Pengakuan D.N. Aidit Seorang Atheis

1065
D.N. Aidit (Foto: suratkabar.id)

Oleh: Muhammad Dalton

Dalam lawatannya ke Ambon bersama Presiden Soekarno pada tahun 1963, A. Hasjmy punya sedikit cerita unik yang dituangkan di buku Semangat Merdeka. Kisah beliau bercengkrama dengan D.N. Aidit, tokoh PKI yang terkenal itu.

Bagi yang belum mengenal A. Hasjmy, beliau pernah menjabat sebagai Gubernur Aceh, juga ketua Majelis Ulama Aceh, penulis buku-buku Islam, dan mendapat gelar Guru Besar di bidang dakwah.

Begini kisahnya:

“Saya tidak mengerti, mengapa panitia penyambutan di Ambon menempatkan saya satu kamar dengan D.N. Aidit, Tokoh Utama partai Komunis Indonesia. Aidit memang peramah dan simpatik. Sambil tidur dalam kamar yang satu itu, kami mengobrol tentang bermacam-macam; kadang-kadang serius dan lebih banyak santai. Tentang telah dihukumnya Taeb Adamy, tokoh utama PKI Aceh, Aidit mengecam: “Hanya Aceh saja yang berani menghukum pemimpin PKI.”

“Bukan,” jawab saya. “Aceh belum pernah menghukum Pemimpin PKI, hanya yang telah dihukum seorang warga negara yang melakukan tindak pidana, namanya Taeb Adamy, yang kebetulan saja seorang tokoh PKI.”

Dari masalah politik, pembicaraan beralih ke masalah agama, di mana ternyata bahwa D.N. Aidit betul-betul tidak percaya lagi adanya Allah, Maha Pencipta.

Seperti ternyata dari ucapannya: “Siapa sih yang Pak Hasjmy sembah tadi?” Maksudnya shalat Maghrib dan Isya yang saya lakukan belum berselang berapa lama.

“Allah!” jawab saya pasti dan serius, “Tuhan saya dan Tuhan Bung Aidit.”

“Saya tidak merasa adanya Tuhan…” jawabnya agak enteng.

Waktu itu, dengan cepat saya ingat kembali waktu di lapangan terbang Ambon tadi, Aidit mengucapkan: “Ya Allah!” waktu dia tersandung.

Dengan cepat saya bertanya: ” Siapakah Allah yang Bung panggil waktu Bung tersandung tadi di lapangan terbang?”

“Itu karena kebiasaan waktu saya masih kecil, tinggal bersama ayah dan ibu yang taat beragama Islam di Bangka..”

“Oh begitu…?” bertanya agak sinis dan kami pun mengalihkan pembicaraan ke masalah lain dan tertidur.

—-

Referensi: A.Hasjmy, Semangat Merdeka: 70 Tahun Menempuh Jalan Pergolakan dan Perjuangan Kemerdekaan, Jakarta: Bulan Bintang, 1985

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here