Pengadilan Mesir Cabut Nama Morsi dari Daftar Teroris

492
Mantan Presiden Mesir Mohamed Morsi (Foto: Istimewa)

Mesir, Muslim Obsession – Pengadilan banding tertinggi Mesir, Rabu (4/7/2018) waktu setempat, membatalkan keputusan untuk menempatkan lebih dari 1.500 orang dalam daftar teroris resmi di negara itu, termasuk mantan presiden Mohamed Morsi.

Pengadilan Kasasi menerima banding oleh Morsi dan 1.537 terdakwa lainnya yang tidak menyebutkan nama mereka di daftar teroris, kata sumber peradilan yang tidak mau disebutkan namanya karena pembatasan berbicara kepada media.

Dilansir Anadolu, Kamis (5/7/2018) salah satu pemain sepakbola terkemuka Mesir Mohamed Abu Treika, juga termasuk di antara mereka yang ditempatkan dalam daftar tersebut.

Sebelumnya, pihak berwenang Mesir menuduh terdakwa memiliki hubungan dengan kelompok Ikhwanul Muslimin, yang mana pihak berwenang dan militer mendeklarasikan kelompok tersebut sebagai organisasi teroris pada 2013 lalu.

Karier Politik Morsi

Mohamed Morsi lahir di El-Adwah, Kegubernuran Asy-Syarqiyah, Mesir, 20 Agustus 1951. Dia adalah seorang politisi yang menjabat Presiden ke-5 Mesir dari 30 Juni 2012 hingga 3 Juli 2013.

Morsi menjadi Anggota Parlemen di Majelis Rakyat Mesir selama periode 2000-2005 dan seorang tokoh terkemuka di Ikhwanul Muslimin. Sejak 30 April 2011, dia menjabat Ketua Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP), sebuah partai politik yang didirikan oleh Ikhwanul Muslimin setelah Revolusi Mesir 2011.

Kemudian, dia maju sebagai calon presiden dari FJP pada pemilu presiden Mei-Juni 2012. Pada tanggal 24 Juni 2012, Komisi Pemilihan Umum Mesir mengumumkan bahwa Morsi memenangkan Pemilu Presiden dengan mengalahkan Ahmed Shafik, Perdana Menteri terakhir di bawah kekuasaan Hosni Mubarak.

Komisi Pemilihan menyatakan Morsi memperoleh 51,7 persen suara, sedang Shafiq mendapatkan 48,3 persen. Morsi kemudian mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketua FJP setelah kemenangan yang diraihnya.

Pada tanggal 30 Juni 2013, demonstrasi besar berlangsung di penjuru Mesir menuntut pengunduran diri Presiden Morsi. Bersamaan dengan demo anti-Morsi, para pendukungnya mengadakan demonstrasi tandingan di lokasi lain di Kairo.

Pada 1 Juli 2013, Angkatan Bersenjata Mesir menerbitkan ultimatum 48 jam, memberi tenggat waktu hingga 3 Juli bagi partai untuk memenuhi tuntutan rakyat Mesir. Militer Mesir juga mengancam akan turut campur bila perselisihan tersebut tidak diselesaikan.

Empat menteri juga turut mengundurkan diri di hari yang sama, termasuk Menteri Pariwisata Hisham Zazou, Menteri Komunikasi dan IT Atef Helmi, Menteri Negara Urusan Hukum dan Parlemen Hatem Bagato dan Menteri Negara Lingkungan Hidup Khaled Abdel Aal, menyisakan pemerintahan dari Ikhwanul Muslimin saja.

Pada 2 Juli 2013, Presiden Morsi secara terbuka menolak ultimatum 48 jam dan bersumpah untuk menjalankan rencananya sendiri untuk rekonsiliasi nasional dan menyelesaikan krisis politik.

Pada 3 Juli 2013, Abdul Fattah el-Sisi, Kolonel Jenderal Angkatan Bersenjata Mesir, mengumumkan announced a road map rencana mendatang Mesir, menyatakan bahwa Morsi telah dilengserkan dan mengangkat kepala Mahkamah Konstitusi sebagai pemegang jabatan sementara Presiden Mesir.

Akhirnya, setelah 1 tahun mendekam di penjara, pada tanggal 19 November 2014, Morsi bersama 35 pemimpin Ikhwanul Muslimin lainnya terancam didakwa dengan hukuman mati dengan tuduhan melakukan spionase kepada Qatar.

Jaksa Emad el Sharawy menuduh Morsi dan para pembantunya membocorkan dokumen keamanan negara ke badan-badan intelijen asing, selain itu dia juga dituduh bekerja sama dengan organisasi yang diklaim sebagai kelompok teroris, seperti Hamas. (Vina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here