Pemerintah Sri Langka Paksa Jenazah Umat Islam yang Terkena Corona untuk Dibakar

175

Colombo, Muslim Obsession – Banyak umat Islam di Sri Langka yang meninggal karena terinfeksi corona. Namun jenazah umat Islam dipaksa pemerintah setempat untuk dikremasi atau dibakar. Ketentuan itu tentu saja melanggar keyakinan mereka sebagai Muslim.

Kremasi adalah tradisi yang diterapkan masyarakat Sinhala Buddha, penduduk mayoritas di negeri itu. Sementara, ajaran Islam mengharuskan orang yang meninggal untuk dimakamkan, bukan dibakar. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun telah mengizinkan penguburan dan kremasi bagi para korban virus corona.

Namun 11 April kemarin Pemerintah Sri Lanka malah mengeluarkan aturan yang menjadikan kremasi sebagai metode wajib bagi semua korban Covid-19. Sri Lanka menjadi satu-satunya negara di dunia yang melakukan penyeragaman itu.

“Fakta bahwa tidak ada negara lain yang melarang penguburan memberi tahu Anda betapa buruknya kebijakan ini (untuk Muslim di Sri Lanka saat ini),” ujar Direktur Crisis Group untuk Sri Lanka, Alan Keenan, dikutip Alarabiyah, Selasa (21/4/2020).

Sejauh ini, tiga jenazah Muslim telah dikremasi, menimbulkan keluhan yang sangat besar bagi keluarga mereka. Fayaz Yoonus, putra salah satu korban di Kota Batticaloa, baru-baru ini memberi tahu Alarabiyah tentang kematian dan kremasi ayahnya.

“Ketika kami diberi tahu bahwa ayah saya akan dikremasi, saya harus membiasakan diri dengan prosedur ini. Saya bahkan tidak tahu di mana harus membeli peti mati,” tuturnya.

Keesokan paginya, Yoonus diizinkan untuk mengunjungi jenazah ayahnya di kamar mayat bersama saudara laki-laki dan iparnya. Mereka menggelar salat jenazah sebelum jasad ayanya dibakar hingga menjadi abu.

“Di luar, seorang petugas medis yudisial bertanya kepada saya, di depan media, apakah saya keberatan dengan kremasi itu. Saya sangat lelah dan kewalahan dengan apa yang terjadi, saya tidak tahu bagaimana harus merespons. Saya akhirnya memberi tahu mereka bahwa saya memberi persetujuan,” ujar Yoonus.

Dia menuturkan, wawancara dengan petugas medis yudisial itu kemudian disiarkan di dua saluran televisi milik pemerintah Sri Lanka. Dia tak punya pilihan selain menjawab di depan publik bahwa dia menyetujui kremasi sang ayah.

Yoonus menyebut jenazah Muslim yang pertama kali dikremasi di negara itu sejak lockdown, dibakar tanpa sepengetahuan keluarganya.

“Pada saat kremasi, putranya diperiksa oleh Departemen Investigasi Kriminal karena diduga menyebarkan virus ketika dia membawa ayahnya ke rumah sakit swasta,” kata salah satu aktivis HAM, Shreen Saroor, yang berkomunikasi langsung dengan keluarga yang terkena dampak kebijakan pemerintah Sri Lanka itu. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here