Pemberontakan Terhadap Al-Ḥajjaj

706
Ilustrasi Perang (Photo: Istimewa)

Muslim Obsession – Suatu hari, Hasan Al-Bashri pernah didatangi sekelompok Muslim, untuk mencari fatwa soal pemberontakan melawan Al-Hajjaj, seorang penguasa tirani dan jahat pada masanya.

Mereka bertanya kepada Hasan, “Apa pendapatmu jika memerangi penindas seperti Al-Hajjaj yang telah menumpahkan darah secara tidak sah dan mengambil kekayaan secara tidak sah dan melakukan kedzaliman ini dan itu?”

Hasan menjawab, “Saya berpendapat bahwa dia tidak boleh diperangi. Jika ini adalah hukuman dari Allah, maka kalian tidak akan dapat menghapusnya dengan pedang kalian. Jika ini adalah cobaan dari Allah, maka bersabarlah sampai penghakiman Allah datang, dan Dia adalah yang terbaik dari para hakim.”

Namun, tak disangka oleh Hasan, sekelompok Muslim itu mengabaikan fatwanya. Mereka pergi dan melakukan pemberontakan terhadap  Al-Hajjaj. Namun nahas, Al-Ḥajjaj membunuh mereka semua.

Kabar kematian mereka sampai ke telinga Hasan. Kemudian Hasan berkata, “Jika orang-orang memiliki kesabaran sedikit saja, ketika mereka sedang diuji oleh penguasa mereka yang tidak adil, Allah akan memberikan mereka jalan keluar.”

Namun, mereka selalu terburu-buru untuk mengeluarkan pedang. Sehingga mereka benar-benar ditinggalkan dengan pedang mereka sendiri.

“Demi Allah! Bahkan untuk satu hari pun mereka tidak membawa kebaikan,” tandas Hasan.

Al-Hasan Al-Bashri atau Abu Sa’id Al-Hasan ibn Abil-Hasan Yasar Al Bashri, adalah ulama dan cendekiawan muslim yang hidup pada masa awal kekhalifahan Umayyah.

Al-Hasan adalah Maula Al-Anshari. Ibunya bernama Khairah, budak Ummu Salamah yang dimerdekakan. Dikatakan Ibnu Sa’ad dalam kitab tabaqat, Hasan adalah seorang alim yang luas dan tinggi ilmunya, terpercaya, seorang hamba yang ahli ibadah dan fasih bicaranya.

Ayahnya bernama Pirouz (kemudian dikenal sebagai Abul Hasan), yang menjadi budak pada zaman pemerintahan Khalifah Umar bin Al-Khattab. Dari kampungnya Pirouz kemudian dibawa ke Madinah sebagai seorang tawanan.

Pirouz dan seorang perempuan dari kampungnya, diberikan kepada Ummu Salamah. Lalu Ummu Salamah memberikan mereka berdua kepada saudara terdekat dia dan keduanya lantas menikah dengan tuan mereka dan dibebaskan.

Hasan Al-Bashri dilahirkan di Madinah pada tahun 21 Hijrah (642 Masehi). Dia pernah menyusu dengan Ummu Salamah, istri Rasulullah Saw. Pada usia 14 tahun, Al-Hasan pindah ke kota Basrah, Irak, dan menetap di sana. Dari sinilah Al-Hasan mulai dikenal dengan sebutan Hasan Al-Bashri.

Hasan kemudian dikategorikan sebagai seorang Tabi’in (generasi setelah sahabat). Hasan al-Basri juga pernah berguru kepada beberapa orang sahabat Rasulullah Saw. sehingga dia muncul sebagai ulama terkemuka dalam peradaban Islam.

Hasan Al-Bashri berguru pada para sahabat Nabi, antara lain: Utsman bin Affan, Abdullah bin Abbas, Ali bin Abi Talib, Abu Musa Al-Asy’ari, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah and Abdullah bin Umar. Al-Hasan menjadi guru di Basrah, (Iraq) dan mendirikan madrasah di sana.

Di antara para pengikutnya yang terkenal adalah Amr ibn Ubaid dan Wasil ibn Atha. Dia salah seorang fuqaha yang berani berkata benar dan menyeru kepada kebenaran di hadapan para pembesar negeri dan seorang yang sukar diperoleh tolak bandingnya dalam soal ibadah.

Dia menerima hadits dari Abu Bakrah, Imran bin Husein, Jundub, Al Bajali, Muawiyah, Anas, Jabir dan meriwayatkan hadits dari beberapa sahabat diantaranya ‘Ubay bin Ka’ab, Saad bin Ubadah, Umar bin Khattab walaupun tidak bertemu dengan mereka atau tidak mendengar langsung dari mereka.

Kemudian hadits-haditsnya diriwayatkan oleh Jarir bin Abi Hazim, Humail At-Thawil, Yazid bin Abi Maryam, Abu Al-Asyhab, Sammak bin Harb, Atha bin Abi As-Saib, Hisyam bin Hasan dan lain-lain.

Hasan al-Basri meninggal dunia di Basrah, Iraq, pada hari jum’at 5 Rajab 110 Hijrah (728 Masehi), pada umur 89 tahun.

Hasan adalah pendukung kuat nilai tradisional dan cara hidup zuhud, kehidupan duinia hanyalah perjalanan untuk ke akhirat, dan kesenangan dinafikan untuk mengendalikan nafsu. Dia merupakan tokoh sufi dalam islam. Khutbah-khutbah dia dianggap sebagai contoh terbaik dan terawal sastra Arab

(Vina – Berbagai Sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here