Utusan Khusus Presiden RI Untuk Dialog dan Kerja Sama Antar Agama dan Peradaban, Prof. M. Din Syamsuddin, dalam keterangan tertulisnya, Ahad (3/6/2018), menjelaskan Mushaf Al-Quran Sulaman Raksasa yang dibuat secara manual dengan tangan (hand-made) ini merupakan produk peradaban yang bernilai tinggi sebagai sumbangan dari masyarakat China untuk dunia Islam.

Mushaf ini dibuat oleh komunitas Muslim Haiyuan, Ningxia, Provinsi Otonomi Khusus Muslim di Tiongkok, yang memiliki tradisi kuat dalam menyulam.

Din menjelaskan, proses pengerjaaan sulaman Mushaf sepanjang 17 meter ini membutuhkan ketelatenan, ketelitian dan ketrampilan khusus sulam. Seorang penyulam profesional, dalam sehari maksimal hanya bisa menyelesaikan tiga baris tulisan Alquran.

Sumbangan Mushaf itu bermula dari pertemuan Din Syamsudin dengan Tan Sri. Din mengisahkan, sekitar setahun saat bertemu Tan di Kuala Lumpur. Saat itu Tan Sri menceritakan bahwa sudah hampir dua tahun (sejak 2015) dirinya meminta seorang ibu di Ninxiang, untuk menyulam Mushaf Al-Quran besar.

“Tan Sri Lee berniat menyumbangkannya kepada umat Islam melalui Raja Saudi Arabia, yang dikenalnya sebagai pusat agama Islam. Lantas saya usulkan mengapa tidak melalui Presiden Indonesia, negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia,” kata Din.

Gayung bersambut, Tan Sri pun setuju dan meminta Din Syamsuddin mengirim proofreader untuk memastikan kebenaran penulisan mushaf. Maka pada Februari lalu Din mengirim Dr. Ghilmanul Wasath, alumnus Universitas Al-Azhar Mesir, untuk berangkat ke Ningxia. Dari proofreading tersebut diketahui hanya ada beberapa kesalahan minor yang segera diperbaiki.

Din Syamsuddin menjelaskan bahwa dipilihnya Indonesia sebagai pihak untuk menerima Al-Quran Sulaman Raksasa merupakan cerminan pentingnya posisi Indonesia bagi dunia Islam. Karenanya, Penyerahan Al-Quran Sulaman Raksasa tersebut memberikan makna simbolik bagi kerukunan Tionghoa dan Non-Tionghoa untuk menjadi jembatan kebudayaan di Indonesia, serta merekatkan hubungan dan pemahaman budaya Tiongkok dan Dunia Islam.

Bagi Din ini adalah proyek besar. Bukan hanya karena kebesaran barangnya, tapi kebesaran niat baik dari seorang non Muslim untuk membuat Mushaf Al-Quran Sulaman. Tan Sri telah mengeluarkan dana besar untuk itu dan jadilah mushaf yang dimaksud. Mungkin ini satu-satunya mushaf Al-Quran yang ditulis di atas kain dengan sulaman dan dalam ukuran besar yang ada di dunia.

“Pada hemat saya, Mushaf Al-Quran Sulaman Besar yang dibuat di Tiongkok dan disumbang oleh seorang Tionghoa beragama Khonghucu ini adalah lambang kedekatan Tiongkok/Tionghoa dengan Islam. Penyerahan mushaf ini kepada umat Islam adalah bentuk dialog antar peradaban yang niscaya,” tuturnya.

“Bahwa dialog itu menggunakan medium Kitab Suci adalah karena dialog, antar agama maupun antar-peradaban, haruslah berlangsung dalam kesucian hati dan pikiran. Kita semua, umat Islam di Indonesia, perlu berterima kasih kepada Tan Sri Lee Kim Yew atas sumbangan Mushaf Al-Quran Sulaman Besar ini,” sambungnya.

Lebih lanjut Din menyampaikan bahwa kepada dirinya, Tan Sri Lee Kim Yew berniat lagi menyumbang sebuah Masjid Serba Tembaga yang akan dibangun di pesantren yang ia asuh, Pesantren Modern Internasional Dea Malela, di Sumbawa, NTB.

“Semoga segera menjadi kenyataan,” harap Din.

Sebagai bagian dari penyerahan Mushaf, Kantor UKP-DKAAP bekerja sama dengan Cheng Ho Multi Culture Education Trust, juga akan menyelenggarakan Forum Dialog Islam-Konghucu di Hotel Mandarin Oriental Jakarta, pada 4 Juni 2018 pukul 14.00-18.00, diakhiri dengan buka puasa bersama.

Dialog berskala regional ini, ditujukan sebagai wadah silaturahmi dan silatulfikri antar tokoh muslim dan Tionghoa. Dialog akan dihadiri oleh 60 orang tokoh muslim dan Tionghoa dari Indonesia, Malaysia, dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT). (arh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here