Pemimpin dan Dunia Global

952

Lebih jauh lagi, perkawinan antara karakter manusia Nusantara dan esensi ajaran Islam itu menghasilkan karakter kebangsaan dan keagamaan yang merangkul nilai-nilai peradaban modern. Karakter yang Demokratis, berkemajuan, merangkul keragaman (diversity), dan seterusnya.

Karakter itulah yang terangkum dalam bahasa Al-Quran: “Rahmatan lil-alamin” (karakter yang menyebarkan kasih sayang bagi seluruh alam).

Pertanyaannya kemudian kenapa keunikan bangsa ini belum dikenal luas, bahkan kerap dilihat sebelah mata oleh dunia? Jangankan dunia Internasional. Dunia Islam saja masih sering meremehkan potensi keislaman dan keumatan bangsa ini.

Tentu tidak mudah mengarahkan jari (finger point) dan menyalahkan pihak tertentu. Sebaliknya akan sangat bijak jika hal itu menjadi tanggung jawab kolektif bangsa.

Artinya realita yang masih kurang menggembirakan itu harusnya diambil sebagai tantangan bersama untuk merubahnya. Kita harus secara bersama-sama melakukan semua hal yang memungkinkan untuk menjadikan negeri ini lebih dihormati di mata dunia.

Teman-teman diplomat tentu telah melakukan yang terbaik. Tapi alangkah baiknya lagi jika tanggung jawab itu dilakukan dengan semangat keinginan melihat bangsa besar ini lebih dihargai. Bukan sekedar melakukan tugas dan berakhir dengan laporan yang bagus.

Sebagai putra bangsa yang telah hidup di luar negeri lebih 30 tahun tentu saya juga terpanggil untuk melakukan semaksimal kemampuan yang ada untuk mengenalkan negeri besar nan indah ini. Tentu melalui kapasitas dan keahlian yang Allah titipkan pada saya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here